Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Iwan Permadi

a freelance tv creative

Repotnya Pemodal Menjadi Talent? Joke of the Year!

REP | 13 May 2013 | 02:25 Dibaca: 182   Komentar: 0   0

Cerita ini memang unik dan mungkin aneh tapi nyata bagi saya, walaupun mungkin bagi sebagian orang tidak. Pengalaman mengerjakan puluhan program televisi dan sejumlah iklan mengharuskan penulis berhubungan dengan banyak artis dan nara sumber terpercaya. Dan itu biasa sajalah karena memang sudah sepaham berkecimpung di kuali yang sama…wadah entertainment dimana faktor tehnis dan non tehnis telah dipertimbangkan dan diperhitungkan karena masing-masing  punya pengalaman dan latar belakang yang tidak jauh berbeda.

Seperti halnya kita sebagai penonton dan pemirsa program televisi, film atau iklan, segala kerepotan, kerumitan dan kegaduhan di belakang layar kita tidak banyak tahu dan bukannya kita tidak peduli tapi memang banyak penonton tidak mau tahu, karena mereka hanya “concern” hasil akhirnya. Produk yang muncul pada akhirnya menjadi tolok ukur seberapa jauh persiapan yang telah dibuat. Apakah pesannya sebaik dan seide dengan kesannya? Apakah pesannya tersampaikan secara paripurna atau sambil lewat saja? Apakah pesannya hanya lebih menarik sebagai sebuah citra tapi bukan menggugah orang untuk membeli dan mencari produk yang ditawarkan? Pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya banyak menyedot perhatian para kreator sebelum dan sesudah produk dibuat.

Bagi sebagian orang mungkin menganggap revisi atau pembetulan produk /program yang telah dibuat merupakan hal yang biasa. Ya biasa tapi sebaiknya dan seharusnya hanyalah merupakan “tambahan” sedikit dari produksi yang telah dilakukan, artinya revisi itu membuat “lebih baik” bukan mengganti atau menjahit dengan bahan baru, katakanlan shooting ulang (reshoot) dengan materi yang jauh berbeda dari shooting sebelumnya. Ini malapetaka!  Sesuatu yang akhirnya mengingatkan kembali pada saat penulis di bangku kuliah pada saat presentasi makalah, salah seorang dosen mengatakan,”materi anda bagus sekali, segala aspek sudah diangkat ke permukaan, namun esensi dari makalah ini bertentangan dengan tujuan yang ingin dicapai dari mata kuliah ini, jadi saya sarankan anda membuat makalah baru!!!

Namun hal yang paling repot sebenarnya bukan pergantian makalah, karena itu hanyalah benda mati yang bisa hidup bila kita sebagai kreator masih punya “api” yang terus menyala, namun yang paling setengah mati menghadapi “talent” yang kebetulan pemilik modal. Ditambah lagi kalau si “talent unik” ini “sadar kamera’ dan “sadar penampilan” jadilah shooting itu menjadi “berlama-lama” dan “berpanjang-panjang” karena ketidak pedean si Talent.  Iklan 30 detik atau advertorial 2 atau 5 menit bisa diproduksi seharian baik karena pesan yang ingin disampaikan “belum confirmed” dan “si talent” ternyata “decision maker” perusahaan yang dipimpinnya yang mengharuskannya menghadiri  shooting setelah meeting “mendadak” atau adanya “telpon masuk yang tidak bisa ditolak”.

Pernah ada sebuah kasus shooting dengan durasi tvc (televisi commercial)/advertorial selama 5 menit dan perencanaan produksi telah disiapkan dari pukul 10:00 pagi (artinya crew call dan persiapan sebelum shooting antara pukul07:00 hingga 09:00 pagi), molor hingga lewat makan siang. Belum lagi ”si talent unik ” ini harus make up, memilih kostum dan ritual lain yang tidak bisa ditinggal jadilah shooting dimulai pukul 15:00, apalagi bila fenomena alam seperti hujan turun sehingga audio terganggu dan shooting ditunda.  Dengan awal shooting seperti ini dan ketidak-pastian yang terjadi……pernah sebuah pengambilan gambar harus berakhir  jam 19:00.  Mood hilang, konsentrasi buyar, biaya nambah dan sabar akhirnya jadi kata kunci karena tetap pemodal adalah raja dan kreator cuma kacung.  Benar-benar Lelucon tahun ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Rembug Provinsi, Ajang Dialog Menata Jakarta …

Nur Terbit | | 26 November 2014 | 15:41

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minta Maaf Saja Tidak Cukup, PSSI! …

Achmad Suwefi | | 26 November 2014 | 11:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 8 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 14 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Car Free Day Bintaro: Cara Tangerang Selatan …

Kevinalegion | 8 jam lalu

Swiss, Aku Datang! …

Imam Hariyanto | 9 jam lalu

PSSI dan “Anjing Jalanan” …

Rizal Marajo | 9 jam lalu

Salah Satu Pahlawan Penyelamat Generasi …

Megantari Putri Gun... | 9 jam lalu

Berawal dar Tantangan Petani …

Anugrah Fitradi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: