Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Husni Anshori

Menulis menulis dan menulis hehehe...

Berita Lebay tentang Polisi dan Maharani

OPINI | 24 May 2013 | 16:25 Dibaca: 694   Komentar: 2   0

Sederet berita heboh terkait orang-orang besar serasa bikin kepala gatal. Utamanya liputan yang bertubi-tubi ditayangkan televisi hampir setiap hari. Tak ketinggalan jejaring sosial Facebook yang juga menyediakan kanal berbayar untuk penyebarannya sekarang.

Namun tidak semua warta yang menghebohkan belakangan ini, menyodorkan informasi yang benar-benar ciamik dan mendidik. Tak sedikit di antaranya seringkali hanya sarat hiperbola alias lebay banget. Semisal tautan ragamnya yang muncul di kolom paling kanan halaman Facebook akhir-akhir ini.

Cuplikan berita itu berembel-embel kalimat “Ini dia polisi yang ‘senjata’-nya bikin pengguna jalan keder…” dan memajang foto perempuan muda berseragam coklat layaknya aparat. Tak hanya itu, foto yang ditampilkan juga dengan zoom di area “sekwilda” (sekitar wilayah dada). Ketika melirik gambar ilustrasinya saja, para Facebooker dan masyarakat umum mulai dari ABG hingga dewasa, tentu akan tergiur dan penasaran untuk membacanya lebih lanjut.

13693869962080850474

Berita kontradiktif dan membodohi

Jika hasil bidikan media ini diklik, akan mengarah ke halaman situs www.otosia.com sebagai sumbernya. Hanya, para sedulur dijamin bakal kecele berat. Pasalnya, konten straight news (baca: warta singkat) tersebut njekethek sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kemolekan seorang polwan dengan “senjata”-nya yang bikin keder sebagaimana cuplikannya kikikikikikkk…

Isi pemberitaannya mengenai aksi menarik polisi lelaki (anggota Satlantas) di Tuban, Jawa Timur, dalam menindak pengendara yang tidak mematuhi peraturan lalu-lintas. Bahkan, inisiatif punggawa Bhayangkara yang menuai apreasiasi berbagai kalangan tersebut, dilakukan begitu simpatik tanpa kekerasan apalagi menggunakan senjata. Selengkapnya monggo baca di sini.

Warta lebay dengan balutan seksualitas macam itu kiranya patut dipertanyakan kelayakannya. Bukan hanya lantaran kontradiksi label dan kontennya, teks dan konteksnya, namun juga berpotensi pembodohan terhadap masyarakat. Tanpa disadari biasnya juga akan mencipratkan konotasi negatif terhadap pihak maupun korps objek yang diberitakan itu sendiri. Lebih jauh, eksesnya turut mengukuhkan penghalalan eksploitasi terhadap kaum perempuan, diakui atau tidak.

Berita serupa lainnya masih di ruang Facebook, berkenaan kasus dugaan suap atau money laundering dalam kuota impor daging yang sedang gencar disorot media utamanya televisi. Lagi-lagi sisipannya masih berbau seksualitas di Facebook. Dalam hal ini, foto perempuan berinisial M yang disebut berhubungan dengan AF sekaligus penerima bagian harta “kotor” saksi kasus tersebut ikut ditempel dengan pose menggoda. Kali ini embel-embel yang dipakai Rani Tambah Montok Seksi dengan link sumbernya www.merdeka.com. Selengkapnya monggo baca di sini.

1369387294561432274

Pertanyaannya, mengapa angle yang dipelototi habis-habisan sama halnya yang disiarkan televisi selalu berkutat pada kemontokan sejumlah perempuan dalam pusaran kasus itu? Bukankah tidak semua perempuan tersebut memang layak dipersalahkan hingga belum apa-apa telah dihakimi sedemikian rupa? Mengapa tidak menguak sisi-sisi kelam sang lelaki yang menjadi biang keroknya lebih jauh saja tanpa rekayasa, hingga terang benderang berbagai kemungkinan pelanggaran hukum perbuatannya yang lain dan merugikan negara?

Apakah bila tanpa “menelanjangi” pula sekalian perempuan di sekitar kasus demikian akan membuat pemberitaannya tidak menarik, tidak akan mengerek rating dan tidak menaikkan oplah maupun keuntungan? Jika mengingat pepatah “banyak jalan menuju Roma” yang artinya banyak jalan mengungkap kebenaran dengan banyak cara yang lebih menarik dan mendidik oleh media, maka berita-berita lebay macam itu tidak perlu dihidangkan ke ruang publik. Bukankah awak media seharusnya lebih cerdas mengupas ketimbang masyarakat biasa dengan obral celoteh jalanan? Dan tentunya masih banyak pula cara meraup keuntungan tanpa menyisakan kerugian bagi sesama lebih-lebih meludahkan aib terhadap subjek berita.

Sementara, kaum perempuan yang disasar sebagai objek pemberitaan sejatinya wajib diperlakukan layaknya manusia sebelum keputusan tetap dan mengikat yang digedok pengadilan. Toh pesakitan yang terhukum berdasar ketetapan pengadilan sekalipun masih dijamin perlindungan atas segala ihwal kehidupan berikut penghidupannya, selain bagian tindak kejahatannya oleh Undang-Undang tho? Inilah sekelumit potret berita-berita lebay televisi sepanjang perkembangan mutakhir. Berita lainnya yang tak kalah lebay, bisa disimak dalam Tayangan Sarkasme Televisi dalam Kasus Impor Daging.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 3 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 11 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 15 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Mungkinkah? Entah! …

Aisditaniar Rahmawa... | 7 jam lalu

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | 7 jam lalu

Mendayung Di Sungai Ayung …

Aisditaniar Rahmawa... | 8 jam lalu

Apakah Emoticon Benar-benar Mewakili …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Ada Cinta #14 : Bintang Jatuh …

Ryan M. | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: