Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Miqdam Shidqi

Bukan siapa-siapa! Menulis untuk belajar berceloteh dan menjadi jembatan bagi sesama...

Karyono, Surga di Atas Awan

REP | 04 June 2013 | 04:00 Dibaca: 332   Komentar: 0   0

1370293137851668244

Panorama Selo Belah

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung di Wonogiri, tepatnya di tiga kecamatan terpencil, Karangtengah, Tirtomoyo, dan Batuwarno atau biasa saya singkat dengan nama KARYONO. Kunjungan ini dalam rangka survey pengambilan data primer terkait beberpa aspek seperti, kondisi alam, kependudukan, sosial, ekonomi, hingga sarana dan prasarana yang ada. Inilah impresi saya setelah mengunjungi wilayah tersebut…

Ketika mendengar kata Wonogiri, mayoritas orang akan berpikir tentang sebuah Kabupaten di Jawa Tengah yang terbelakang, dengan masyarakat yang masih memegang tradisi jawa tulen. Persis seperti tayangan yang sering disiarkan di FTV oleh televisi swasta. Diperankan oleh pemuda-pemudi kampung yang memiliki wajah cukup menawan dan biasanya mereka dikisahkan merantau ke Jakarta dengan berjualan jamu. Apapun itu, sah-sah saja jika menjadi sebuah impresi awal seseorang, karena Wonogiri telah menjadi pemberitaan media yang belum tuntas.

Wonogiri, dalam bahasa kawi atau jawa kuno berasal dari kata “wono” yang berarti hutan, dan “giri” yang berarti bukit. Artinya, kata Wonogiri tepat jika digunakan untuk menggambarkan wilayahnya yang mayoritas berbukit-bukit dan masih terselimuti oleh hijaunya hutan. Termasuk tiga kecamatan di dalamnya, yang menjadi kawah candradimuka untuk kami amati dan telusuri lebih dalam alias survey, yaitu Kecamatan Batuwarno, Karangtengah dan Tirtomoyo. Ketiga kecamatan tersebut memiliki letak geografis yang berdampingan, sehingga cenderung memiliki kesamaan karakteristik, walaupun masing-masing tetap memiliki ciri dan keunikan yang berbeda. Sehingga sangat menarik, jika dijadikan sebagai obyek penelitian.

Sekilas, bila ketiga kecamatan tersebut dibandingkan, Kecamatan Tirtomoyo memiliki wilayah paling luas yang terbagi menjadi 14 desa/kelurahan, jumlah terbanyak karena Batuwarno terdiri dari 8 desa/kelurahan, sedangkan Karangtengah hanya terdiri dari 5 desa/kelurahan. Ketinggian tempat yang sebagian besar di atas 500 meter dpl, menjadi ciri umum dari ketiga kecamatan tersebut. Sehingga ketika petang menjelang, kabut mulai menemani gelapnya malam. Topografi dari ketiga kecamatan tersebut hampir sama, dengan kelerengan yang sama-sama beragam antara 0-45% untuk Tirtomoyo, dan 15-45% untuk Batuwarno dan Karangtengah. Sehingga medan yang ditempuh untuk menelusuri pelosok wilayah tergolong sulit dan terkadang menimbulkan longsor dibeberapa tempat, meskipun tidak menimbulkan kerugian yang besar. Hanya Kecamatan Tirtomoyo, yang pusat kotanya memiliki kelerengan tergolong datar, sedangkan dua kecamatan lainnya tergolong berkontur rapat. Morfologi dari ketiga kecamatan juga berbukit-bukit, seolah menjadi bukti bahwa wilayah tersebut merupakan deretan perbukitan karst.

Sebagian besar penggunaan lahan di ketiga kecamatan tersebut digunakan untuk aktifitas pertanian, Kecamatan Tirtomoyo sebagian besar digunakan untuk tegalan, begitu pula dengan Batuwarno dan Karangtengah. Dari ketiga kecamatan tersebut, Tirtomoyo memiliki area persawahan terluas, karena sebagian wilayahnya memiliki morfologi yang datar. Beberapa hutan milik pemerintah juga masih eksis di ketiga kecamatan tersebut, sehingga flora dan fauna asli juga terlindungi di dalamnya, seperti macan, babi hutan, ular, kera dan binatang lainnya. Sehingga kondisi perbukitan karst, berbatu dan terkesan gersang, seolah terselimuti oleh hijaunya hutan dan area pertanian yang luas.

Pola perkembangan permukiman yang terbentuk di ketiga kecamatan cenderung linier karena mengikuti pertumbuhan ruas jalan. Pertumbuhan pemukiman baru juga memiliki persentase yang rendah, karena minimnya migrasi masuk di masing-masing wilayah. Beberapa kepadatan pemukiman hanya berada di pusat perkotaan masing-masing kecamatan.

1370292657932429557

Hijaunya hamparan lahan disambut hangat oleh mayoritas pekerjaan masyarakat yang juga bertani. Baik sebagai buruh, maupun pemilik lahan, ataupun pekerjaan lain, yang juga berhubungan dengan dunia pertanian. Pada ketiga kecamatan tersebut, mata pencaharian sebagai petani maupun buruh tani masih mendominasi mayoritas pekerjaan masyarakat. Kesamaan tersebut menjadikan keeratan hubungan antar masyarakat, kerja bakti mingguan seolah menjadi kebiasaan rutin tanpa komando. Pembersihan saluran drainase dan pemangkasan tanaman di kanan-kiri jalan sangat lekat, seolah telah menjadi jawaban dan tanggung jawab mereka merawat atas apa yang telah diberikan pemerintah. Bukan hanya orang tua, namun juga anak-anak turut bergotong royong sembari menjadi simbol kerukunan dan kekeluargaan yang tinggi walaupun hidup ditengah keterbatasan. Bayangkan saja, beberapa keluarga memiliki penghasilan dibawah lima ratus ribu per bulan, namun mereka dapat survive. Sangat kontras bila disandingkan dengan kebiasaan hidup mahasiswa yang cenderung lux dan mendekati hedonis. Jangankan untuk melanjutkan kuliah, melanjutkan ke tingkat SMP dan SMA saja masih dianggap berat. Sehingga sebagian besar penduduk di ketiga kecamatan hanyalah tamatan SD, meskipun akhir-akhir ini terjadi kenaikan jumlah lulusan SMP dan SMA tiap tahunnya. Adapula satu atau dua pemuda melanjutkan kuliah, namun itu hanya sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan keseluruhan dari jumlah penduduk.

Kondisi ekonomi masyarakat yang minim tidak menyurutkan semangat untuk bekerja dan berusaha. Beberapa usaha dan industri kreatif juga muncul di tengah keterbatasan mereka. Seperti halnya industri pembuatan batik yang ada di Kecamatan Tirtomoyo walaupun dalam skala kecil. Industri pembuatan batu-bata dan meubel juga menjadi pekerjaan sebagian penduduk Tirtomoyo. Untuk penduduk di Kecamatan Batuwarno juga memiliki beberapa usaha dan industri kreatif seperti pembuatan makanan ringan (snack), kerupuk, meubel, pemotongan kayu, pembenihan anggrek, serta peternakan kambing dan sapi. Tak kalah dengan kedua kecamatan tersebut, Kecamatan Karangtengah dianugerahi kondisi tanah yang subur, sehingga usaha pengeringan janggelan, serta beberapa bahan baku jamu banyak dijumpai. Ketiga kecamatan tersebut masing-masing memiliki industri yang hampir sama yaitu pembuatan tempe dan tahu skala rumahan, yang hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal masing- masing kecamatan saja. Belum ada upaya untuk mengembangkan usaha hingga mampu mengekspor hasil produksi ke kecamatan lain.

Berada di daerah pinggiran, jauh dari pusat kota dan berbatasan dengan Provinasi Jawa Timur tidak menjadikan ketiga kecamatan memiliki sarana dan prasarana yang bagus. Karena memang ketiga kecamatan bukan merupakan akses utama Kabupaten Wonogiri atau Provinsi Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Sebagian besar jalan yang diprediksikan layak, ternyata justru sebaliknya ketika dijumpai di lapangan. Jalanan tampak rusak, berlubang, bahkan ada yang masih berbatu maupun hanya bercor kanan-kiri dengan bagian tengah yang masih berbatu. Itulah kondisi akses jalan penghubung desa di ketiga Kecamatan tersebut. Sedangkan jalan penghubung antar kecamatan yang cukup lebar dan terawat hanya jalan Batuwarno-Baturetno dan Tirtomoyo-Wonogiri. Sedangkan jalan penghubung Batuwarno-Karangtengah dan Tirtomoyo-Batuwarno terdapat beberapa kerusakan dan lubang yang belum diperbaiki.

Air bersih dari ketiga kecamatan tersebut secara umum baik, Tirtomoyo mengandalkan sumur gali, bor maupun Pamsimas untuk mencukupi kebutuhan air. Karangtengah menggunakan Pamsimas dan sumber mata air yang dikelola warga, serta Batuwarno memiliki pasokan air dari PDAM, Pamsimas, maupun sendang atau mata air yang dikelola warga. Hanya terdapat beberapa desa di masing-masing kecamatan yang mengalami kekeringan di musim kemarau, namun telah mendapat bantuan tanki air bersih dari pemerintah daerah.

Jaringan listrik di wilayah tersebut juga telah menjangkau hingga pelosok desa, hanya terdapat beberapa rumah di Karangtengah dan Batuwarno yang sulit dijangkau oleh kabel listrik. Namun masalah tersebut telah terpecahkan oleh Kementerian ESDM dengan memberikan bantuan berupa panel surya. Sedangkan untuk jaringan telekomunikasi, sebagian besar masyarakat menggunakan telepon seluler. Sinyal operator mampu menjangkau seluruh wilayah, meskipun tiap desa berbeda operator. Namun secara umum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk berkomunikasi. Kondisi persampahan yang ada, sebagian besar masih dibakar secara individu, hanya sebagian kecil desa yang mulai mengelola sampah untuk dijadikan pupuk. Namun pembakaran sampah ini tidak mengganggu dan menimbulkan masalah karena volume sampah yang ada masih tergolong kecil.

Selain infrastruktur, pemerintah juga berkewajiban memenuhi fasilitas yang ada di seluruh penjuru tanpa memberikan kesenjangan. Fasilitas pendidikan dan kesehatan dipandang sebagai dua fasilitas utama yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Fasilitas pendidikan di ketiga kecamatan cukup baik dalam segi fisik dan persebarannya, mulai dari tingkat paud hingga SMP. Sedangkan untuk fasilitas pendidikan di tingkat SMA hanya terdapat di Kecamatan Tirtomoyo, dengan 2 unit SMA dan 1 unit SMK. Sedangkan pemuda di Karangtengah dan Batuwarno memilih melanjutkan SMA di Kecamatan Tirtomoyo maupun Baturetno, tergantung jarak terdekat dari masing-masing rumah. Fasilitas kesehatan juga bermacam-macam, untuk tingkat desa terdapat Posyandu dan Pustu, sedangkan Puskesmas berada di pusat Kecamatan. Apabila fasilitas tersebut tidak mampu melayani, pasien dirujuk ke Baturetno maupun Wonogiri Kota karena memiliki skala pelayanan yang lebih besar. Fasilitas olahraga yang tersebar di masing-masing Kecamatan beraneka ragam mulai dari lapangan voly hingga lapangan sepakbola yang rutin digunakan tiap hari maupun tiap minggu. Sebagian besar masyarakat di ketiga Kecamatan tersebut memeluk agama Islam, sehingga langgar, mushala, dan masjid terdapat di masing-masing desa. Sedangkan gereja terdapat di Kecamatan Tirtomoyo berjumlah 5 unit dan 1 unit terdapat di Kecamatan Batuwarno.

Perekonomian yang berjalan didukung dengan adanya Pasar di masing-masing kecamatan, selain itu di pusat perkotaan kecamatan juga terdapat toko bangunan, bank, hingga toko kelontong. Sedangkan penggerak perekonomian di masing-masing desa terdapat koperasi simpan pinjam dan warung yang menyediakan kebutuhan harian.

1370293060514457547

Bendungan Ngancar

Disamping potensi yang telah disebutkan di atas, Tirtomoyo, Karangtengah dan Batuwarno memiliki potensi besar lainnya untuk dikembangkan. Seperti halnya Tirtomoyo yang terdapat tambang emas, namun kadarnya kecil, sehingga kurang menarik investor. Beberapa obyek wisata juga memiliki panorama yang menawan. Kahyangan dan Selo Belah merupakan dua tempat wisata yang populer akan goa dan air terjunnya. Tempat yang terselimuti awan tersebut juga dikenal masyarakat untuk bertapa mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Bahkan, ada bendungan yang memiliki panorama indah, namun belum dikelola. Ketiga kecamatan tersebut memiliki wilayah yang tinggi, serta morfologi yang berbukit menjadikan beberapa lokasi bagaikan surga di atas awan. Kekurangan yang ada hanyalah perlunya perbaikan infrastruktur berupa jalan, serta pemberdayaan masyarakat untuk mengolah hasil alam mereka menjadi produk jadi maupun setengah jadi, sebelum dijual ke luar daerah. Sehingga hal tersebut dapat menyerap tenaga kerja di tiga kecamatan tersebut.

1370292935545797402

salah satu sudut Kec. Karangtengah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 3 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 13 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 14 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Florence, Anda Ditahan untuk 20 Hari …

Farida Chandra | 8 jam lalu

Deddy Corbuzier Bikin Soimah Walkout di IMB …

Samandayu | 8 jam lalu

Semua Gara-gara Air Asia …

Rinaldi | 8 jam lalu

Negeri Berutang …

Yufrizal | 8 jam lalu

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan …

Alexander Aur | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: