Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Tutup Buku Buka yang Baru ‘18f’

REP | 03 May 2013 | 21:39 Dibaca: 136   Komentar: 0   0

Semester ganjil (XII)

1. Di awal masuk kelas XII, sikapku berubah yah? Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan dengan sikapku. Kehidupan baru membuat ku terasing, dan ingin mengasingkan diri. Jadi, bukan semata – mata aku marah atau benci padamu. Anggap saja Dhea Wulandari yang kau kenal sedang hibernasi

2. Aku selalu mengatakan ‘bahagia’ untuk kelas baruku, jauh dari itu semua aku berbohong. Aku ingin kau sakit hati karena mengira sudah ku format memori kelas XI dulu, aku ingin kau membalas ucapanku dengan hal yang sama, yaitu membanggakan kelasmu. Aku ingin kau termotivasi untuk menikmati kehidupanmu di kelas yang baru. Padahal ku lakukan itu semua untuk menguatkan hatimu, sama halnya denganmu aku masih terperangkap memori tahun lalu. Dan sedih mengingat kita tak akan bisa ukir cerita yang sama layaknya dulu.

3. Belakangan ini, dari jauh ku perhatikan kau banyak melamun. Sengaja tidak ku tanya, aku ingin kau terbiasa dengan menguatkan hatimu sendiri. Dengan kehidupan baru di kelas yang tak kau suka, kau harus terbiasa!

4. “jangan cengeng, kendalikan hatimu!!”

5. Lega sekali, akhirnya kau bisa beradaptasi dengan baik meski aku tahu hatimu tetap tak menyukai lingkungan baru. Tapi hey, sejauh ini peran manipulasi publikmu berjalan dengan baik =)

6. Teman barumu membuatmu nyaman yah? Sampai kau bilang dia sudah kau anggap saudaramu sendiri. Iyan namanya. Sadarkah kau, semenjak kalian saling mengenal dan kau berbagi masalahmu padanya (bukan padaku) kita menjadi semakin jauh. Aku tidak melihat lagi sosokmu yang ku kenal. Mungkin kau merasa tidak merubah sikapmu, tapi aku merasakan kebalikannya. Melihatmu, aku merasa berhadapan dengan sosok lain yang belum pernah ku temui sebelumnya.

7. Memperhatikanmu riang berkawan dengan teman baru, hatiku ngilu. Aku cemburu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut kau melupakanku. Entah kenapa mempunyai perasaan seperti itu. Bodoh yah.

8. Saat berpapapasan, aku ingin mengobrol. Tapi acuh kau menatapku. Aku merasa kau tak peduli lagi padaku. Kau mengacuhkanku. Aku kesal. Jadi melakukan hal yang sama. Menjauhimu.

Semester genap (XII)

9. Ujian praktek olah raga, wajahmu pucat sekali. Ingin sekali berteriak “berhenti! Jangan diteruskan!’’ atau meneriaki ceria layaknya cheer leader “semangat dede”. Tapi tentu saja, tak akan ku lakukan.

10. Saat kau merebahkan tubuhmu di pinggir lapangan setelah interval training, aku bisa merasakan pasti sakit sekali. Tapi hey, Kau harus jadi laki – laki yang kuat!

11. Ujian praktek kesenian, kau menakjubkan dengan karakter baru di dramamu. Aku tak bisa menontonnya. Kesal sekali karena jadwal ujian praktek kita berbentrokan. Aku harus mengikuti ujian praktek PAI. Ketika berlari secepat mungkin untuk kembali ke kelas mu, drama kelompokmu nyaris selesai. Aku sedikit saja melihat peranmu di menit terakhir dengan berdiri di pojok kiri belakang kelasmu. Mungkin kau tidak tau =(

12. Kamis, 28 maret 2013 sikapmu berubah. marahkah? Kenapa selama itu?

13. Panik. Perubahan sikapmu membuat hari – hariku tak padu, malas sekolah jadinya. Kenapa? Ada apa dengan sikapmu? Kenapa acuh membalas semua pesanku?

14. Seandainya kau tahu paniknya aku saat perubahan sikapmu -,- . Kelak Kau bisa melihatnya di yaumil akhir :o

15. Jum’at 05 april 2013 akhirnya bisa ngobrol lagi setelah 9 hari pasca *marahmu*, dalam rangka menjelaskan kejadian tempo hari. Bodohnya, aku malah menjadi sosok cengeng. Memalukan sekali. Padahal sudah ku tahan sekuat mungkin supaya tidak menangis. Kau tahu, ada sebagian besar lagi hal yang ingin ku katakan namun tidak sempat terucap. Terbendung tangis. Lidah jadi kelu pun hati turut ngilu =(

16. Rabu, 10 april 2013 jadi imamnya terlalu cepat, lain kali diperlamabat yah! Ma’mum yang lain pada protes tuh =)

17. Jum’at, 12 april 2013 sikapmu dingin, mungkin kau punya alasannya? Tapi tak ku tanyakan, yang ingin ku katakan hanya satu “jangan merubah sikapmu, di sisa waktu yang semakin singkat’’

18. Senin 15 – 18 april 2013, kau selalu masuk ke ruang ujianku. Meski hanya untuk menemui kiki, sahabatmu.

19. Rabu, 17 april 2013. Di depan ruang v saat membicarakan terdakwa yang melalap mangsa, aku sempat mengatakan “de, besokkan UN terakhir, kita ke kerawang yuk? Eh Bohong de, becanda hehehe” padahal sebenarnya aku ingin tahu hari esok kau sibuk atau tidak. Padahal sebenarnya ingin sekali mengatakan “de, besok anter beli gitar yuk?” walaupun kau bukan orang yang tepat untuk menemaniku membeli gitar, karena sama halnya dengan ku kaupun sangat asing dengan alat musik petik itu. Tapi aku ingin membelinya denganmu. Mengingat esoknya tanggal 18. Tanggal istimewa. Tepat saat itu juga kita selesai UN. Momen yang beda =) Aku ingin gitar baruku mempunyai filosofi, yaitu membelinya bersamamu di waktu yang tidak biasa. Dan semuanya gagal, hanya karena aku tidak berani mengatakannya.

20.Mengutip kata – katamu: ‘saling sayang tanpa harus pacaran’

21. (sedikitpun) tidak ada niat ingin memilikimu. Tapi (saat ini) kau tidak boleh dimiliki oleh siapapun. [ perasaan ini yang aku benci dalam diriku ]

22. Mungkin terlalu cengeng untuk mengatakan “aku tidak ingin berpisah darimu” meski itulah yang ada di dalam hatiku saat kita bersama

23. Maaf bila kadang salahku melukai hatimu, maaf sering berfikir negatif tentangmu, maaf tak selalu ada saat kau membutuhkanku, maaf aku tidak bisa menunjukkan sikap peduliku. Lebih dari itu semua, aku selalu ada di belakangmu. Meski kau tidak pernah mengetahuinya. Jangan khawatir, walau kelihatnnya aku menghilang tapi sebenarnya aku selalu memperhatikan dari jauh, dan akan merangkulmu dengan caraku. Tidak semua sikap simpatik harus ditunjukkan dengan cara yang manis bukan? Biarlah caraku tidak terlihat matamu. Inilah aku. Semoga kau bisa mengerti.

24.Inginku kita bisa selamanya seperti ini, tiap tutur kata selau diiringi tawa, setiap masalahmu kita pecahkan bersama. Setiap hari saling mengirimi pesan. Aku harap semua itu mampu bertahan lama. Hingga sampai dimana harus ku relakan kita berpisah. Meski aku ragu untuk bisa melakukannya.

25. Senang bisa mengenalmu. Terimakasih. Semoga selamanya kau bisa mengenangku.



Seseorang yang bersembunyi dibalik ceritamu


Dhea Wulandari

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 8 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: