Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Roman Rendusara

Roman Rendusara, adalah nama pena. Lengkapnya, Oswaldus Romanus Minggu. Saya dilahirkan di kampung Kepi, Rajawawo, selengkapnya

Aku, Jenuh (dan) Flores Pos

REP | 27 April 2013 | 07:44 Dibaca: 460   Komentar: 2   0

HMMM… permainan yang membosankan. Tapi tetap saja bertahan di atas papan keyboard komputer jinjing. Sudah sekitar lima jam berlalu sejak petang tadi. Game catur kesukaan telah dilahap. Walau kekalahan terus melibasku. Sebenarnya bukan kekalahan. Hanya saja aku belum hebat melawan program komputer yang canggih. Rasa penasaran dan ingin menang selalu ada. Sampai aku terpaksa berhenti. Ah, malam yang menjenuhkan.

Suara serak – serak lembab Iwan Fals coba menghiburku dari kamar studio RRI Pro 2. “Hari ini kau patahkan semangat//kau patahkan niat//kau patahkan cinta//kenyataan aku masih cinta//Berjanjilah datang padaku//akan kucoba memperhatikanmu…dst” Ah lagu apa ini? Lagu yang membosankan. Tentang cinta memulu. Jenuh. Bosan. Sebab aku tidak sedang patah jantung. Hanya saja patah semangat. Tapi kubiarkan saja ia bernyanyi. Mungkin ada pendengar lain yang ‘sreg’ dengan lagu melo – galauistis ini.

Flores Pos edisi Jumat, 26 April 2013 kembali disapa. Meski telah dilumat habis siang tadi. Beritanya tidak mungkin berubah. Hanya saja, malam ini aku membaca dengan suasana hati yang jenuh. Aku bosan dengan rutinitas dan keseharianku. Kembali ke harian kesayangan masyarakat Flores tadi. Di pojok kiri atas halaman pertama bertengger berita SK PAN yang mendukung paket SERIUS (Servasius Podhi – Ibrahim Yusuf) dalam pertarungan pemilukada Nagekeo 2013 ini untuk memperebutkan bangku bupati dan wakil bupati Nagekeo periode 2013 – 2018. Di pojok kanan atas, di bawah iklan politik Paket 4 calon bupati dan wakil bupati Sikka 2013 – 2018 (Alexander Longginus – F Roberto Diogo), ada ‘Mubes 3 Pilar Lestarikan TWA’ di Ruteng. TWA itu singkatan dari Taman Wisata Alam. Dituliskan bahwa Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) wilayah 2 di Ruteng yang melingkupi Kab Manggarai Barat hingga Alor (NTT) mengadakan musyawarah akbar. Ini menarik dan penting. Sebab dalam duduk bersama ini akan diadakan upacara ‘perkawinan’ antara pemerintah dan Gereja di bawah ‘sakramen’ budaya. Perkawinan ini sebagai upaya menyelamatkan dan melestarikan Taman Wisata Alam yang kini terus terancam musnah disebabkan kerusakan lingkungan. Dan aku yang sedang jenuh malam ini berharap, ‘perkawinan’ ini kekal dan abadi – kasih setianya.

Masih di halaman pertama, berita sebelah kanan paling bawah, ‘Sebanyak 60.000 Guru Belum Disertifikasi’. Hal ini dikatakan Kepala Seksi Pemetaan Mutu dan Supervisi LPMP NTT, Eddy Sulla kepada wartawan di Kupang (25/4). Sebanyak 60.000 dari total guru di NTT sebanyak 81.000 belum disertifikasi. Padahal, sertifikasi adalah salah satu syarat penting yang harus dipatuhi oleh seorang guru. Alasan tradisional khas NTT pun mencuat. Para pahlawan tanpa tanda jasa kita ini belum memenuhi standar akademik. Ini bahasa eufemismenya. Faktanya sebagian besar guru adalah belum menyabet gelar Sarjana. Prediksi matematisnya mungkin hanya sekitar 26% yang sudah Strata Satu. Kok, tahu? Mudah saja, 81.000 dikurangi 60.000. Hasilnya dibagikan dengan 81.000. Lalu dikalikan dengan 100%. Dampak dari program Kemdikbud ini nampak dalam menjamurnya mahasiswa – mahasiswa tua. Selepas mengajar di sekolah, di sore hari mereka duduk sopan sebagai mahasiswa UT. Kadang bisa sebulan hadir sekali di kelas. Selain itu hanya mengerjakan tugas yang sekarung. Repot memang. Demi sertifikasi, mereka pontang – panting kerja tugas kuliah sambil masak atau mengurus anak. Tidak heran jam mengajar di kelas pun mulai berantakan. Masuk bak ikan lumba – lumba. Alasannya kuliah. Anak didik menjadi korban.

Pada feature news, sebuah judul yang menusukkan rasa, ‘Bersama Kartini: Berbicara dengan Hati, Berbakti dengan Bukti’. Ini sebuah catatan seorang Robert Mirsel, SVD dalam peingatan hari Kartini di Sikka. Berita lama. Topiknya agak daluarsa. Minim data – data statistik. Tulisan yang dangkal. Manipulatif. Sebabnya penulis ‘menuding’ sebuah kampung di lereng Gunung Kimang Buleng, Aimitat namanya, hidup penuh dengan kemiskinan dan angka drop – out SD yang tinggi. Persoalannya pada ketiadaan data. Bukan soal menulis untuk mencari belas kasihan pemerintah. Tapi tidak apa – apa. Yang penting pesannya jelas dan abadi bahwa kita perlu memberdayakan masyarakat miskin. Kira – kira seperti itu.

Akhirnya, aku tiba pada titik kengantukan yang maha hebat. Jarum jam sedang menikam angka 2 dini hari. Sudah sampai di sini saja. Cukup sudah aku menulis dalam jenuh, galau dan bosan ini. RRI Pro 2 dimatikan saja. Setelah itu aku memeluk malam sembari bermimpi tentang; aku, jenuh (dan) Flores Pos.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 2 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Ngapain Garuda Minta Maaf ke Ahmad Dhani? …

Ifani | 11 jam lalu

Lawan Lupa Komnas HAM, Antasari Harus Dibela …

Berthy B Rahawarin | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: