Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ahmad Junaedi

seorang pecinta sejarah NKRI, sastra Arab, selalu antusias dengan segala hal yang berbau sejarah (kecuali selengkapnya

Nilai Penting Belajar Bahasa Arab

OPINI | 17 May 2013 | 14:39 Dibaca: 409   Komentar: 3   2

Man Jadda wajada

(siapa yang benar-benar usaha, niscaya dia akan menuai hasil)

Mempelajari bahasa asing, terlebih bahasa Arab, bukan hal asing. Saya telah mempelajarinya semenjak duduk di bangku Sanawiyah tingkat pertama. Sejak itu, hingga masuk perguruan tinggi, saya begitu mengakrabi bahasa yang satu ini.

Saat memasuki dunia kampus, saya sebetulnya bisa dikatakan enggan menempuh studi di bidang sastra Arab. Tetapi, karena ada satu dua persoalan, akhirnya saya (awalnya dengan berat hati) memilih meneruskan pendidikan tinggi di fakultas Adab, jurusan sastra Arab.

Apa yang terjadi?

Tahun pertama belajar bahasa Arab di kampus serasa sangat beda saat masih di sekolah menengah. Kalau di sekolah menengah, penekanannya hanya pada pembelajaran materi bahasa secara pasif. Siswa tidak terlalu dituntut untuk berbicara dalam bahasa tersebut. Kalau dituntut takallum (bicara) pun, konteksnya hanya lingkup yang amat sederhana. Misalnya, percakapan sehari-hari. Ini berbeda saat berganti almamater perguruan tinggi. Kita bukan hanya “melahap” materi kebahasaan saja. Lebih dari itu. Kita pun dituntut aktif. Makna aktif di sini, meliputi tingkat keseringan kita dalam mengapresiasi materi kuliah—tentu yang bertautan dengan bahasa Arab—dengan sering melontarkan gagasan tentang materi belajar dengan bahasa tutur, Arab. Selain itu, yang tak kalah penting, kita perlu (bahkan menurut saya wajib) banyak membaca aneka literatur bahasa Arab. Sebab dengan itu, maka jejaring wawasan dan pusaran kosakata kita dalam bahasa Arab akan tumbuh matang berkembang. Ini merupakan hal yang tidak mudah saya lakukan saat itu. Namun, pelan-pelan, saya mulai memasifkan usaha mempelajari bahasa yang menurut saya jauh lebih rumit daripada bahasa Inggris. Hal yang paling sering saya lakukan, yaitu (latihan) membaca buku-buku berbasa Arab dari segala disiplin ilmu; sastra, politik, sejarah, sosial, budaya, dan kisah-kisah anak.

Mempelajari bahasa Arab, sama berarti kita mempelajari turunan keilmuannya. Ada ilmu Nahwu (sintaksis), ilmu Shorf (morfologi), ilmu balaghah (stilistika linguistik), manthiq (logika), ilmu dalalah (semantik), ilmu arudh qawafi (ilmu tentang syair), tarikh adab (sejarah sastra),tafsir Al-Qur’an, ilmu terjemah, ilmu shout (fonologi).

Menarik.

Setelah saya lulus kuliah, ada fase yang membuat kemampuan olah bahasa saya semakin berkembang. Kala itu, saya sering mendapatkan order terjemah naskah atau literatur perkuliahan. Hasilnya cukup lumayan. Namun, terpenting saya bisa menerapkan keilmuan bahasa saya kepada rekan-rekan mahasiswa yang lain. Aktivitas semacam ini berlangsung setidaknya hingga 2 tahunan.

Dari rentetan waktu aktivitas saya secara paruh waktu itu, ada satu hikmah terselip. Setiap apa yang saya terjemahkan, bahkan sampai sekarang, Alhamdulillah masih terjaga dengan cukup baik. Meski saya harus akui pula, banyak kosakata yang juga tidak tertancap sekuat dulu lagi. Ada hikmah penting lagi, mempelajari bahasa Arab, lebih-lebih secara serius, bisa menajamkan pemahaman kita pada bahasa Al-Qur’an yang memang berbahasa Arab. Ini sesuatu yang niscaya. Siapa yang ingin mempelajari dan memahami kandungan Al-Qur’an, maka pelajarilah bahasa Arab. Itulah jembatan yang bisa mengantarkan kita menuju dinamika persoalan yang teramat kompleks yang semuanya telah tersarikan di dalam Al-Qur’an.

Tulisan ini bukanlah bentuk ujub saya kepada para pembaca, tidak. Saya pun banyak kekurangan. Apakah saya menguasai dengan baik bahasa Arab; lebih-lebih bahasa Al-Qur’an? Saya adalah pribadi yang masih jauh dari kata baik, alih-alih sempurna.

Salam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 4 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 9 jam lalu

Pilkada Langsung; Menabrak Dasar Negara?! …

Bem Simpaka | 10 jam lalu

Bukti, Koalisi Merah Putih Bukan Wakil …

Giri Lumakto | 12 jam lalu

Takut Prabowo, Jokowi Batalkan Perampingan …

Avit Hidayat | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips Sederhana Menulis Buku agar Menarik …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 8 jam lalu

Turis Asing Suka Kawah Ijen! …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 8 jam lalu

Mudahnya Mengururs SIM tanpa Calo (Sebuah …

Okky Rizki Rohayat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: