Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Marlistya Citraningrum

penulis amatir. currently serving as monev officer at Indonesia Mengajar.

Saya Mau Mendirikan “Institute of Common Sense”

OPINI | 28 May 2013 | 15:39 Dibaca: 320   Komentar: 12   8

Bapak dan ibu saya dua-duanya guru, dan saya pernah diajar oleh bapak di sekolah, namun ketika di rumah, saya melihat sisi lain dari mereka.

Sisi orangtua dengan common sense yang sulit dicari bandingannya. Memangnya common sense apa sih? Kalau berbicara soal definisi, saya paling tidak bisa mengungkapkannya dengan ringkas. Tapi saya memilih satu pendekatan, pay attention to the obvious. Ya maksudnya, dengan melihat atau berada dalam situasi XXX, misalnya, kita tahu harus berbuat apa, tanpa ada instruksi dari pihak luar.

Kenyataannya memang common sense itu tidak common banget. Entah saya yang terlalu ribet atau orang lain yang terlalu cuek. Dan faktor lingkungan besar perannya.

Contoh ya. Saat pulang ke Indonesia, saya melewati jalan tol ke arah Jakarta. Menjelang masuk kota, dua mobil di depan, saya melihat jendela terbuka sedikit, ada tangan menjulur keluar, lalu ada bungkus Chiki atau entah apa, melayang keluar. Saya membatin, kalau penumpang mobil itu penduduk Jakarta dan sering komplain kenapa Jakarta sering banjir, kayaknya perlu dikasih kaca segede lapangan bola biar bisa melihat tingkah lakunya sendiri.

Membuang sampah pada tempatnya itu common sense bukan?

Harus dijadikan aturan dan dipasang banyak peringatan serta tempat sampah dimana-mana karena banyak yang seenaknya?

Contoh kedua. Mengantri di kasir supermarket. Ada seorang ABG di depan saya, dengan belanjaan segunung. Si ABG SMS-an atau entah apa, asyik dengan telepon genggamnya, yang bling-bling dan suaranya tang ting tang ting berisik (penanda pesan masuk). Sekian menit kemudian, saat kasir sudah selesai menghitung dan meminta uang pembayaran, eh si ABG, dengan mata tidak beranjak dari layar teleponnya, memberi tanda dengan telunjuk sambil mengatakan “sebentar ya mbak”. Tidak sadar kalau saya sudah pengen mendamprat dia sejak tadi. Tidak sadar kalau ada 10 orang di belakangnya.

Saya mengingatkannya. Dengan wajah saya yang judes by default dan intonasi suara yang tidak kalah judesnya. Si ABG melotot sedikit dengan muka cemberut. Ya salah situ. Enak aja.

Contoh ketiga. Masih di supermarket. Sewaktu bertualang (*halah banget bahasanya) mencari cemilan, saya melihat sekotak telur diletakkan begitu saja di rak deretan makanan ringan. Ini sering terjadi, batal membeli, bukannya mengembalikan barangnya ke tempat semula, malah ditinggalkan seenaknya. Padahal telur sebaiknya disimpan di pendingin.

Tiga hal ini diajarkan di sekolah atau tidak? Yang pertama mungkin, yang kedua dan ketiga bisa jadi tidak.

Inti tulisan saya adalah, sementara sekolah mengajarkan kita dengan berbagai ilmu dari teks yang dihafal berulang-ulang, bahwa murid yang baik harus begini dan begitu, bahwa moral yang baik adalah ini dan itu, bahwa melakukan ini bisa melanggar norma itu; common sense itu didapat dari apa yang kita lihat. Yang kemudian merujuk pada: teladan. Teladan dari mana: dari lingkungan sekitar, dari orang lain.

Ini juga yang tidak banyak disadari, baik dari segi “pengajar” atau si pemberi teladan (katakan, orangtua atau guru) dan si “murid”, yang melihat. Wong saya awalnya juga tidak sadar kalau saya sedang “diajari” oleh orangtua. Di rumah, orangtua saya tidak pernah menyuruh saya membuang sampah pada tempatnya. Tidak pernah menyuruh saya membantu mereka yang kurang beruntung. Mereka mencontohkan.

Ibu selalu menyapu setiap hari, tempat sampah di rumah juga dipisahkan mana untuk plastik mana untuk sampah basah. Bapak selalu berusaha membeli koran dari loper atau sekotak pensil dari anak kecil pedagang asongan di bis. Bapak dan ibu punya banyak teman dan panutan yang agamanya berbeda-beda. Selesai cuci piring, air pembilas di baskom dibuang, supaya tidak menjadi sarang nyamuk.

Masih banyak contoh lainnya.

Itu ada di pelajaran di sekolah, misalnya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Tapi bapak dan ibu “mengajarkannya” dengan cara lain. Tenggang rasa, toleransi, penghormatan pada lingkungan, semuanya bisa dibalut dengan kata-kata cantik, tapi kita sering tidak sadar kalau tindakannya dimulai dari hal-hal kecil yang justru luput diajarkan.

Maka tidak heran juga common sense itu tidak common. Lalu mulai muncul logika ngawur seperti “di undangan jam 8 acaranya baru mulai jam 9”, ada ibu hamil berdiri di bus dibiarkan malah kita pura-pura tidur dan berpikir “nanti juga ada yang membantu”, “gapapa, bungkus permen kan kecil, ga menyebabkan selokan tersumbat kok” saat seenaknya buang sampah.

Ini bisa menjalar ke kebiasaan lain yang “tidak sepele” dan bisa berpotensi “merusak” lho. Contoh. Ada remaja China yang berwisata ke Mesir lalu mencoret “XXX was here” di salah satu kuil kuno di Mesir (baca di sini). Tulisan ini tidak bisa dihapus karena berpotensi merusak ukiran di dinding kuil yang umurnya ribuan tahun. Piye jal? Jadi berita internasional pula. Lain contoh. Kalau di kampus Taiwan, ada yang namanya labmeeting, pertemuan mingguan antara semua mahasiswa di lab dengan pembimbing untuk melaporkan progress. Ada tidak ada progress, tentu wajib datang untuk bisa tahu perkembangan mahasiswa lain. Eh, ada yang dengan seenaknya menyimpulkan, “kalau tidak ada progress ya tidak usah datang”. Mirip dengan “kalau tidak ada kepentingan, tidak usah datang”, tapi di sini dia terlalu egois menyimpulkan “tidak berkepentingan” dengan “tidak berhubungan dengan penelitian saya sendiri”.  Padahal satu lab itu seperti keluarga, dan labmeeting itu seperti kumpul bersama.

Sudah. Kayaknya memang Institute of Common Sense itu perlu didirikan.

Daaaaaa,

XOXO,

-Citra

P.S. Kata orang bijak, orangtua itu harusnya memberi kail, bukan ikan. Permisi, mau SMS bapak-ibu dulu, berterima kasih karena memberi saya kail.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 4 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 11 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 11 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: