Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Mae Purple

Teacher | Goweser | Nice Mom | Dreamer | Creative/ Smile

Wanita di Pojok Remang-remang

REP | 03 May 2013 | 21:18 Dibaca: 338   Komentar: 4   1

Sabtu, 27/04/2013 awalnya saya mudik kampong halaman, memang jadwal setiap sebulan sekali saya harus menjenguk Ibu di kampung halaman, karena ibu sedang sakit, sudah hampir enam tahun ibu menderita sakit strook.

Saat itu pukul 21.00 malam minggu, perut ini keroncongan dan kelaparan, di dekat rumah ibu ada penjual mie tek-tek yang lumayan enak, sayapun memesannya dua porsi bersama anak laki-lakiku. Sambil menikmati mie tek-tek, saya menikmati alunan music yang terdengar berisik tetapi bukan di sediakan di warung mie yang sedang saya nikmati, tapi dari warung yang ada di depannya, dan saat itupun suara berisik anak-anak ABG (anak baru gede) tertawa berbarengan dan bersahut-sahutan. “Bunda, ko ramai sekali di depan?” bunda adalah panggilan seorang wanita penjual mie tek-tek. “ biasa…tiap malam begitu, ABG yang menjual dirinya pada om-om hidung belang” saya tersenyum,dan mengintip dari kejauhan, benar sekali ada sekitar enam gadis yang masih ABG, usianya sekitar 16-18 tahun, mungkin mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. “ kok, anak-anak kecil?” “ya namanya ABG emang anak-anak sekolah”

Saya penasaran dan mendekat ke tempat itu, karena tempatnya sedikit redup dan remang-remang, “Astaghfirullah….gadis-gadis yang cantik, dengan busana yang mengundang sahwat, dengan rok mini jauh di atas lutut, baju singlet yang mengumbar auratnya, usianya yang masih ranum, Ia sedang tersenyum di pundak seorang laki-laki yang usianya jauh darinya, mungkin ia pantas untuk jadi anaknya, “ ya Allah…hati ini teriris, saya jadi ingat anak gadisku yang seusia dengan mereka, “ Naudzu bilah mindzalik”.

Yang lebih mengejutkan lagi, yang memiliki tempat itu adalah teman sekolah saya ketika duduk di bangku SMA, seorang teman yang pernah satu bangku dan main bersama, sedih rasanya memiliki teman yang berada di jalan yang sesat.

“Bunda….itu yang punya Ina?”(nama samaran)

“nya etakan temen maneh” bunda menjawab dengan bercampur bahasa sunda

“Astaghfirullah al adzim memang ga ada yang protes bun?”

“ya pernah ada, tapi katanya tuntutan ekonomi” jawabnya emang saya minta makan sama orang lain”.

Saya hanya bisa menarik nafas, bagaimana nasib bangsa ini, bila penghuninya wanita-wanita yang mengumbar auratnya, yang tak perduli lagi dengan nilai-nilai agama, jauh dari iman yang kuat, saya hanya bisa berdo’a kepada Allah, semoga mereka di beri Hidayah, dan petunjuk, amin. @maepurple

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 4 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 5 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 6 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: