Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Dita Widodo

1996 - 2004 Kalbe Nutritional Foods di Finance Division 2004 - 2006 Berwirausaha di Bidang Trading selengkapnya

Ujian Nasional

OPINI | 11 May 2013 | 21:41 Dibaca: 183   Komentar: 3   0

Orang tua, guru, pemerintah, dan anak didik mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, dan penguasaan ilmu pengetahuan generasi muda. Sebab hanya kecerdasan dan ilmu pengetahuan itulah yang dapat meningkatkan kemajuan kita.

Semua itu membutuhkan kerja keras dan keseriusan semua pihak, baik orang tua, guru, maupun murid di samping adanya perencanaan pelaksanaan dan anggaran dari negara yang mencapai 20% dari APBN, dengan jumlah yang meningkat setiap tahunnya.

Maka di tahun 2002, pemerintah merasa perlu mengambil langkah terencana, dalam rangka meningkatkan pendidikan nasional yang semakin menurun.

Posisi Mutu

3 indikator yang dapat digunakan untuk melihat mutu pendidikan kita apakah meningkat atau menurun adalah :

1. Membandingkan dengan kondisi pendidikan selama 50 tahun terakhir.

Materi ujian berhitung atau matematika murid SD di tahun 1950-an begitu tinggi tingkat kesulitannya dibanding di tahun 2000. Ini menunjukkan terjadinya degradasi mutu pendidikan Indonesia.

2. Membandingkan mutu pendidikan dengan negara tetangga.

Tahun 2002 bahan ujian Ebtanas kita dibanding dengan ujian akhir sekolah-sekolah di Singapura, Malaysia dan Filipina, tiga negara yang dapat dimengerti materi ujian nasionalnya karena menggunakan bahasa Inggris dan Melayu. Ternyata materi mereka mencengangkan, jauh di atas tingkat kesulitan  kita, sekaligus menggambarkan kualitas pendidikan di ketiga negara tersebut. Misalnya, ujian Bahasa Inggris dan Matematika Sekolah Dasar (SD) di Malaysia ternyata hampir sama dengan materi ujian SMP di Indonesia. Hal itu berarti Indonesia ketinggalan tiga tahun dibandingkan dengan Malaysia. Ketiga negara ini pun menggelar ujian nasional. Singapura bahkan melakukan ujian internasional bekerjasama dengan Universitas Cambridge.

3. Jika dibandingkan mutu lulusan setiap daerah dengan tingkat kelulusan tes masuk Universitas terbaik di Indonesia seperti UI, ITB, IPB, dan UGM, ternyata tidak banyak lulusan SMA daerah yang lulus.

Pada era ujian sekolah, tingkat kelulusan tiap sekolah hampir 100 persen. Akibatnya timbul pemikiran “Buat apa belajar, toh belajar dan tidak belajar sama saja. Semua juga akan diluluskan.” Itulah penyebab degradasi (penurunan) mutu pendidikan di negeri ini.

Nasib pendidikan Indonesia tidak ubahnya pelompat galah. Pada tahun 1950-an, mutu pendidikan Indonesia masih sama dengan Malaysia. Belakangan, kemampuan Malaysia semakin meningkat. Sementara Indonesia, karena tidak bisa melompati galah, justru galahnya diturunkan, bukan latihannya yang ditingkatkan.

Tren mutu meningkat

Ketika ujian nasional diuji coba tahun 2002 di beberapa daerah di Indonesia, betapa miris kita melihat hasilnya. Kepada murid diujikan soal-soal dengan tingkat kesulitan tertentu serta standar nilai kelulusan minimal 5. Ternyata 40 persen peserta ujian yang lulus, selebihnya 60% tidak lulus.

Standar kemudian diturunkan menjadi 4. Masih juga 30 persen murid tidak lulus. Karena itu UAN tahun 2003 standar nilai minimal terpaksa diturunkan menjadi 3,5. Itu pun hasilnya 20 persen murid tidak lulus. Itulah gambaran mutu pendidikan di Indonesia pada 10 tahun silam.

Untuk memicu semangat belajar dan meningkatkan mutu standar nilai, setiap tahun standar dicoba dinaikkan 0,5 poin meski di tahun 2005 hanya naik 0,2 poin menjadi 4,2.

Tahun ini standar kelulusan murid sudah mencapai 5,5. Di samping itu, tingkat kesulitan juga ditingkatkan. Artinya, jika dilakukan secara konsisten, standar nilai kelulusan murid-murid Indonesia juga terus meningkat untuk bisa keluar dari ketertinggalan negara lain.

Jalan keadilan pendidikan

Lalu apa beda ujian sekolah dengan ujian nasional? Dalam ujian sekolah, pada umumnya guru menguji apa yang diajarkan, sedang dalam ujian nasional murid diuji apa yang seharusnya mereka ketahui di mana pun murid itu berada di Indonesia. Dengan demikian, tingkat kecerdasan manusia Indonesia akan merata antara murid yang bersekolah di Jakarta dan mereka yang bersekolah di daerah-daerah.

Ini penting agar jangan ada perbedaan mencolok pada mutu pendidikan generasi muda. Selalu ada pertanyaan dengan alasan mutu pendidikan dan guru berbeda. Justru di situlah dibuat standar nasional agar mutu sekolah yang selama ini rendah terus dapat ditingkatkan. Pada saat yang sama, mutu guru ditingkatkan dan fasilitas sekolah diperbaiki.

Sejalan dengan itu pada awal diterapkannya ujian nasional ada pertukaran kepala sekolah dari SMA yang baik di Jawa menjadi kepala sekolah di daerah luar Jawa. Sebaliknya, kepala sekolah luar Jawa menjadi wakil kepala sekolah di Jawa selama enam bulan.

Dengan demikian, akan ada pembauran budaya dalam mengajar. Selama program ini berjalan, ratusan kepala sekolah telah dipertukarkan. Hal itu pada kenyataannya memberikan budaya belajar yang lebih baik, khususnya sekolah-sekolah di Indonesia Timur.

Ada pandangan ujian nasional menyulitkan siswa. Tentu saja siswa memang harus lebih keras cara belajarnya. Demikian pula ada yang berpendapat, lebih baik memberikan suasana yang enak untuk belajar pada anak. Pendapat itu benar, tetapi tidak seenaknya.

Kita bersyukur selama ini sebelum ujian diperlakukan dengan ketat, ternyata tawuran juga sangat berkurang karena anak lebih berkonsentrasi belajar dan tidak berkeliaran.

Jadi ujian nasional tidaklah bermaksud menyiksa anak didik, tapi bertujuan meningkatkan dan membangun keadilan mutu pendidikan. Memang ada murid, guru, dan orang tua yang stres karena ujian nasional, tetapi semua harus dilalui dengan keyakinan dan usaha keras.

Stres atau tegang akan selalu dialami dalam hidup ini apabila menghadapi tantangan-tantangan, apakah itu ujian, melamar kerja, ataupun menunggu jawaban dari pacar saat melamar. Kita juga dengan gembira melihat puluhan ribu siswa berdoa bersama, istigasah sebelum menghadapi ujian.

Tidak ada bangsa yang maju tanpa pendidikan yang baik, dan tidak ada pendidikan yang baik tanpa keseriusan kerja keras.

Solusi teknis

Kendala teknis pelaksanaan ujian nasional yang terjadi pada tahun 2013 adalah masalah teknis logistic. Karena itu, perlu dicari solusi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Misalnya, penyederhanaan sistem logistik sehingga lebih dekat ke daerah.

Konten soal-soal ujian harus dibuat dari pusat agar tetap dijaga mutu pendidikan nasional, tetapi mencetaknya cukup di daerah seperti sistem cetak jarak jauh pada surat kabar. Kalau ada pelanggaran secara pidana agar ditindak sehingga tak terulang lagi.

Kualitas pendidik juga harus terus ditingkatkan sehingga mutu yang dihasilkan menjadi semakin baik dari tahun ke tahun demi mencapai generasi muda yang cerdas dan maju.

Pendidikan hari ini baru akan dicapai hasilnya setealh 10 tahun ke depan, dan itu adalah hasil dari mereka yang mau berusaha dan bekerja keras.

Ditulis oleh Bp. M. Jusuf Kalla di Harian Kompas edisi Kamis, 2 Mei 2013.

Catatan :

Artikel sangat menarik lagi penting ini saya salin dengan tujuan memperluas penyadaran diri pada semua kalangan baik kapasitasnya sebagai orang tua, guru maupun murid terkait tujuan ujian nasional, dan tujuan pendidikan itu sendiri. Karena kita tahu, sebuah perubahan besar pun diawali dari perubahan kecil, dari diri sendiri.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 18 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 19 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 21 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 23 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: