Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Yoggypradita

tenaga pemasar yang handal, ahli manajemen pemasaran, berbakat dalam study penelitian dan pengembangan bisnis. untuk selengkapnya

Menyikapi Hari Kebangkitan Nasional

OPINI | 20 May 2013 | 18:46 Dibaca: 124   Komentar: 0   0

….

hari kebangkitan nasional sejatinya adalah hari dimana bangkitnya semangat persatuan kesatuan serta yang paling utama adalah sikap nasionalisme bangsa indonesia. kesadaran untuk selalu memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan republik ini menjadi tolak ukur dari hari perayaan yang selalu (mungkin) kita peringati pada 20 mei setiap tahunnya. para pahlawan kita yang berjuang dan berikrar dalam sumpah pemuda tentunya berharap semangat juang dan patriotisme ini tidak luntur dimakan zaman.

pagi ini, saya mengendarai mobil dari rumah saya disekitaran cileungsi menuju kantor, perjalanan 1 jam 50 menit itu saya tempuh sembari mendengarkan saya satu radio bisnis ternama di kota jakarta. pembahasannya menarik bagi saya, yaitu perihal hari kebangkitan nasional. sang narasumber yang merupakan salah satu tokoh nasional beberapa kali mampu menjawab pertanyaan dari responden perihal sikap yang harus ditonjolkan dan pembuktian apa yang harus dibuat bangsa ini dalam menyikapi hari kebangkitan ini.

saya tertawa ketika di akhir segmen tersebut, hampir tidak ada jawaban-jawaban konkrit yang bisa menggambarkan bagaimana penurunan rasa patriotisme ini bisa kita ungkit kembali kedalam pola hidup kemasyarakatan bangsa indonesia. fakta-fakta dilapangan tentunya kita sudah tau, negeri ini rawan masalah, kemunduran psikologis karena faktor harta dan tahta menjadi musuh utama lunturnya semangat patriotisme dalam diri manusia indonesia. kesetia-kawanan sosial dalam praktek-praktek haram sering kali didukung oleh para elit politik dan ditunjang para pebisnis handal demi mencapai satu tujuan, UANG. pertanyaan saya pagi tadi adalah apa perlu bendera kita diganti dengan pecahan uang 100.000 rupiah agar setiap orang mau berbuat sesuatu untuk negeri ini tanpa pamrih??

kembali ke topik hari kebangkitan nasional, sedianya jikalau rasa patriotisme, persatuan dan kesatuan, nasionalisme, kesadaran berbangsa, kesadaran menjadi manusia yang putih, dan kesadaran tidak merugikan hajat hidup orang banyak, tentunya praktek-praktek sampah yang selama ini rutin kita dengar dan kita pahami tidak akan semakin bertambah setiap harinya. bahkan ketika ada contoh nyata dilayar kaca kita masing-masing, masih ada saja orang-orang bodoh diluar sana yang mengulangi praktek bodoh yang sudah menjadi bubur. pertanyaannya KENAPA?

sebodoh itukah orang indonesia tidak mau belajar dari kesalahan orang lain? sebodoh itukah orang indonesia mau mengulangi hal-hal yang hampir kita tangisi bersama? dan sebodoh itukah orang indonesia hingga tergiur dengan materi?

entahlah…. banyak faktor…. (habis waktu untuk membahasnya)

hemat saya, untuk membangkitkan rasa nasionalisme bangsa indonesia (termasuk diri saya sendiri), mungkin kita perlu mengulang masa-masa kejayaan pahlawan bangsa kita, dimana mereka selalu menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh hikmat dan mungkin hingga meneteskan air mata dikala kemerdekaan baru saja direbut dari tangan penjajah.

atau… saya punya pendapat lainnya…

simple saja, setiap perusahaan (selayaknya di Jepang) wajib setiap paginya menyanyikan lagu kebangsaan dan menghormat bendera (tidak perlu diluar ruangan) untuk emnumbuhkan rasa nasionalismenya.

mmmm… tambahan lagi…

telivisi…. media yang sebenarnya paling kuat (menurut saya) untuk menyampaikan pesan-pesan nasionalis bagi bangsa ini, setiap 6 jam sekali saja, channel tv swasta di indonesia, diwajibkan untuk menayangkan pidato bung karno dan pembaca pancasila dan mungkin ditambahkan dengan beberapa lagu nasional. saya yakin hal ini dapat membantu meningkatkan rasa nasionalisme bangsa, diselingi dengan pesan-pesan moral yang baik yang dapat mengarahkan kita masyarakat indonesia untuk dapat berbuat baik, menjaga negeri ini, menata negeri ini dan menjadikan negeri ini besar seperti harapan para pendahulu kita.

*tulisan ini dibuat oleh seorang amatiran, jikalau ada kesalahan dalam penulisan dan ketidak sepahaman, harapan saya agar dicantumkan di tempat yang tersedia, terima kasih, wassalam*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mereka Meninggalkan Ego demi Kesehatan …

Mohamad Nurfahmi Bu... | | 31 October 2014 | 00:51

Rokok Elektronik, Solusi Stop Merokok yang …

Gaganawati | | 31 October 2014 | 01:19

Profit Samsung Anjlok 73,9%, Apple Naik …

Didik Djunaedi | | 31 October 2014 | 07:17

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | | 31 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 9 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 13 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ketika Lakon Itu Kembali Dimainkan …

Sarie | 8 jam lalu

Negeri Suka Tandingan …

Didi Eko Ristanto | 9 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: SKILL, Salah …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: