Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Septian Wijaya

Keberuntungan adalah suatu keadaan dimana kesempatan bertemu dengan kesiapan.. Akuntansi FE-UNJ 2012. Facebok : septianhive@gmail.com Twitter : @septianhyve E-mail : Septian_wijaya@yahoo.co.id No. Hp selengkapnya

Kampung Bidik Misi UNJ: Sebuah Program Simulasi Kehidupan

OPINI | 10 May 2013 | 22:12 Dibaca: 237   Komentar: 0   0

13681985741054465548

Kampung Bidik Misi merupakan sebuah program pelatihan yang dibuat oleh tim pengembang kemahasiswaan Universitas Negeri Jakarta untuk seluruh mahasiswa penerima Bidik Misi. Program ini bertujuan untuk mengasah jiwa kemandirian para mahasiswa  penerima Bidik Misi untuk  tetap bertahan dalam kondisi sesulit apapun dalam perjuangannya menggapai cita. Proses kepelatihan ini berlangsung secara bertahap dengan rangkaian kegiatan yang diadaptasi dari kehidupan sebenarnya. Dalam kegiatan ini para peserta juga diberikan wawasan dan pengetahuan akan lingkungan sosial.

Program kepelatihan Bidik Misi berlangsung selama tiga hari dua malam di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur. Sebelumnya, setiap peserta dikelompokkan menjadi beberapa keluarga dan setiap keluarga terdiri dari beberapa mahasiswa dari fakultas yang berbeda. Setiap keluarga dipimpin oleh seorang kepala keluarga yang diberi tanggung-jawab layaknya seorang bapak dalam sebuah keluarga. Para kepala keluarga bertugas untuk mengumpulkan dan menyatukan seluruh angota keluarga yang terdiri dari latar belakang yangg berbeda-beda. Ini merupakan sebuah tahap awal dimana peserta dilatih jiwa kepemimpinan dan tanggung-jawabnya. Ini merupakan tahap awal dimana peserta dilatih jiwa kepemimpinan dan tanggung-jawabnya serta komunikasi dan kekompakan antar anggota keluarga.

Pada tahap selanjutnya setiap keluarga diberikan uang sebesar Rp 100.000 yang dapat digunakan sebagai modal usaha. Mereka wajib mengembangkan modal tersebut agar dapat menghasilkan keuntungan dan modal yang diberikan harus dikembalikan . Keuntungan ini dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhannya. Pada tahap ini mereka dilatih untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhannya dan setiap keluarga dituntut untuk produktif. Hal ini merupakan sebuah refleksi dari kehidupan sebenarnya dimana setiap keluarga harus produktif dalam mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Jika kemampuan ini dimiliki setiap keluarga maka taraf hidupnya akan meningkat dan ini akan memengaruhi tatangan yang lebih luas. Kekompakkan sebuah keluarga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas keluarga tersebut. Semakin banyak anggota keluarga yang bekerja maka semakin besar hasil produksi yang diperoleh. Jika dalam skala yang lebih luas misalnya suatu negara, maka pengaruh keluarga sebagai komponen terkecil akan terlihat. Oleh sebab itu,  produktivitas sebuah keluarga sangat berpengaruh terhadap produktivitas sebuah negara.

Dalam program ini peserta juga dilatih jiwa politiknya dalam bermasyarakat. Hal ini terlihat dari peran setiap keluarga yang turut aktif dalam memilih ketua RT, RW, dan lurah. Posisi-posisi tersebut diisi dengan cara musyawarah dan transparan oleh setiap keluarga. Amanah yang diberikan dalam jabatan tersebut digunakan sebagai alat untuk mensejahterakan setiap keluarga yang ada. Estafet kepemimpinan pun berjalan dengan lancar dari lurah sebagai jabatan tertinggi dari Kampung Bidik Misi sampai kepala keluarga yang menaungi setiap keluarga. Perlombaan yang diadakan oleh Kampung Bidik Misi pun berpanitiakan setiap anggota sehingga berjalan dengan tertib dan lancar.

Program ini mengajarkan banyak pelajaran tentang kehidupan. Setiap nilai-nilai kehidupan disampaikan langsung melalui tahap-tahap dalam acara ini dengan cara mempraktekannya. Kesederhanaan hidup, tenggang rasa diantara setiap keluarga, kepemimpinan seorang kepala keluarga dan pejabat desa serta kesatuan sebuah keluarga diajarkan dalam program ini. Kesederhanaan hidup dan kesatuan keluarga menjadi bekal setiap peserta dalam memiliki sebuah keluarga kelak. Tenggang rasa diantara setiap keluarga mengajarkan kita untuk selalu peduli terhadap sesama seperti sebuah pengait antar gerbong dalam kereta api. Begitu juga kepemimpinan seorang kepala keluarga dan pejabat desa menjadi sebuah motor penggerak dalam proses pencapaian dari tujuan sebuah desa. Semua semangat dan perasaan itu tertuang menjadi satu dalam jargon Kampung Bidik Misi ini.

KAMPUNG BIDIK MISI…

SATU ATAP, SATU HATI, SUKSESKAN…

BIDIK MISI…

BERANI …

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriahnya Festival Seni Budaya Klasik di …

Riana Dewie | | 19 December 2014 | 08:54

Keresahan Nelayan dan Pelaku Usaha Perikanan …

Ibay Benz Eduard | | 19 December 2014 | 08:11

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 8 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 9 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 10 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: