Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Tri Lokon

menyukai fotografi, traveling, sastra, kuliner, menulis, dan wisata

Sembilan Remaja Tewas Tenggelam di Pantai Kawis, Tanggung Jawab Siapa?

OPINI | 27 May 2013 | 22:16 Dibaca: 1106   Komentar: 3   2

13696673512012387190

Jangan Ditiru, Safety First (dokpri)

Berita tewasnya 9 remaja GMIM Sentrum Tondano di Pantai Kawis, Desa Tulap, Kecamatan Kombi Minahasa, pagi ini masih menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Media lokal cetak dan on line, pagi ini menurunkan peristiwa naas itu sebagai Headline News.

Iklan Turut berdukacita atas peristiwa sedih itu dari Pemerintah, Gereja, dan ormas ikut mengharukan suasana berita pagi ini. Kisah sedih dari kerabat keluarga korban pun menghiasi halaman demi halaman koran lokal. Tak urung, menambah panjangnya duka. Termasuk riuhnya komentar dan tanggapan dari pihak pemerintah, gereja, kepolisian dan teman-teman para korban.

Menyimak kejadian itu, lalu saya bertanya dalam hati apa dan mengapa tewasnya 9 remaja itu begitu menghebohkan dan dibicarakan di mana-mana?

Rasa ingin tahu bercampur rasa penasaran serta rasa iba yang mendalam membuat hati ini miris. Betapa tidak? Saya mencoba mengumpulkan fakta berikut ini untuk menuntut ketegasan dari pemerintah dan masyarakat.

Ibadah Wisata

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Minahasa dan sekitarnya, bahwa liburan, khususnya yang jatuh di Sabtu, dimanfaatkan untuk kegiatan pesiar bersama ke objek-objek wisata. Tak sekedar berwisata, tetapi diisi dengan ibdah padang atau ibadah wisata. Setelah ibadah, acara diteruskan dengan perjamuan kasih makan dan kemudian rekreasi.

Demi kebersamaan berjemaah itulah, ke 9 remaja ikut rombongan wisata ke Pantai Kawis (berdekatan dengan Pantai Kora-Kora) Pantai Utaranya Sulawesi Utara. Banyak nama pantai di jalur Utara itu. Saya sendiri pernah berwisata ke Tanjung Merah, Pantai Kema, Pantai Batu Nona, Pantai Triple M, Pantai Makalisung dan masih banyak pantai lagi.

Karakter Pantai

Karakter dari pantai-pantai Utara itu, menurut pengamatan saya, sebenarnya biasa-biasa saja. Namun pasir pantainya yang lembut berwarna coklat kehitam-hitaman, menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan lokal. Sekitar bibir pantai, ditumbuhi pohon kelapa dan pohon lain yang berfungsi untuk berteduh dan warung kecil.

Di dekat pantai Kema, pantainya berbatu karang tetapi memiliki savana padang rumput yang indah dan view laut biru Sulawesi (Celebes Sea) yang menawan dan kadang terlihat kapal besar penumpang dan barang yang akan berlabuh di Bitung.

Pantai Utara Sulawesi ini tergolong pantai pasang surut. Ketika surut kadang terlihat batu karang yang menggoda untuk dijadikan tempat bermain. Namun jika pasang tiba sekitar jam tiga, ombak lautan lepas itu memang menakutkan.

Karena sering dikunjungi wisatawan lokal, masyarakat memfasilitasi pengunjung dengan membuat sabuah/pondok dari bambu beratapkan daun katuk kering. Sabuah ini kadang dipakai untuk ibadah.

Setiap rombongan wisata, seperti group saya dulu, dipungut per mobil Rp. 50.000,- sepeda motor Rp. 10.000,- tanpa diberi karcis karena sifatnya dikelola oleh penduduk sekitar pantai. Tentu saja tanpa diberi karcis berasuransi kecelakaan.

Peristiwa Naas

Setelah ibadat wisata selesai, rombongan jemaah GMIM Sentrum Tondano melanjutkan dengan rekreasi di pantai dan beberapa mencoba berenang karena saat itu pantai sedang surut. Namun tiba-tiba mereka terseret ombak laut pasang yang datang tanpa disadari lebih dahulu hingga ke tengah lautan (sekitar 100m dari pantai)

Teriak minta tolong membuat panik semua. Salah satu dari sembilan korban tewas itu adalah temannya yang berusaha menolong teman-temannya yang tenggelam. Upaya menggunakan bambu panjang, tak membuahkan hasil.

Korban lalu dievakuasi dengan menggunakan bak pick up menuju ke rumah sakit di Tomohon yang jaraknya cukup jauh juga lebih dari satu jam perjalanan.

Pelajaran Bagi Kita Semua

Hampir semua pantai di Sulawesi Utara itu indah dan dijadikan sebagai objek wisata yang kalau hari libur dikunjungi banyak wisatawan. Sebelumnya, pernah terjadi peristiwa serupa. Di Bunaken, ada turis asing meninggal saat diving. Rombongan anggota DPR juga tenggelam hingga tewas gara-gara kapalyang mengantar pulang dari Bunaken dihempas ombak hingga pecah di Pantai Manado.

Saya mempunyai pengalaman menarik ketika membawa rombongan pelajar dari Jurong Junior College Singapore berwisata ke Bunaken. Ketika akan naik perahu dan di perahu tak ada jaket pelampung, tamu dari Singapore itu membatalkan untuk melanjutkan wisata laut. Alasannya tak ada jaminan yang jelas tentang keselamatan mereka.

Standar keselamatan di Indonesia memang kalah dengan Singapore atau Malaysia. Hampir di objek-objek wisata pantai di Indonesia belum menggunakan standar keselamatan, dan itu membuat tidak aman dan nyaman bagi wisatawan.

Diperlukan perda atau peraturan yang melindungi dan menjamin keselamatan setiap wisatawan, termasuk kenyamanannya juga. Standard keselamatan itu antara lain tersedianya jaket pelampung, penjaga pantai, papan-papan tanda bahaya, pelatihan security system bagi penduduk yang tinggal di pantai. Juga ketentuan bahwa setiap objek wisata diwajibkan memberikan pelayan asuransi keselamatan jiwa. Pengecekan kelayakan pemakaian fasilitas wisata secara rutin diawasi.

Meski demikian, kesadaran masyarakat tentang keselamatan diri perlu terus-menerus diingatkan. Soal kesadaran ini memang masih jauh dari mudah seperti kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Kadang jaket pelampung sudah ada di perahu namun wisatawan enggan menggunakan. Alasannya, merepotkan saja.

Akhirnya, siapa yang bertanggungjawab tewas 9 remaja yang dua di antara mereka baru saja gembira karena lulus Ujian Nasional? Yang bertanggungjawab atas kematian 9 remaja itu menurut saya adalah pemerintah karena tidak “becus” menjamin dan melindungi keselamatan jiwa para remaja yang sebenarnya ingin bahagia tetapi berbuah duka selama-lamanya.

Our First Priority Safety and Your Priority Safety.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 7 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 10 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: