Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ilyani Sudardjat

"You were born with wings, why prefer to crawl through life?"......- Rumi -

Uje: Wahai Nabi, Begitu Dahsyat Engkau Ada di Relung Hati Kami

REP | 03 May 2013 | 11:36 Dibaca: 818   Komentar: 13   5

Tadi pagi liat di TV, seminggu peringatan wafatnya ustad Jeffry Al Buchari, putrinya membacakan puisi yang begitu menyentuh tentang Nabi MUhammad SAW.

Isi puisi tersebut diantaranya:

’siapakah engkau ya Muhammad SAW,

begitu dahsyat engkau berada di relung hati kami,

seluruh penghuni alam ini membicarakan engkau…

jika bukan karena engkau ya Muhammad SAW,

sungguh kami tidak akan pernah mengenal Rabb kami….

Ehmm, indah dan dalem bgt. Sebenarnya yang ingin saya tulis adalah tentang Nabi Muhammad SAW dan ajaran beliau yang menjadi sebuah agama, yaitu Islam.

Aku jadi inget pernah membaca buku karangan Annemarie S, judulnya Dimensi Mistik Nabi Muhammad SAW. Buku itu menceritakan, mengapa hingga sekarang emosi umat islam ke Nabi masih demikian tinggi? Mengapa setelah 1300 tahun berlalu, seolah beliau masih demikian nyata disini?

Karena memang, sebuah agama tidak mungkin dilepaskan dari pembawa ajarannya. Bahkan dalam ritual syahadat, sholat, ada kewajiban membaca sholawat kepada Nabi SAW. Apalagi jika diiringi dengan pembacaan sholawat dalam zikir, ataupun nyanyian.

Tetapi rentang 1300-an dari sebuah agama, akan membawa banyak konsekuensi dari berbagai tafsiran terhadap apa yang dilakukan Nabi SAW. Itulah yang tampak dari begitu banyaknya perbedaan-perbedaan tafsir terhadap sejarah  setelah wafatnya Nabi.

Kepentingan politik banyak berpengaruh terhadap tafsir sejarah ini. Dan penguasa yang berkuasa juga berperan dalam menentukan apakah sebuah tafsiran sesuai dengan kepentingan politiknya ataukah mengancam kepentingannya.

Dalam kondisi seperti ini, tentu selalu ada ulama yang bisa berlaku lurus dan independen terhadap kepentingan politik. Yang selalu mencari ilmu sepanjang usianya. Dan kemudian meninggalkan kepada kita beribu atau beratus tahun kemudian kitab-kitab yang menjadi cahaya penerang yang masih kita baca.

Tetapi, itupun aku masih tidak bisa mengabsolutkan bahwa apa yang disampaikan oleh ulama tersebut ‘mutlak’ benar. Yang mutlak itu hanya milik Allah SWT.

Karena pemikiran ulama itu sendiri bisa berubah. Aku jadi ingat Maulana Jalaludin Rumi (sufi Persia, 1207 M). Sebelum bertemu Syamsudiin Tabriz, dia adalah ahli fikih yang keras. Kemudian datang seorang sufi pengembara, Syamsudin Tabriz.

Malam-malam mereka berdiskusi berbagai ilmu. Hingga sahabat sejatinya ini tiba-tiba menghilang. Yang menimbulkan duka sangat dalam bagi Rumi. Kemudian Rumi berubah menjadi sufi, dengan tarian darwisnya, dan pengikut dari berbagai agama.

Rumi berzikir dan menari dengan cinta. Dia seorang sufi, tetapi dengan pengamalan ibadah yang disiplin terhadap dirinya sendiri, sehingga Annemarie S ketika menuliskan kembali sejarah Rumi menyebutkan bahwa saking khusyu’ dan lamanya dia sholat, janggutnya hingga membeku di musim dingin.

Tetapi apa jadinya, jika yang kita baca adalah buku Rumi sebagai ahli fikih yang keras itu? Mungkin itulah yang akan diikuti orang, dianggap sebagai kebenaran, sementara pemikiran Ruminya sendiri sudah berubah. Syukurnya, ketika itu Rumi tidak meninggalkan sebuah buku. Atau belum diketemukan kali.

Hampir sama dengan Sayyid Qutb. Sebelum dipenjara, orasinya lebih memberi motivasi pemuda dan pemimpin islam untuk merdeka, kembali ke agama. Tetapi setelah dipenjara dan disiksa sedemikian rupa dibawah rezim Nasser, dia menulis buku yang memberikan tafsiran sejarah islam dikaitkan dengan koteksnya masa itu dengan sangat ‘mengerikan’.

Intinya, dia melakukan pembenaran terhadap pembunuhan dan bom bunuh diri, dengan alasan sekarang ini umat sedang mengalami masa jahiliah. Inilah awal ‘pembenaran’ terhadap bom bunuh diri, yang sebelumnya tidak pernah ada presendennya dalam sejarah Islam. Sayyid Qutub sendiri dihukum mati oleh pemerintah Mesir, tetapi buku-bukunya menginsiprasi kelompok radikal islam.

Makanya benarlah jika Nabi Muhammad SAW menyebutkan dalam hadistnya, bahwa menuntut ilmu itu sepanjang usia. Dari buaian hingga ke liang kubur. Karena ilmu yang kita dapat hanya setetes saja dari luasnya kazanah ilmu Allah SWT.

Kadang apa yang kita dapat, informasi yang kita ketahui, pengalaman yang kita alami, bagaikan pecahan puzzle.  Untuk menyempurnakan puzzle itu menjadi sebuah gambaran utuh, betapa banyak kepingan-kepingan yang harus dikumpulkan.

Jadi inget hadist Nabi SAW  “mintalah fatwa kepada hatimu, sesungguhnya kebaikan itu adalah ketika hati menjadi tenang ketika melakukannya, sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang membawa kebimbangan dan kegelisahan dalam dada…(HR.Ahmad)…Inilah hadist yang memberikan independensi manusia untuk memutuskan, tentu berdasarkan ketajaman hati/intuisinya dan kekuatan nalarnya.

Tau ya, nulis gini karena sedih aja kalo ada orang yang mempermasalahkan perbedaan-perbedaan tsb. Rasanya seperti kembali ke zaman kegelapan, ke masa purba, kalo mengklaim kebenaran miliknya sendiri dan hobi bgt ngulik-ngulik keyakinan orang lain.

Keyakinan, ini adalah tentang aku dan Dia….hubungan yang sangat pribadi….

“Knock, and He’ll open the door,

Vanish, and He’ll make you shine like the sun,

Fall, and He’ll raise you to the heavens,

Becomes nothing, and He’ll turn you into everything….” - puisinya Rumi -

Ya sudah gitu saja, Selamat hari Jumat, Salam Damai dan Salam Kompasiana!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 8 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 8 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: