Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Emin Ngkaapo

Pecandu buku , buku adalah kekasih setia

“Kalau Tidak Menikah”, Bahagia, Kenapa Tidak?

OPINI | 15 May 2013 | 21:29 Dibaca: 355   Komentar: 0   0

Baru dapat email dari seorang kawan, yang menulis tentang pernikahan secara satire. Prinsipnya memang lumayan melawan arus. “Kalau tidak menikah dan bisa bahagia” kenapa tidak? Saya dan dia memang punya prinsip baigaikan bumi dengan langit” .Kalau saya meletakan prinsip bahwa hidup normal adalah hidup berkeluarga , maka dia sebaliknya. Saya ingat persis, kawan ini punya kecerdasan diatas rata-rata. Dia punya dua gelar master, satu dari dalam negeri dan satu dari Belanda.

Kawan ini juga punya wajah yang lumayan cantik. Ada beberapa orang yang sudah melamarnya , namun ditolaknya mentah-mentah. Alasannya sederhana, tak satupun dari mereka yang bisa memahami dia. Konteks memahami tentu saja ala dia. Dia tidak mau kalau berumah tangga hanya sekedar menepis isu : PERAWAN TUA DAN TIDAK LAKU. Menurutnya apapun alasan pernikahan tujuan kebahagian adalah yang utama. Ada beberapa hal yang dijadikan alasan mengapa dia begitu menikmati kesendiriannya. Saya katakan menikmati, karena dia tidak peduli dengan sindiran dan gunjingan orang tentang mengapa dia memilih jalan radikal ini.

1. Dia tidak ingin jadi ATM, kalau misalnya dia memutuskan secara terburu-buru  dan menjatuhkan pilihan pada orang yang salah hanya karena emosi sesaat. namun sungguh, dia bukan orang yang pelit. Dia gampang terenyuh dan mudah bersedekah.

2. Dia tidak mau menikah hanya karena alasan konyol,,semisal karena gunjingan dari sabang sampai merauke, dari tetangga sampai kolega, dari penjual ikan sampai tukang kredit. Baginya menikah adalah dengan orang tepat.

3.Dia tidak mau dijadikan istri idaman lain, kamus menganggu rumah tangga orang disingkirkan jauh-jauh dari hidupnya. Dia banyak tertawa. Baginya tidak menikah bukan berarti  kimat. enjoy your life, hidup terlalu berguna untuk memikirkan hal-hal yang tidak jelas.

4. Tidak menikah bukan aib……ngapain malu? dia kan tidak merugikan orang lain. Hidup-hidupnya kok yang repot orang lain. Dia bahagia , kok orang lain sewot?….(mayoritas orang indonesia suka bergunjing )

5. Dia tidak punya prinsip ” telat menikah’ memang janjian sama siapa? kalau telat itu, kita berjanji sama seseorang dan kita datang terlambat , jelas tidak ada telat dalam pernikahan. Memangnya, kita janjian sama siapa? logika yang masuk akal

6. Hidup singkat jadi jangan terlalu di frosir tenaga, pikiran dan waktu hanya untuk bertanya -tanya dan kemudian menyalahkan keadaan mengapa belum -belum menikah juga. Jadilah pribadi yang bermanfaat  bergunalah untuk orang banyak.

Pelajaran moral yang saya dapat  dari kawan saya itu, bahwa jangan suka mengkritik dan mengomentari hidup orang. Siapa tahu dia lebih bahagia dari kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Awal Baru Twitter Indonesia, Inikah Akhir …

Harris Maulana | | 27 March 2015 | 15:00

Nyeri pada Depresi …

Dr Andri,spkj,fapm ... | | 27 March 2015 | 09:24

Tri Rismaharini Mengalahkan Mark Zuckerberg …

Edi Abdullah | | 27 March 2015 | 14:07

6 Alasan Untuk Katakan “Ya!” …

Hendra Wardhana | | 27 March 2015 | 17:03

Ayo Rekatkan Budaya Bersama Taman Mini …

Kompasiana | | 06 March 2015 | 18:03


TRENDING ARTICLES

Risma Masuk 50 Pemimpin Terbaik Dunia, …

Bejo Al-bantani | 6 jam lalu

Janda Muda Diperkosa & Disekap 35 Hari, …

Bambang Setyawan | 6 jam lalu

Sampai Kapan Pun Ahok Akan Diincar …

Lilik Agus Purwanto | 6 jam lalu

Komjen Badrodin Haiti dan Jilbab …

Susy Haryawan | 10 jam lalu

Timnas U-23 Rasa U-19: Terlalu Cepat …

Irwan Rinaldi Sikum... | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: