Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Sapto Nugroho

baru mulai berbagi cerita dan mulai mengumpulkan cerita di http://tulisan.pilihan.net

“Sayang Anak” ala Jepang

REP | 04 May 2013 | 10:39 Dibaca: 197   Komentar: 0   0

Sayang anak ala Jepang

Kali ini yang ingin saya tulis bukan masalah sekolah, akan tetapi suatu tradisi yang ada di Jepang yang diselenggarakan tiap tanggal 5 Mei. Tanggal 5 Mei adalah hari anak laki2 ( hari anak perempuan 3 Maret, seperti pernah saya tulis di sini ).

Tanggal 5 Mei merupakan hari libur nasional Jepang. Mulai akhir April sampai awal Mei di  Jepang banyak kita lihat ada seperti layang2 berbentuk ikan yang dipasang di rumah2 atau di tempat lain.  Layang2 berbentuk ikan ini disebut “Koi Nobori“. Koi memang berarti ikan “koi”, ikan hias di akuarium itu.  Nobori secara harafiah berarti “naik”.  Memang sepintas agak aneh artinu “koi nobori”, rupanya ada suatu cerita dibalik nama itu.

Menurut cerita lama, ada beberapa jenis ikan yang mencoba berenang mendekat ke air terjun.  Ikan-kan itu berusaha naik ke air terjun itu. Namun dari sekian banyak itu, hanya ikan “koi” yang berhasil  naik ke atas air terjun itu.  Ikan koi yang berhasil naik itu menjadi “naga”.  Semua itu mungkin menggambarkan bahwa ikan kecil itu diharapkan bisa semakin besar dan semakin kuat seperti naga. Pergantian bentuk ke naga itu untuk menggambarkan kesuksesan atau kebahagian yang lebih.

Hampir semua orang tua pasti menginginkan anaknya tambah besar, sehat,  sukses dan bahagia.  Bisa dikatakan orang tua akan berusaha melakukan semua demi anak.  Sebaliknya anakpun juga akan merasa bahagia jika diperhatikan oleh orang tua mereka.

Setiap keluarga yang punya anak laki2, maka di rumah mereka akan memasang “koi nobori” di rumah mereka. Oleh karena itu jika kita jalan kaki melewati rumah dan melihat “koi nobori” maka kita bisa tahu bahwa di rumah itu ada anak laki-laki.

Koinobori di pasang atau diikat di tiang. Di ujung tiap ada bola.  Bola ini disebut “bola naga”, yaitu penggambaran koi yang berhasil sampai di puncak air terjun. Di bawah bola ada roda yangbisa berputar bila kena angin yang menerpanya. Roda ini berjari-jari anak panah. Gerakan roda dan anak panah ini untuk menggambarkan “pengusiran pengaruh yang jahat”.

Yang paling atas dipasang “sarung angin” ( seperti yang kita lihat banyak di lapangan terbang untuk menunjukan arah angin). Sarung angin ini dibuat dari kain yang punya warna tertentu yaitu warna biru, merah, kuning . puith dan hitam. Warna2 itu merupakan simbol bagian atau unsur  alam yaitu air, api, kayu, tanah dan logam.  Letak di bagian atas ini untuk menggambarkan penangkal segala penyakit.  Ini sebagai salah satu wujud bahwa orang tua mengharapkan semua anaknya sehat.

Setelah “sarung angin” yang warna-warni tadi, akan kita lihat koinobori berwarna hitam dan dibawahnya berwarna merah. Koinobori hitam ini menggambarkan ayah atau bapak dan koinobori merah melambangkan ibu.  Bapak dan ibu sebagai pelindung ditampilkan di sini, baru kemudian ada koinobori yang lebih kecil bentuknya berwarna biru.

Berikut adalah salah satu koinobori yang sempat saya ambil gambarnya bukan disebuah rumah tetapi koinobori yang di pasang di jinja atau temple di Jepang.  Yang dipasang di rumah biasanya ukurannya lebih kecil, akan tetapi komposisi dan warnanya sama.

Koinobori ( simbol hari anak laki2 di Jepang ) - foto sapto

Koinobori ( simbol hari anak laki2 di Jepang ) - foto sapto

Bukan sayang tapi justru bikin susah anak

Masih teringat akan banyak kejadian “UN” ( Ujian Nasional ). Kalau dipikir betul semua itu dilakukan dengan dasar “sayang anak”, artinya untuk memajukan pendidikan anak. Namun demikian pada pelaksanaan dan hasilnya “tidak sesuai” bahkan terbalik, yaitu banyak anak sengsara karena UN itu.  Kalau memang untuk memajukan pendidikan dengan berusaha menyamakan “tingkat” kemajuan semua sekolah, caranya tidak hanya dengan UN, tetapi dengan cara “test kemampuan belajar” biasa.

Test kemampuan belajar ini tidak mempengaruhi kelulusan atau kenaikan kelas, tetapi semata-mata hanya untuk mengetahui kemampuan atau kemajuan murid. Dari hasil ini nanti bisa untuk evaluasi sekolah atau penyelenggara pendidikan. Jadi memang UN itu tidak perlu dan sebaiknya tidak usah diadakan, karena memang tidak mencerminkan “sayang anak”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: