Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Mae Purple

Teacher | Goweser | Nice Mom | Dreamer | Creative/ Smile

Wanita di Pojok Remang-remang

REP | 03 May 2013 | 21:18 Dibaca: 344   Komentar: 4   1

Sabtu, 27/04/2013 awalnya saya mudik kampong halaman, memang jadwal setiap sebulan sekali saya harus menjenguk Ibu di kampung halaman, karena ibu sedang sakit, sudah hampir enam tahun ibu menderita sakit strook.

Saat itu pukul 21.00 malam minggu, perut ini keroncongan dan kelaparan, di dekat rumah ibu ada penjual mie tek-tek yang lumayan enak, sayapun memesannya dua porsi bersama anak laki-lakiku. Sambil menikmati mie tek-tek, saya menikmati alunan music yang terdengar berisik tetapi bukan di sediakan di warung mie yang sedang saya nikmati, tapi dari warung yang ada di depannya, dan saat itupun suara berisik anak-anak ABG (anak baru gede) tertawa berbarengan dan bersahut-sahutan. “Bunda, ko ramai sekali di depan?” bunda adalah panggilan seorang wanita penjual mie tek-tek. “ biasa…tiap malam begitu, ABG yang menjual dirinya pada om-om hidung belang” saya tersenyum,dan mengintip dari kejauhan, benar sekali ada sekitar enam gadis yang masih ABG, usianya sekitar 16-18 tahun, mungkin mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. “ kok, anak-anak kecil?” “ya namanya ABG emang anak-anak sekolah”

Saya penasaran dan mendekat ke tempat itu, karena tempatnya sedikit redup dan remang-remang, “Astaghfirullah….gadis-gadis yang cantik, dengan busana yang mengundang sahwat, dengan rok mini jauh di atas lutut, baju singlet yang mengumbar auratnya, usianya yang masih ranum, Ia sedang tersenyum di pundak seorang laki-laki yang usianya jauh darinya, mungkin ia pantas untuk jadi anaknya, “ ya Allah…hati ini teriris, saya jadi ingat anak gadisku yang seusia dengan mereka, “ Naudzu bilah mindzalik”.

Yang lebih mengejutkan lagi, yang memiliki tempat itu adalah teman sekolah saya ketika duduk di bangku SMA, seorang teman yang pernah satu bangku dan main bersama, sedih rasanya memiliki teman yang berada di jalan yang sesat.

“Bunda….itu yang punya Ina?”(nama samaran)

“nya etakan temen maneh” bunda menjawab dengan bercampur bahasa sunda

“Astaghfirullah al adzim memang ga ada yang protes bun?”

“ya pernah ada, tapi katanya tuntutan ekonomi” jawabnya emang saya minta makan sama orang lain”.

Saya hanya bisa menarik nafas, bagaimana nasib bangsa ini, bila penghuninya wanita-wanita yang mengumbar auratnya, yang tak perduli lagi dengan nilai-nilai agama, jauh dari iman yang kuat, saya hanya bisa berdo’a kepada Allah, semoga mereka di beri Hidayah, dan petunjuk, amin. @maepurple

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 8 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 9 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: