Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Irfan Aulia

Psikolog - Mengajar Psikologi di Kampus Jayabaya - Konsultan Perusahaan untuk SDM - sedang menyelesaikan selengkapnya

Butuh Kompas Kehidupan? Mudahkan dengan Sholat Istikhoroh

REP | 01 June 2013 | 06:56 Dibaca: 304   Komentar: 0   0

Di keseharian seringkali saya temukan penggunaan sholat istikhoroh pada momen ketika ada seseorang yang mau menikah. Biasanya ketika mereka datang ke kawan, ustadz, orang tua, sanak kerabat dan orang orang yang dianggap pas untuk memberikan wejangan sebelum memutuskan ya atau tidak. Saran sholat istikhoroh menjadi salah satu saran yang sering didengar.

Artikel ini tidak membahas hukum sholat istikhoroh. Artikel ini hanya ingin membahas pengalaman dan pembacaan mengenai manfaat bagi yang melakukan yang ternyata membuka mata penulis bahwa pemakaian sholat istikhoroh itu begitu luas dan luar biasa.

Misalnya, penulis pernah membaca sebuah artikel mengenai M. Natsir, saat ia ditanya mengapa ia ikut menandatangani petisi untuk Soeharto yang mengakibatkan beberapa hal kurang baik (dalam pandangan orang) menimpanya. Ia menjawab dengan mantap karena sebelum tanda tangan, saya sudah sholat istikhoroh. Saya jadi berpikir mantap kali bila ini jadi kebiasaan para politisi, pegawai negeri, kepala daerah, pegawai BUMN, dan semua pelayan publik negeri ini.

Contoh lainnya adalah misalnya seorang ulama ahli mengumpulkan hadits bernama Imam Bukhari. Dalam satu artikel mengenai dirinya, saat ia akan menuliskan hadist dalam kitabnya, ia melakukan sholat dua rakaat, istikhoroh minta petunjuk kepada Allah. Begitu terasa mantap, ia akan menuliskan.

Kedua contoh ini jadi penegasan bagi diri saya, bahwa sholat istikhoroh itu begitu luas dan sangat penting dipakai dalam kehidupan. Berkaca dari inspirasi cerita ini, penulis sering membiasakan saat punya rencana, setelah dituliskan, lalu sholat dua rakaat untuk minta petunjuk kira kira mana yang paling tepat. Yang paling terasa itu adalah ketenangan muncul. Dalam ilmu psikologi yang saya pelajari, kemunculan rasa tenang merupakan salah satu indikator anda bisa mudah mengatasi masalah.

Begitu saja mungkin sharing nya

moga bermanfaat

Salam hangat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 8 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: