Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ati Nurrohmah

Seorang mahasiswa dan santriwati di pondok pesantren

Bagaimana Agar Bisa Mengatur Waktu?

OPINI | 25 May 2013 | 09:22 Dibaca: 216   Komentar: 0   1

Hem, sebelumnya, latarbelakang penulisan tulisan ini adalah dari permintaan seorang teman baik saya yang tiba-tiba saja bertanya soal itu dan meminta untuk mengajarkan tips versi saya. Meminta saran dari saya? Kok bisa? Hehee mungkin karena sejauh ini mii (writer) lumayan kerja whole time ke timur ke selatan berjalan di mata angin sampai ke timur lagi. haa pekerja keras yah -_- :D

Baik, tapi sebelumnya, mari kita luruskan dulu judul yang memayungi tulisan ini. Mengatur waktu rasanya memang tidak tepat dalam konteksnya. Bukannya waktu itu gak dapat kita atur melainkkan diatur mutlak hanya oleh Sang Maha Pengatur? Lha terus gimana? Yang dapat kita usahakan adalah dalam pemanfaatan waktunya, buka di pengaturannya. Setuju? Jadi, bukan soal cepat atau lambatnya waktu, karena waktu ya terus seperti itu teratur, tapi ini soal penggunaan waktu yang ada tersebut. Sebutlah dua sosoknya: efektif dan efisien. Efektif, pada intinya adalah tepat sasaran. Artinya, apakan waktu yang ada tersebut digunakan untuk hal-hal yang tepat? Efisien, intinya adalah tepat guna. Artinya adalah apakah waktu yang tersedia ini tepat penggunaannya?. Jadi kita dalam kehidupan ini sebenarnya berlomba dalam dua kata tersebut jika bermain di zona waktu. Menabur aktivitas yang tepat pada waktu yang tepat, akhirnya akan bisa memetik banyak manfaat.

Baik langsung saja bagaimana kiat-kiat mengefektifkan dan mengefisienkan limited time yang kita punya, versi sederhana writer’s.

1) Milikilah jam tangan, atau apasaja sebagai alarm timing. Ini terlihat sepele, tapi bagaimana kita akan mengetahui waktu secara akurat jika tanpa adanya alat bantu tersebut. Jadi, mulai berkomit dengan diri sendiri lewat alat bantu ini.

2) Susunlah jadwal kegiatan sehari-hari. Yang ini anda perlu menentukan prioritas dengan tepat. Mana yang wajib dan utama, atau juga sebaliknya mana yang bersifat embel-embel saja. Hey, jangan lupa kebijakan dalam pemutusan hal ini menentukan langkah selanjutnya. Hehe. Jangan ragu-ragu, tapi sepertinya teliti lebih baik.

3) Buat Target. Eh, setiap orang pasti memiliki penghargaan tersendiri untuk hidupnya. Berbeda-beda, tentu. Ada yang menganggap dirinya tak begitu berarti, tandanya belum bersyukur nih. Hati-hati yang ini harus dijauhi. Sebaliknya, coba akui diri dan kehidupan ini penting untuk dilakoni. Tentu akan ada banyak inspirasi untuk lebih menghidupkan hidup. Yah, lagi-lagi ini soal pilihan kita masing-masing. Targetan hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hasrat untuk menghidupkan hidupnya.

4) Evaluasi/Muhasabah. Setelahnya tadi punya jam tangan, punya jadwal terbang, dan targetan, untuk menertibkannya dibutuhkan suatu kegiatan evaluasi. Di kegiatan inilah proses perenungan untuk lebih mengoptimalkan usaha yang sedang digarap (belajar memanfaatkan waktu). Tanpa adanya diskusi, atau konsultasi, atau juga self talk berbicara pada diri sendiri, semangat akan mudah kering. Lha, manusia kan lain dari robot. Maksudnya, pemaknaan itu didapatkan juga di kegiatan ini. Misalnya, sebelum tidur mengingat-ingat lagi kegiatan seharian yang sudah dilaksanakan. Sertakan persentasenya dengan baik dan benar, dan terutama: jujur! Ingat jujur dimulai dari diri kita sendiri. Setujukah?

5) Buat pernyataan atau sertifikasi niat, agar anda terus termotivasi ketika kalanya terlupa atau merasa jemu. Pernyataan ini bersifat serius, lho, jangan salah. Misalnya:

Kepada:

Ibu tercinta, ayah tercinta, kakak tercinta, dan adik tersayang, dan semua orang-orang yang kusayang Memutuskan: aku berjanji akan bersungguh-sungguh untuk menjalankkan amanatku sebagai hamba Alloh, sebagai anak, sebagai pelajar, sebagai warga negara yang sadar hukum, dengan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan cara melaksanakan program dan rencana yang telah disusun. Sedemikian rupa, sehingga jika saya terbukti melanggar, saya siap menrima sanksi yang setimpa.

Tasikmalaya, ___Mei 2013

PENULIS

________________________

Saksi-Saksi: _____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Sekian yang dapat saya share di sini. Pembaca yang budiman, saya yakin anda dapat lebih memvariasikan-memodifikasi-menginovasi, dengan lebih baik dan sesuai dengan tujuan hidup anda. Sekali lagi, kurangnya mohon maaf, jika bermanfaat syukur ke pada Alloh SWT.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 9 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 10 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 11 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 12 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: