Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Esang Suspranggono

saya ini hanya orang bodoh yang selalu ingin belajar, bermimpi untuk dapat melihat keindahan setiap selengkapnya

Hari Demo Nasional

OPINI | 02 May 2013 | 18:23 Dibaca: 110   Komentar: 0   0

….Sedikit jenuh dengan keadaan di negeri ini, setiap hari selalu saja terdengar kata demonstarsi di berbagai daerah. lumrahnya negara demokratis adalah berdemo, namun apakah selalu dengan kekerasan , pengerusakan dan tindak anarki lainnya?

Mei selalu saja menjadi bulan yang menjadi kegiatan rutin untuk berdemo. Seperti tanggal 1 Mei kemarin yang di peringati sebagai hari buruh sedunia. Selalu saja setiap tahun kegiatan demo buruh yang melibatkan banyak massa dari berbagai daerah baik di ibu kota maupun di berbagai daerah. aksi demoyang  menjadi berita utama yang menghiasi layar televisi maupun media cetak.

Tuntutan setiap tahunnya pun selalu sama, penghapusan sistem kerja outsourching , kehidupan buruh yang lebih layak. Selalu hal itu yang digaung – gaungkan para buruh di negeri ini. Dengan mengandalkan banyak masa para buruh berbondong – bondong menuju gedung – gedung pemerintahan menuntut hak mereka. Dan anehnya pemerintah hanya berkata iya – iya dan iya sebagai pelega uneg – uneg buruh saja.

Lain buruh lain pula dengan Hari Pendidikan di negeri ini. 2 Mei juga di peringati dengan Hari Pendidikan Nasional. Kalau jaman dahulu nih setiap tanggal 2 Mei saya selalu mendengarkan sambutan pidato dari Menteri Pendidikan atau Gubernur . Namun akhir – akhir ini justru para Gubernur dan Menteri Pendidikan harus mendengar pidato berupa aksi anarkis dari kaum yang konon katanya terpelajar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa aksi demo di negeri ini banyak sekali diidentikan dengan aksi kerusuhan, pengerusakan dan kekerasan terlebih saat masyarakat berdemo pihak pemerintah seakan tidak perduli dengan aspirasi mereka. Boro – boro mereka peduli, pintu gedung pemerintahan pun ditutup rapat – rapat dan di pagari dengan aparat keamanan. Sungguh logika yang nyeleneh, dimana seharusnya para pejabat pemerintahan menemui dan berdialog dengan para demonstran untuk mendengar dan memberikan jalan keluar. Bukan dengan dengan hal yang sebaliknya yang justru anti suara rakyat. Toh kalau pun mereka diajak berdialog dengan perut yang terisi , otak yang dingin pasti aksi demo di negeri ini tidak perlu menggunakan aparat untuk mengawal jalannya demosntrasi.

Lain pemerintah lain pula aksi para pendemo. Entah itu buruh, kaum yang katanya intelek pun seakan berdemo dengan cara yang sangat primitif. Demo dengan koar – koar kalau tidak didengar aspirasi mereka, mereka akan melakukan tindakan brutal, merusak dan sebagainya. Sudah tahu jika bedemo dengan gaya klasik akan menhasilkan hasil yang sama namun tetap saja dilakukan. Seharusnya sebagai orang yang berpendidikan kita bisa sajakan berdemo dengan cara yang seharusnya pantas. Tidak perlu dengan merusak atau pun dengan kekerasan.

Saya hanya membayangkan seandainya di negera ini ada sebuah hari nasional untuk berdemo mulai dari pagi hingga malam dan semua pihak yang terkait datang untuk menghadiri demo. Katakanlah jika hari demo di tetapkan pada hari tertentu dan di sebuah tempat yang sangat luas. Dalam satu hari itu semua elemen masyarakat boleh menyampaikan aspirasinya di tempat tersebut secara bergantian dengan kreasi penyampaian demo yang berbeda.

Bagi para buruh yang ingin menyampaikan aspirasinya mereka dapat menunjukan ketrampilan ketrampilannya sebagai seorang pekerja yang seharusnya layak di gaji dengan upah yang tinggi. Dengan begitu mereka bisa menunjukan kepada pemerintah, pelaku bisnis ataupun kepada pihak tertentu bahwa para buruh bukan sekedar b-u-r-u-h saja. Melainkan seorang karyawan yang memiliki kompeten yang bersaing. Sedangkan bagi kaum terpelajar seharusnya mereka malu dengan latar belakang pendidikan yang konon katanya di negeri ini untuk masuk di perguruan tinggi butuh biaya yang jutaan hingga ratusan juta rupiah. Sebuah latar belakang pendidikan yang sakral bagai kaum tidak mampu yang ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga para investor paham jika mereka berinvestasi di Indonesia mereka akan menggunakan tenaga – tenaga yang berkualitas bukan dengan pekerja yang seadanya.

Bagi pelajar / mahasiswa yang ingin menuntut kehidupan pendidikan yang lebih baik mereka bisa saja kan berdemo dengan sebuah aksi yang benar – benar menunjukan kelasnya sebagai kaum terpelajar. Seperti menampilkan kreasi anak bangsa yang memperoleh  prestasi di dunia, atau dengan aksi teater tentang kehidupan pendidikan di daerah mereka , atau bahkan bisa pula diadakan lomba debat internasional sebagai ajang unjuk gigi kemampuan kamu terpelajar kita sehingga mampu menarik perhatian para pejabat di negeri ini untuk lebih peduli.

Sekedar mengingat saja dahulu Ki Hajar Dewantara mengajarkan pendidikan bertujuan untuk menciptakan manusia Indonesia yang berpikir bukan untuk menjadi seorang yang berperilaku anarki. Sedangkan sekarang ???

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 7 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 11 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 12 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 13 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: