Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Saya Memang Cacat, Tapi Hanya Satu Kaki Saja!

REP | 03 May 2013 | 08:04 Dibaca: 441   Komentar: 21   9

Allah memang punya caranya sendiri untuk mengingatkan saya. Ya, saya mendapat peringatan dari Allah beberapa hari yang lalu. Dengan caranya Allah, halus sekali! Menakjubkan! Saya pun jadi malu setelah menyadarinya. Terimakasih ya Allah.

Sekitar dua minggu yang lalu, saya dilanda kegalauan! Ternyata, kalian harus percaya bahwa galau tidak hanya menimpa remaja labil, bahkan mungkin bisa melanda semua orang, usia berapapun! Kegalauan saya bukan tentang cinta kepada lawan jenis, lebih kepada galau tentang masa depan! Cemas! Terlebih kondisi saya yang cacat, sepertinya susah sekali mencari pekerjaan dengan kondisi seperti ini. Huh!

Sempat beberapa malam tidak bisa tidur hanya memikirkan masa depan yang masih belum jelas. Padahal, seorang bijak pernah berujar, “Janganlah kalian merisaukan masa depan, toh yang kalian risaukan belum tentu terjadi bukan?”.

Memang setelah selesai mengabdi di pedalaman Kalimantan, saya resmi menjadi pengangguran dan harus mencari pekerjaan untuk bisa melanjutkan kehidupan. Nah saat itulah saya galau, selalu berpikir bahwa orang cacat seperti saya pastilah susah mencari pekerjaan di negeri ini! Tapi kemudian Allah mengingatkan saya untuk selalu bersyukur melalui lima kejadian beruntun kepada saya.

Kejadian pertama!

Saya liburan dua minggu di kampung. Menjenguk orang tua dan melepas kangen. Memang tidak banyak yang berubah di rumah. Namun kini saya memiliki tetangga baru yang ternyata kedua kakinya cacat. Dua-duanya kecil. Tapi ia tenang dan damai! Tidak risau apalagi galau! Ia mampu hidup dengan keahliannya menjahit. Ah, malu sekali saya jika melihatnya!

Kejadian kedua!

Setelah dua minggu liburan, saya memutuskan kembali ke Bogor untuk mengadu nasib disana. Di pesawat menuju Bogor, lagi-lagi Allah mengingatkan saya melalui seorang bapak, usianya memang tidak bisa dikatakan muda lagi, mungkin sekitar 50 tahunan. Ia tidak bisa berjalan sama sekali, hanya duduk di kursi roda dan di dorong! Saya tertegun melihatnya, “Ya Allah..” batin saya kala itu, “Harusnya saya lebih banyak bersyukur dibandingkan hanya terus menerus mengeluh”

Kejadian ketiga!

Setelah turun dari pesawat, saya menunggu damri menuju Bogor. Saya duduk di kursi tempat biasanya orang menunggu damri. Saya duduk di samping lelaki muda berjaket jeans dan wangi.

“Mau kemana mas?” sapa saya ramah.

“Ke Bogor..” jawabnya, “Kalau mas?” dia bertanya balik.

“Ke Bogor juga..”

“Tadi dari mana?” dia jadi lebih banyak bertanya.

“Dari bengkulu, liburan” jawab saya sambil tersenyum. “Kalua dari logatnya, mas juga dari Sumatera ya?” saya menebak.

“Iya, saya dari Padang” jawabnya.

Kemudian mata saya tertegun melihat sepasang tongkat di sampingnya. Sejak tadi saya tidak menyadari keberadaan tongkat itu.

“Ini tongkat siapa mas?” tanya saya penasaran sambil menunjuk tongkat yang ada di sampingnya.

“Oh.. itu punya saya.. kedua kaki saya tidak berfungsi lagi, kata dokter sarafnya terganggu”

“Oh maaf mas, maaf..” kata saya, “Saya juga cacat..” saya kemudian mengangkat celana bagian kanan. Menunjukkan kepadanya bahwa kaki kanan saya kecil dan cacat.

Kemudian kami lepas ngobrol ngalor-ngidul. Mungkin karena kesamaan nasib malang kami yang membuat kami tak bersekat. Padahal baru pertama kali itu bertemu dan kenal. Ia bercerita bahwa ia sudah bekerja dan berkeluarga. Ah lagi-lagi saya malu kepadanya!

Kejadian keempat!

Sampai di damri Baranang Siang. Saya dijemput adik saya menggunakan motor. Di perjalanan, lagi-lagi Allah mengingatkan saya, ia tampakkan seorang lelaki klimis dan rapi. Menggunakan jaket dan tas di punggungnya. Ia tersenyum ramah dan manis sekali. Tapi, saya melihat sebuah tongkat di sisi kirinya, menopang tubuhnya. Ya Allah, kaki kirinya buntung! Saya semakin malu sama Allah!

Kejadian kelima!

Keesokan harinya, saat saya hendak ke Parung, menemui seseorang. Di angkot, lagi-lagi Allah memperlihatkan kepada saya seorang ibu yang kakinya juga sakit (cacat). Dengkulnya sudah lemas dan sakit jika digunakan untuk berjalan. Masya Allah, saya malu!

Seperti yang pernah saya katakan melalui tulisan-tulisan saya sebelumnya, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi sesuai kehendak Allah dan pasti ada hikmah serta penyebabnya. Seperti kelima kejadian beruntun yang saya alami di atas! Saya tahu bahwa Allah sedang menegur saya untuk tidak mengeluh dan putus asa, untuk terus bersemangat! Saya memang cacat! Tapi lihatlah, masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dari saya dan mereka bisa hidup bahagia!

Saya memang cacat! Tapi hanya kaki kanan saja! Masih ada dua tangan yang kuat, ada otak yang hebat! Ternyata masih banyak kelebihan yang harus disyukuri dan dinikmati. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk meratapi kelemahan kita!

Selamat Pagi, semoga kita selalu bersemangat!

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 2 jam lalu

PDI P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 16 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 17 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: