Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Lalan Rupawan

tulis aja mikir belakangan

Jodoh Membawamu kle Pulosari

OPINI | 26 May 2013 | 06:07 Dibaca: 248   Komentar: 4   1

Aspal ini memang belum berujung , tapi kelebarannya semakin menyempit dan aku merasa sudah berada di ujung dunia . Berulang kali melirik peta atau tepatnya gambar penunjuk jalan menuju lokasi pernikahan seorang kawan lama , tak ada yang baru …. Belok kiri , belok kanan , sawah , gedung sekolah semua sudah terlewati , kendaraan kendaraan lain yang dua jam lalu membuat macet jalanan sudah tak terlihat , semua semakin mengerucut , kendaraan dengan tujuan kecamatan yang sama mengerucut menjadi kelurahan yang sama , kampung yang sama dan kemudian tujuan yang sama yaitu menghadiri pernikahan kawan lama …. Kami sudah berada di puncak kerucut , ya dan memang kami sudah berada di puncak kerucut gunung Pulosari .

Sudah puluhan turunan , sudah puluhan tanjakan dengan sudut diatas 45 derajat , beberapa kali ban belakang selip atau terpeleset ke samping , seven seater yang dikemudikan Udin seperti sudah hampir menyerah meski udin masih terlihat gagah dengan kaca mata hitam diangkat ke atas jidat dan djie sam soe yang tak berhenti mengepulkan asap nikotin yang seperti ingin menambah ketebalan kabut Pulosari.

————

Gunung Pulosari menurut mitos yang didengar dari para tetua setempat adalah gunung yang lebih tua dari Krakatau dan jika Krakatau batuk batuk atau bererupsi maka di pulosaripun ada aktifitas tektonik . gunung ini terletak di kabupaten pandeglang dan bisa ditempuh melalui beberapa jalur pendakian yaitu melalui Mengger – Mandalawangi – Cisata – Pulosari , Menes – Pulosari .

———–

Hari ini kami melalui jalur lain dengan tujuan menghindari macet akibat betonisasi jalan di pandeglang , perjalanan kami mulai dari Serang , di perempatan Palima mengambil belokan ke kanan menuju  Ciomas menyusuri kaki Gunung Karang sebelah utara melingkar ke barat . dari awal perjalanan kami disuguhi pemandangan Gunung Karang yang indah dengan sisi kiri dan kanan sawah atau kolam kolam ikan , perjalanan mulai diwarnai turunan dan tanjakan setelah memasuki kecamatan Mandalawangi pemandangan semakin beragam dengan sungai berair jernih dan hutan hutan dengan pohon besar . memasuki kecamatan Cisata kontur jalan semakin terjal , hutan semakin rapat dan jarak antar kampung menjadi semakin jauh .

Makam keramat Sang hyang Dengdek di sebelah kanan dan hutan sengon di sebelah kiri tanjakan terjal di depan , sengon berganti kebun melinjo bercampur durian lalu kebun cengkeh dan puncak Pulosari semakin jelas , udara segar dan sejuk masuk dari jendela mengusir bau asap rokok , semua terbangun oleh gemericik air yang mengalir dimana mana , yaaa sumber air pegunungan yang di kota dijual dengan botol dan cup plastik , disini mengalir tak terhingga .

Tak ada bau knalpot tak ada berisik klakson , yang ada cuma hijau , sejuk , gemericik air dan kicau burung . wangi cengkeh yang tertiup angin pegunungan betul betul merefresh semua sel di tubuh , segar indah …. tapi sayang sinyal selularpun nihil , maklum kami sudah berada di kampung Kadu Ranggon , kampung terakhir menuju puncak Pulosari .

Tak ada gadis berhot pants dan tank top , yang ada gadis berkerudung dengan mata jernih , kulit bersih , maklum air yang mereka pakai untuk mandi  bukan air PDAM berkaporit atau air tanah yang sadah , tapi air yang mengalir alami dari sumber air tanpa bantuan alat apapun selain selang setengah inci yang pasang begitu saja di penampungan air diatas kampung….. rupanya ini yang menambat hati kawan kami .

Sayang sekali tujuan kami hari ini adalah menghadiri pernikahan kawan lama dan cuaca hujan sehingga tak bisa mengabadikan pemandangan indah itu , tapi suatu saat kami akan kembali dengan tujuan hiking sampai kawah di puncak Pulosariyang kabarnya cuma perlu mendaki selama 3 - 4 jam lagi dari Kadu Ranggon untuk sampai kawah .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 11 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 19 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 19 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 22 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: