Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Anggi Tri

masih belajar menulis, www.kamiliyahome.blogspot.com

Rumus Tersulit Dari Orangtua

OPINI | 08 May 2013 | 17:23 Dibaca: 164   Komentar: 0   0

Tahun 2012 dan nampaknya merambat ke tahun 2013, menjadi tahun perceraian para artis Indonesia. Berita tak terduga tentang gugatan cerai sering kita dengar dari media. Banyak masyarakat terheran-heran, kaget, menyaksikan berita salah satu infotainment stasiun televisi Jamal Mirdad dan Lydia Kandou sedang dalam proses perceraian misalnya. Lah, bagaimana bisa, la wong mereka akur-akur saja kok selama ini, umur pernikahan mereka juga tidak bisa dikatakan singkat, 27 tahun! Begitu juga dengan pasangan artis lain, seperti Vena Melinda dengan Ivan Fadilla, Katon Bgaskara dengan Ira Wibowo, Donny Damara dengan Vita Maului Amanda dan kasus terakhir yang paling spektakuler adalah Camelia Malik dengan Harry Capri yang gugatan cerainya disampaikan bertepatan dengan 25 tahun masa pernikahan mereka.

Ditayangkan dalam suatu kesempatan, mereka masih bersama, mesra berdua, saling memberikan pujian, malah memberikan tips rumah tangga rukun dan langgeng. Benar-benar terlihat mereka adalah pasangan yang serasi dan layak untuk dijadikan panutan. Sebagian masyarakat malah ada yang iri dengan kelangsungan rumah tangga mereka yang adem ayem. Lalu kemudian secara tiba-tiba mereka bercerai.

Jangan ditanya bagaimana indahnya hubungan pra nikah dan masa-masa awal pernikahan, itu telah kuno untuk dibahas. Analisa saja bagaimana mereka dapat mempertahankan rumah tangga yang nampaknya bahagia selama lebih dari sepuluh tahun. Umur pernikahan mereka sudah lama, sudah sampai generasi ketiga alias sudah bercucu. Ya, saya kira kita semua setuju kalau mereka telah dewasa dalam menata rumah tangga. Sudah terlalu biasa dalam mengatasi masalah-masalah kacangan. Sudah kapalan melewati romantika cemburu. Seharusnya mereka sudah tertempa cukup lama dalam mengatasi setiap masalah keluarga. Bukan zamannya lagi untuk mengurusi hal yang begituan. Kata sayang dan cinta mungkin sudah menjadi hal yang biasa diantara pasangan ini. Atau mungkin bukan sesuatu yang istimewa, seperti halnya kata-kata yang indah pada waktu dulu. Jadi saya menganggap ucapan klise sayang dan cinta, seharusnya lebih jauh dimaknai dari hanya sekedar ucapan. Dan sewajarnya kulit pembungkusnya bukan masanya lagi untuk diperdebatkan. Sepantasnya meraka telah mencapai fase finishing. Jangan lagi mempermasalahkan bentuknya yang bengkok sebelah atau tidak rata dibagian depan atau belakangnya. Jadi makna terdalamnya adalah laporan pertanggungjawaban diri masing-masing. Bagaimana suami mempertanggungjawabkan tugasnya dan dengan senyum menikmatinya, begitu juga dengan sang istri.

Lah, trus, kalau mau cerai juga gimana? Nah, ini yang membingungkan, karena ada penerapan rumus tersendiri dari orang tua yang tidak pernah dimengerti, khususnya sang anak. Karena setiap kali ditanya alasannya kenapa bercerai, masing-masing pihak bertutur kalau mereka pada dasarnya masih saling menyayangi dan saling mencintai, kami sangat sedih untuk memutuskan ini (cerai).

Nah, yang seperti ini tidak masuk ke nalar sang anak. Masih saling cinta, saling sayang, tidak mau pisah, tetapi masih dipilih juga perceraian. Anak yang paling pintar sekalipun akan serius berpikir, sungguh ini rumus tersulit dari rumus manapun yang pernah ia pelajari. Lalu kenapa juga orang tua menciptakan rumus yang sulit yang hanya diketahui oleh mereka sendiri serta mengorbankan anak-anak mereka untuk berpikir keras menjawabnya. Mungkin inilah penyakit menahun orang tua, egois.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: