Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Kartyka Nababan

penyuka warna ungu dan penikmat komik detektif conan

Teori Atom

OPINI | 07 June 2013 | 17:02 Dibaca: 386   Komentar: 2   1

1370599112273084231

Teori Atom

Sangat sering, bahkan terlalu sering… Sebuah kata ini sudah ibarat udara yang selalu hadir bagi kita. Atom, kata yang pendek ini memiliki makna yang sangat ganda tergantung persfektif yang kita pakai. Mungkin bagi orang awam, kata ini berbahaya, erat kaitannya dengan “Bom”. Setidaknya itulah informasi yang aku peroleh ketika menyempatkan diri untuk bertanya kepada beberapa orang di sekitarku. Bahkan ada jawaban yang membuat aku merasa geli, logam. Well, aku tidak menyalahkan mereka, walau kuakui aku tersenyum masam juga karenanya.

Tokoh yang dikenal oleh khalayak sebagai pencetus teori atom adalah Dalton, walau sebenarnya aku beritahu sekarang, justru jauh sebelumnya oleh Democritus. Aku ulas sedikit mengenai Democritus (kira-kira 460-370 SM) yang telah memperkenalkan istilah atom untuk pertama kalinya. Dia berasal dari kota kecil Abdera di pantai utara Aegea. Democritus percaya bahwa perubahan- perubahan alam tidak mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa segala sesuatu sungguh-sungguh “berubah”. Oleh karena itu dia beranggapan bahwa segala sesuatu dibuat dari balok-balok tak terlihat yang sangat kecil, yang masing-masing kekal dan abadi, yang kemudian unit-unit terkecil ini dinamainya sebagai “Atom”.

Kata a-tom berarti “ tidak dapat dipotong ”. bagi Democritus adalah sangat penting menekankan bahwa bagian-bagian pokok yang membentuk segala sesuatu tidak mungkin dibagi secara tak terhingga menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Jika atom selamanya dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, alam akan hancur bagaikan sup yang kebanyakan air. Dia percaya bahwa semua atom itu keras dan padat. Namun mereka tidak mungkin sama, karena jika semua atom identik, maka kita akan bingung bagaimana atom – atom dapat menyatu untuk membentuk segala sesuatu sejak dari bunga madat dan pohon zaitun hingga kulit kambing dan rambut manusia.

Democritus percaya bahwa alam teridiri dari atom-atom yang jumlahnya tak terhingga dan beragam. Sebagian bulat dan mulus, yang lain tak beraturan dan bergerigi. Karena saling berbeda, mereka dapat menyatu menjadi bentuk yang berlainan, namun, meskipun jumlahnya tak terbatas, mereka semua kekal, abadi dan tak terbagi.

Jika sebuah benda —– sebuah pohon atau seekor binatang misalnya – mati dan hancur, atom-atomnya terurai dan digunakan lagi untuk membentuk benda-benda lain. Atom bergerak acak di angkasa, tetapi karena mempunyai “kait” dan “mata kait” mereka dapat menyatu untuk membentuk segala macam benda yang kita lihat di sekeliling kita. Tapi semua hal ini membuatku berpikir, sebuah atom Hydrogen dalam sebuah sel di ujung hidungku dulu pernah menjadi bagian dari belalai seekor gajah. Sebuah aton Carbon di otot jantungku pernah berada di ekor dinosaurus.

Namun berikutnya, para ilmuwan telah menemukan bahwa atom dapat di pecah menjadi “partikel elementer” yang lebih kecil. Kita menyebut partikel elementer ini proton, neutron dan elektron. Akan tetapi menurutku, mereka mungkin – suatu hari nanti, dapat dibagi menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi.

Aku tetap menganggap Democritus ajaib. Dia tidak memiliki peralatan elektronik modern. Satu-satunya peralatan yang dimilikinya adalah otaknya. Namun penalaran membuatnya tidak mempunyai pilihan. Begitu diterima bahwa tidak ada sesuatu yang dapat diciptakan dan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat hilang, maka kesimpulannya, alam terdiri dari balok-balok sangat kecil yang dapat menyatu dan memisah lagi.

Dan justru menurut Democritus, tidak ada “desain” yang disengaja dalam gerakan atom. Di alam segala Sesuatu terjadi secara mekanis saja. Ini berarti bahwa segala sesuatu terjadi secara acak, atau segala sesuatu mau tak mau mematuhi hukum-hukum yang pasti. Segala sesuatu terjadi mempunyai penyebab alamiah, yaitu penyebab yang menyatu dalam benda itu sendiri.

Teori atom juga menjelaskan persepsi indra kita, setidaknya itulah pemikiran Democritus. Jika kita merasakan sesuatu, itu karena gerakan atom di angkasa. Ketika aku melihat bulan, itu karena “atom-atom” bulan menyusupi mataku.

Mungkin akan timbul pertanyaan bagi kita, “ bagaimana dengan jiwa?” mestinya tidak mungkin ia terdiri dari atom, dari benda-benda material? Tentu saja mungkin. Menurut Democritus, jiwa terdiri dari “atom-atom jiwa” yang halus dan bulat. Jika seorang manusia meninggal, atom-atom jiwa terbang ke segenap penjuru, dan selanjutnya dapat menjadi bagian dari formasi jiwa yang baru. Tetapi bagiku, justru bagian inilah yang membuatku menjadi ragu. Ya, ragu dengan teori atom Democritus. Mungkin suatu saat nanti, akan ada teori yang bisa menjelaskan bagian atom dari “si jiwa” tersebut. Dan jika keadaannya sudah seperti ini, aku akan lebih suka kembali kepada kitabku.

Aku tidak menyalahkan siapapun. Sungguh!

Aku hanya – memiliki keyakinan tersendiri mengenai teori ini. Atau mungkin suatu saat nanti aku akan memiliki teori sendiri yang akan di bahas orang-orang. Walau saat ini aku harus ikut serta – wajib membahas teori Democritus, tapi suatu saat nanti, mungkin giliran teoriku yang wajib di bahas oleh orang lain.

Tulisan ini hanyalah segelintir dari teori atom yang sebenarnya “wajib” ku bahas – kujelaskan kepada murid-muridku. Well, masih banyak teori-teori atom yang menungguku, untuk kubahas bersama anak didikku.

“All is well”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: