Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Usi Saba Kota

Juara 1 olimpiade Kimia & Matematika sekandang ayam.

Jejak Bunda Khadijah yang Hilang

OPINI | 11 May 2013 | 02:50 Dibaca: 421   Komentar: 24   1

Membaca artikel Umm Mariam soal pertanyaan keberadaan Bunda Khadijah, saya jadi mau menulis juga. Hehehe… ikut2an ya?.  Saya juga kehilangan kontak dengan Bunda Khadijah ini. Sudah saya kirim pesan lewat inbox Kompasiana tak ada jawaban, kirim sms tak ada balasan, terakhir beberapa hari lalu saya telpon, sepertinya telponnya tutup.

Dengar2 BK mengambil langkah yang kurang diminati oleh beberapa orang yang awalnya mendukungnya. Mungkin karena itulah keadaan saya lihat jadi sedikit terbalik dimana beberapa pendukungnya seperti berbalik arah. Menurut saya sebenarnya kunci dari permasalahan surat kaleng dan menghilangnya BK ini adalah kata maaf.

Andai, pelaku surat kaleng mau meminta maaf saat pertama himbauan dari pengacara BK mungkin kasusnya tak akan panjang begini. Minta maaf sepertinya merupakan tuntutan bk saat itu. Itupun tidak diminta akun asli yang meminta maafnya, hanya akun jadi2an yang mengirim surat kaleng itu. Mudah sekali. Sangat mudah.

Kedua, andai BK, tanpa si pelaku meminta maaf dan mau memaafkan seperti Arke, mungkin kasus ini juga jadi tak akan panjang begini. Mungkin tidak tepat  segala kesalahan dilepas dengan cara memaafkan apalagi bila dikaitkan dengan tindak kejahatan. Akan membuat pelaku tidak jera. Tapi sesungguhnya tanpa menghukum secara pribadi pun, setiap kita akan mendapatkan balasan masing2 atas semua yang pernah kita lakukan baik itu dimaafkan atau tidak oleh korban.  Hukum karma itu benar adanya.

Ketiga, saat ini, Bunda Khadijah seperti masih menyisakan kecewa bagi para pendukungnya. Kembali, andai benar bk telah mengecewakan mereka, dan andai berubah pikiran untuk tidak memperkarakan masalah surat kaleng ini, maka kembali kata maaf adalah satu2nya hal yang bisa menjadikan keadaan normal kembali.

Tidak perlu malu karena telah telah berubah pikiran untuk tidak memperkarakan masalah ini.  Kita semua punya masalah sendiri2, tidak akan selamanya terpaku membicarakan masalah itu.  Kalau ada yang menggunjingkan atau yang bilang “hah, sudah gue bilang dia cuma sok kaya dsbnya, cuma pepesan kosong dsbnya”. Biarkan saja cibiran itu, lama2 mereka akan capek sendiri. Masa seumur hidupnya mau ngomongin masalah itu?

Buat BK, mau menutup saja masalah itu atau mau mengklarifikasi semuanya, kalau masih mau berbagi di Kompasiana, kembalilah. Tapi kalau pun tidak, tak apa. Tapi alangkah eloknya bila mau meninggalkan Kompasiana, BK memberikan kata pamit terutama bagi teman2 yang sudah mensupport dari awal tapi kini tengah merasa kecewa mungkin?.

Semoga permasalahan yang menimpa Bunda Khadijah menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 10 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 11 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 13 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: