Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Aka

Hanya pemuda biasa. Tak banyak ilmu dan kuasa. Hanya mencoba. Ungkapkan rasa cinta yang ada. Cinta pada Rabb-nya. Yang tak selengkapnya

Belajar Itsar dari Para Sahabat

REP | 01 May 2013 | 19:25 Dibaca: 659   Komentar: 0   0

Secara umum itsar (الإيثار) adalah mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. Satu sifat yang mungkin sudah agak sulit kita temukan kini. Padahal itsar adalah salah satu akhlak yang paling utama. Bahkan dalam beberapa tulisan tentang tingkatan ukhuwah, itsar berada pada tingkatan tertinggi dalam implementasi ukhuwah islamiyah. Hal ini dirasa sangat wajar jika kita merujuk pada salah satu hadits nabi, “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).


Alangkah indahnya dunia ini jika setiap orang bisa mengamalkan hadits tersebut dengan sempurna. Alangkah damainya bumi yang kita tinggali ini jika orang-orang mampu menjadikan kepentingan orang lain lebih utama ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Walau kenyataan yang kita hadapi kini mungkin cukup jauh panggang dari api.


Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa konsep itsar ini merupakan satu sikap yang sangat sulit ditemukan baik dulu hingga kini. Karena banyak anggapan yang menyatakan bahwa fitrah manusia adalah mendahulukan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan orang lain dan agak sulit dibayangkan ada seseorang yang mau mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri. Namun sungguh mudah contoh implementasi itsar ini kita temukan padadi masa generasi terbaik umat ini. Yaa, kita akan dengan mudah mendapat berbagai kisah hikmah tentang Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya yang berhasil memberikan teladan mulia akhlak itsar.

Begitu besar kemuliaan yang akan disandangkan bagi mereka yang mampu melakukan itsar dalam kehidupannya. Ada banyak ganjaran kebaikan yang telah menunggu bagi mereka yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Beberapa keutamaan dari akhlak itsar diantaranya:


Dicintai Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda,

Orang yang paling dicintai olehAllah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada oranglain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf dimasjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)

Dicintai manusia

Hanya dengan menggunakan logika sederhana saja kita akan dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa sifat itsar ini akan mampu menghadirkan rasa cinta orang lain kepada mereka para pelakunya.

Sahl bin Sa’d as-Sa’idy–radhiallahu ‘anhu berkata, “Seseorang mendatangi Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekalian manusia.” Rasulmenjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu akan dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat hasan)

Jika seorang yang zuhud  terhadap apa yang dimilikinya di dunia akan dicintai oleh saudara-saudaranya, kerabat dan teman-temannya. Maka, itsar, mendahulukan kepentingan saudaranya dibandingkan dengan dirinya sendiri,pasti  akan menumbuhkan kecintaan yang lebih besar daripada itu. Karena tabiat seseorang adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan berkorban untuknya.


Dimudahkan urusannya di dunia dan di akhirat

Dalam salah satu hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) didunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Seseorang yang gemar membantu orang lain, memudahkan banyak urusan orang lain, bahkan  lebih mengutamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri tentu akan memperoleh banyak simpati dari orang-orang di sekitarnya, terlebih lagi oleh mereka yang pernah dimudahkan urusannya dan dibantu penyelesaian masalahnya sehingga akan menimbulkan rasa hutang budi. Oleh karena itu, orang lain yang pernah dibantu tersebut tentu akan berupaya untuk membalas kebaikan orang yang telah membantunya itu.

Selain tiga kebaikan yang telah disebutkan di atas, tentu ada masih banyak lagi hikmah dan kebaikan yang akan muncul dari adanya sifat itsar dalam diri manusia.

Belajar dari Para Sahabat

Para sahabat Rasulullah SAW telahberhasil membuat kita terpana dengan baiknya akhlak mereka. Mereka yang pernah bertatap muka dan ditarbiyah langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan sangat mengagumkan mampu mempraktekkan sikap itsar dan akhlak baik lainnya yang telah lebih dahulu dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan mereka bahkan diakui lewat sabda nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku (sahabat) , kemudian setelah mereka (Tabi’in), kemudian setelah mereka(Tabi’ut tabi’in)” (HR. Bukhari).

1. Kisah tiga sahabat di perang yarmuk

Ini mungkin salah satu kisah yang paling menyentuh dari banyak kisah sahabat yang pernah diriwayatkan. Kisah tiga orang sahabat Nabi di Perang Yarmuk yang dengan sempurna memberikan contoh kepada kita tentang apa itu itsar. Kisah ini terjadi pada akhir Perang Yarmuk. Saat itu ada tiga orang mujahid yang terkapar dalam kondisi kritis. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan Ikrimah bin Abu Jahal.

Ketika itu Al-Harits meminta air minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia mengetahui kondisi Ikrimah juga dalamkeadaan yang mengkhawatirkan sepertiyang ia alami. Lalu ia pun berkata kepada si pembawa air,  ”Berikan dulu kepada Ikrimah,”. Seketika itu pula si pembawa air menuju tempat Ikrimah tergeletak tak berdaya untuk memberikan air kepadanya. Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok kepadanya. Ia juga melihat Ayyash sedang dalam kondis kritis seperti dirinya atau bahkan mungkin lebih parah lagi. Lalu dengan tegas Ikrimah berkata kepada si pembawa air,  ”Berikan dulu kepada Ayyasy!”. Si pembawa air pun langsung menuju tempat Ayyash. Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, ternyata didapatinya Ayyashs telah syahid. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun ia juga mendapati bahwa keduanya telah menemuisyahidnya.


2. Kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim

Abu Hurairah berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda: “Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.

Maka berdirilah salah seorang Anshar, yaitu Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan,apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua suami-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullahlalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .

Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q.S.Al-Hasyr :9).

Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.


3. Kisah Pembebasan sumur oleh Utsman Bin Affan.

Setelah kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka kembali mendapatkan kesulitan. Ternyata sumber air utama di kota itu berupa sumur yang telah dimonopoli oleh pemiliknya yakni seorang Yahudi. Air dijual dengan harga tinggi oleh pemiliknya itu.

Hal ini membuat kaum muslimin mengalami kesulitan, karena di tanah arab tidak terdapat sungai dan jauh dari sumber air, maka sumur itu menjadi salah satu sumber kehidupan yang sangat penting.

Kemudian Rasulullah SAW menyerukan kepada para sahabat agar ada yang bersedia membeli sumur itu untuk dipergunakan bagi kepentingan ummat. Utsman bin Affan tidak menyiakan kesempatan itu, beliau menyambut seruan Rasulullah dengan mendatangi tempat Yahudi pemilik sumur.

Awalnya yahudi itu mematok harga sumur  tersebut 20.000 dirham. Namun, karena yang membeli seorang muslim, dia ingin memperoleh keuntungan yang sangat besar dari sumur tersebut, si Yahudi bergeming tidak ingin menjual sumurnya. Utsman tak kalah cerdik, demi kepentingan ummat Islam, beliau melakukan negosiasi, beliau bersedia membayar 60% dari harga yang ditetapkan, yakni dengan harga 12.000 dirham (seharga 2,5 kgemas saat itu) dan sumur itu digunakan bergantian, sehari jatah si Yahudi menjual air sumur, sehari kemudian milik Utsman menjual air sumur. Tentu sajaYahudi itu setuju, karena dia berpikir akan menerima keuntungan berlipat ganda.

Pada giliran hak Utsman, maka umat muslim diperbolehkan mengambil air gratis bahkan dihimbau mengambil air sebanyak-banyaknya yang cukup untuk 2 hari. Maka ketika tiba giliran hak Yahudi, tidak satupun orang yang membeli air. Si Yahudi merasa sangat rugi karena tidak ada lagi yang membeli airnya, maka akhirnya dijual sisa haknya atas sumur itu kepada Utsman dengan harga 8.000 dirham. Sejak saat itu sumur tersebut dapat dimanfaatkan dengan mudah bagi siapa saja, termasuk si Yahudi tadi.

Itulah sedikit kisah dari para sahabat Rasulullah SAW dalam mengimplementasikan nilai itsar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang pernah langsung menatap wajah Rasulullah, berjalan bersama beliau, dan ditarbiyah langsung oleh Rasulullah seperti begitu mudahnya menerapkan nilai itsar dalam kehidupan mereka. Semoga kita juga bisa melakukan apa yang telah dicontohkan oleh mereka dan menunjukkan pada dunia bahwa islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.


Wallahu a’lam bis shawab.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 3 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 5 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 9 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 11 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: