Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Dewa Gilang

Single Fighter!

Pindah Agama, Siapa Takut?

OPINI | 02 June 2013 | 13:16 Dibaca: 733   Komentar: 28   7

Hingga detik ini saya masih memegang keyakinan bahwa pilihan seseorang akan suatu agama, pada awalnya, bukanlah pilihan yang bebas. Dengan artian, tempat lahir, warna kulit, bahasa dan -bahkan- agama, merupakan realitas primordial yang harus diterima oleh seseorang, bukan didapat oleh hasil jerih upayanya sendiri.

Tetapi, saya juga tak mengingkari fakta bahwa, dalam perkembangannya kemudian seseorang sangat mungkin untuk berpindah agama. Faktor-faktor sosial seperti tempat tinggal, lingkungan, pergaulan, dan juga faktor penalaran kritis terhadap kitab suci bisa disebut sebagai penunjang seseorang untuk mengganti indentitas agamanya.

Dengan demikian perpindahan agama adalah keniscayan dan kewajaran bagi setiap individu. Karenanya hampir semua agama membahas mengenai perpindahan agama.

Islam, sebagai agama, juga membahas mengenai perpindahan agama, dengan istilah “riddah”, dan pelakunya disebut dengan “murtad”. Demikian pula dengan hukum-hukum yang berkaitan dengan para pelaku “riddah” (murtad).

Jika kita merujuk kepada Alquran al-Karim sebagai sumber primer dari Islam, maka hukuman bagi pelaku “riddah” hanya kembali kepada dua hal, yakni pahala amal baiknya dihapus, seperti yang telah dijelaskan dalam QS: Al-Baqarah: 217, dan Allah akan mengganti kaum murtad dengan kaum lain yang lebih baik seperti dapat ditemui dalam QS: Al-Maidah: 5.

Tak ada dalam Alquran ditemukan hukum spesifik bersifat duniawi, seperti hukuman mati, dalam Alquran. Hal ini disebabkan Islam sangat menjunjung tinggi asas kebebasan berkeyakinan dan keber-agama-an. Keimana dan ke-Islaman adalah masalah keyakinan hati yang bebas sesuai dengan pilihan manusia. Tak ada paksaan terhadap seseorang untuk memilih serta memeluk agama tertentu -atau bahkan tidak mempercayai eksistensi Tuhan sekalipun.

Ketiadaan hukuman bersifat fisik bagi pelau “riddah” juga ditegaskan oleh fakta historis. Di zaman Nabi Saww, Abdullah bin Jahsy murtad pasca hijrah ke Abenasia (Ethopia), dan Nabi tidak menjatuhi hukuman mati terhadapnya. Demikian pula dengan Harits bin Suwaid al-Anshari yang memutuskan pindah dari Madinah ke Mekkah-pun mengalami perlakuan yang sama, yakni tak dijatuhi hukuman mati.

Sehingga keberadaan hukuman mati bagi para pelaku murtad wajib untuk dipertanyakan dan dikritisi kembali. Meski ada yang memijakkan pendapatnya pada hadis Nabi Saww sekalipun. Karena hal itu sangat bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang sangat menghargai kebebasan berkeyakinan.

Dengan membaca pesan-pesan Alquran yang menjamin kebebasan beragama bagi seseorang, maka saya memandang bahwa perpindahan agama bukan suatu perkara yang perlu dirisaukan dan sangat wajar terjadi. Dan saya menghargai setiap orang yang mengganti keyakinan agamanya.

Sebaliknya, saya justru tidak menaruh hormat terhadap orang-orang yang telah mengganti agamanya namun bersikap menjelek-jelekkan agamanya yang terdahulu. Bagi saya orang itu tak lebih dari seseorang yang pindah kerja, namun-setelah pindah- justru menjelek-jelekkan tempat kerjanya yang terdahulu. Bagi saya mereka adalah orang-orang yang memang telah menyimpan kedengkian jauh di lubuk hatinya.

Jadi, siapa takut pindah agama?

Gitu aja koq repot!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 9 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 10 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 10 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Menerobos Batas Kelam …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Nangkring Cantik: I am Beautifull …

Elisa Koraag | 8 jam lalu

Wanita dalam Sebuah Keluarga …

Aulia Fitrotul | 8 jam lalu

Mama, Pak Melmi Masuk TV …

Cay Cay | 8 jam lalu

Teman Datang saat Butuh Saja? …

Ois Meyta Rahayu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: