Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Agus Pribadi

Mencoba menghayati kehidupan dan menuliskannya dalam cerita-cerita sederhana. Kunjungi juga tulisan saya di http://aguspribadi1978.blogspot.com selengkapnya

Puisi Cerpen

OPINI | 06 May 2013 | 19:04 Dibaca: 322   Komentar: 11   0

Ketika membaca puisi “Derita Seorang Penyiar Radio” karya Doni Bastian, saya seperti sedang membaca sebuah cerpen. Kata-katanya mengalir. Seperti sedang bercerita. Bercerita dengan runtut dan sangat efektif.

Cerita tentang seorang penyiar radio yang bertemu dengan seorang pria yang mengaguminya. Namun setelah bertemu, sang pria meninggalkannya.

Saya bukan seorang yang tahu banyak tentang puisi, namun menurut saya puisi tersebut layak disebut sebagai puisi. Di sisi lain, saya juga menganggap puisi sepanjang 2525 itu sebagai sebuah cerita pendek (cerpen). Cerpen tidak harus panjang. Meski relatif pendek, tapi saya bisa menangkap cerita yang dibangun pada puisi itu. Cerita tentang penyiar radio yang berakhir sedih itu mampu menyentuh hati saya hingga ada nuansa kesedihan di hati saya. Bagi saya ini adalah ruh sebuah cerpen. Bukan panjang pendeknya, namun sejauh mana sebuah cerita mampu sampai pada pembacanya. Pembaca mendapatkan sesuatu dari cerita yang dibacanya. Dan puisi di atas menurut saya berhasil menyuguhkan sebuah cerita yang menyentuh pembacanya.

Dalam cerpen-cerpen yang saya buat juga lebih banyak yang relatif pendek. Banyak cerpen yang saya tulis dengan panjang sekitar 5000 karakter. Sesuai dengan namanya, barangkali sebuah cerpen memang lebih cocok untuk cerita-cerita yang to the point. Bukan cerita-cerita yang panjang lebar. Barangkali cerita-cerita yang panjang lebar lebih cocok untuk dijadikan sebuah novel. Ini hanyalah pendapat pribadi saya yang awam sastra.

Kembali ke puisi di atas. Saya mengapresiasinya melalui tulisan ini. Sukses selalu untuk penulisnya. Salam Kompasiana!

Banyumas, 6 Mei 2013

Puisi dimaksud dapat dibaca di :

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2013/05/06/derita-seorang-penyiar-radio-553189.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | | 23 September 2014 | 22:43

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | | 24 September 2014 | 00:37

Banyak Laki- laki Indonesia Jadi Ayah Gagal …

Seneng Utami | | 24 September 2014 | 04:45

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 3 jam lalu

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 11 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 14 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Strategi Perang Lawan ISIS Ala SBY …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Berat dan Ringan itu Relatif dalam Bekerja …

Eko Junaidi Salam | 8 jam lalu

Jika Sulit Memberi, Mari Berbagi …

Saumiman Saud | 8 jam lalu

Jadwal 16 Besar Asian Games 2014 …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Derita Hidup di Negeri Orang …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: