Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rifki Feriandi

Aku menulis maka aku bahagia ...

Kompasiana Itu Penuh Kebencian Mari Berkaca Dari Kematian Uje

HL | 28 April 2013 | 09:01 Dibaca: 3192   Komentar: 110   38

1367221330298163451

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Kompasiana itu penuh kebencian
mari berkaca dari kematian Uje

Baru sehari Uje meninggal, saat saya menerima inbox. Isi inbox itu hanya satu kalimat, dan bukan menyangkut Uje. Isinya itu ‘Kompasiana itu penuh kebencian. Saya mungkin lebih baik mundur’.

Memang saya pahami banyak sekali tantangan menjadi penulis di Kompasiana. Salah satu tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghadapi tulisan yang beraroma negatif, pendeskreditan, pemaksaan kehendak dan pendapat dan berujung kepada penebaran kebencian. Tulisan-tulisan itu bisa berbentuk artikel atau dalam sebentuk komentar.

Lalu apa hubungannya dengan kematian Uje?

Kawan,

Tadi pagi saya menerima sms yang cukup menyentak berbunyi: ‘ Bgtu cpt, mlm ini jd Mlm PERTAMA di Alam KUBUR bg Uje, pdhl kmrn mlm msh brgmbira brsma Klrg & shbt. Bgmn jk mlm ini jd mlm trakhir kt d dunia & bsk kt mnysul?’.

Kita lihat seorang Uje. Meninggal mendadak, tanpa diduga. Ditangisi kepergiannya. Diingat kebaikannya. Ribuan menyolatkan. Ribuan mengantar ke kuburan. ….Itulah hasil dari sebuah kebaikan.

Lalu bagaimana jika hal itu menimpa seorang Kompasianer yang pagi dan siang ‘membakar’ lapak orang, dilanjutkan berdebat pedas dalam komentar, atau sekedar berkomentar yang menyakitkan. Tulisannya penuh kebencian. Lalu takdir berkata dia harus mati dalam tidur. Padahal dia sehat. Padahal dia tidak bermotor bermobil. Padahal dia aman dari kecelakaan dengan tinggal dan kerja di rumah.

Dia mati saat orang lain tersakiti (atau disakiti). Dia meninggal kala mulutnya pedas memenggal
…..tanpa sempat meminta maaf
…..tanpa sempat membalik kata yang telah terucap
…..tanpa sempat menjelaskan
Meninggalkan orang lain tersakiti dengan ucapan lisan dan tulisan

Lalu. ..
kematiannya dinistakan
kehilangannya disyukuri
yang diingat hanya kebenciannya

Kawanku, utamanya bagi mereka penebar kebencian - siapapun itu

Mari yok kita belajar sopan santun di Kompasiana agar rumah ini benar-benar menjadi rumah sehat. Dengan sopan santun beretika dalam menulis, langsung tidak langsung kita akan berandil dengan munculnya generasi muda yang santun dan beretika.

Kawanku, yang merasa menerima kebencian

Mari juga kita merespons kebencian itu dengan santun dan dengan baik. Jika tidak bisa, diamkan saja. Bukankah namanya bertepuk jika dilakukan sebelah tangan. Janganlah terpancing dengan kebencian, apakah alasan itu.

‘Kebencian yang Anda bawa adalah bara yang berpijar dalam hati-jauh lebih merusak diri Anda daripada merusak mereka yang Anda benci’.

‘Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that’ Martin Luther King, Jr.

Mari berkaca kepada Uje. Jika Tuhan mengambilmu sekarang, dan pagi ini adalah pagi terakhir kita sebagai penulis, wahai Kompasianer. Diingat kebaikannya. Disesali kepergiannya. Kekal karya dan amal baiknya.

Tags: uje

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: