Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Radityo Ardi

Orang berpikiran positif, akan menarik energi positif di sekitarnya. Orang berpikiran negatif, akan menarik energi negatif selengkapnya

Memahami Kecelakaan Lion Air dari Kecelakaan BOAC Tokyo 1966

OPINI | 25 April 2013 | 02:43 Dibaca: 343   Komentar: 1   0

1366826329609307906

Wind shear

Kecelakaan udara Lion Air yang terjadi di Bali terakhir itu memang menyisakan duka bagi seluruh orang Indonesia. Lantas apakah memang itu merupakan kelalaian pilot semata, atau kelalaian struktural dari Lion Air selaku maskapai, atau faktor cuaca yang menjadi penyebabnya?

Pagi hari ini saya merasa trenyuh dan sungguh kasihan, membaca sebuah berita di media online nasional bahwa salah satu atlet, dan seorang lagi yang merasa santunan yang diberikan Lion Air sebesar Rp. 55 juta itu dirasa masih kurang dan Lion Air dirasa masih tidak adil, karena beban trauma dan psikis yang mereka alami setelah kecelakaan tersebut. Kasihan saya bukan karena mereka menjadi korban, tetapi karena mereka tak mampu mensyukuri hidup yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta dikala kecelakaan tersebut.

Merasa kasihan juga kepada beberapa anggota DPR yang berkomentar miring mengenai Lion Air dengan mengeluarkan statement provokatif yang tak jelas maksud dan tujuannya apa. Statement yang memojokkan sang pilot dan maskapai itu sendiri tidak kompeten, padahal hasil penyelidikan KNKT juga belum dimulai pada saat itu.

Saya telusuri kembali buku-buku dan majalah yang saya punya, masih ada Angkasa Edisi Koleksi: The Essentials from Word Aircrash - Memahami Kecelakaan Udara (edisi No. 52 tahun 2008). Kata pengantar dari redaksipun cukup mengena. Tim redaksi dengan manis mengatakan bahwa dari segala kecelakaan udara tak hanya melihat dari satu sisi saja, namun dari berbagai sudut pandang. Sehingga dari situ, kita mampu memahami bahwa kecelakaan udara adalah bagian dari “rutinitas” dunia penerbangan, dimana semakin lama akan diharapkan pesawat yang hadir semakin canggih untuk menuju kesempurnaan itu sendiri.

Dari majalah itu, saya ingat ada salah satu peristiwa kecelakaan yang mungkin bisa dikatakan mirip dengan Lion Air, dimana (diduga) ada faktor alam terlibat di dalam kecelakaan yang terjadi di Bali itu. Pesawat Boeing 707 yang dioperasikan British Overseas Airways Corporation (BOAC) jatuh di dekat gunung Fuji, Jepang. Tragisnya, seluruh penumpang tewas tak bersisa.

Ketika itu cuaca di Jepang 5 Maret 1966 memang tidak seperti biasanya, cerah tak berawan. Saking cerahnya, puncak gunung Fuji setinggi 12.400 kaki dapat terlihat dari Tokyo yang jaraknya 110 km. Tentu secara visual ini menjadi pertanda melegakan, karena hari sebelumnya pesawat Canadian Pacific DC-8 terjatuh di Bandara International Haneda - Tokyo karena cuaca buruk. Perlu dicatat juga, pesawat 707-436 yang digunakan kala itu bisa dibilang sudah mumpuni dalam segi teknologi, dan merupakan pesawat jet pertama yang diproduksi Boeing. Ketika itu pesawat ada dalam penerbangan dari London ke Asia dan kemudian kembali lagi ke London. Dan ketika kecelakaan terjadi, pesawat sedang menjalani rute (leg) Tokyo - Hong Kong. Dalam kondisi yang luar biasa cerah itu, dan kebetulan rute juga melewati Gunung Fuji, sang pilot meminta ijin untuk mendekati Gunung Fuji dengan ketinggian dan jarak yang aman dan diijinkan oleh otorita penerbangan. Kemungkinan pilot menginginkan untuk memberikan “bonus” kepada penumpangnya untuk melihat pemandangan langka kawah Gunung Fuji secara visual.

Secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda darurat, ketika pesawat menurun pada ketinggian yang memang direncanakan oleh otorita penerbangan sesuai dengan flight plan, menurut saksi mata di darat pesawat tersebut meninggalkan jejak putih, lalu diikuti dengan ledakan-ledakan bagaikan kembang api dan pesawat hancur berkeping-keping. Seluruh penumpang tewas tak bersisa.

13668324281764920378

BOAC Flight 911

Setelah kejadian tersebut, dikatakan bahwa radius jatuhnya kepingan mencapai 16 km. Lantas apa yang menjadi penyebabnya? Ketika itu cuaca memang sangat cerah, integritas Boeing dalam membuat pesawat populer ini tak perlu ditanyakan lagi, pesawat tidak melakukan manuver berbahaya, pesawat dalam kondisi sangat prima, dan jejak rekam sang pilot juga tak diragukan lagi. Begitu sempurnanya fakta-fakta di lapangan, tetapi tetap saja terjadi kecelakaan. Penyelidikan yang memakan waktu begitu lamanya, karena tak ditemukan faktor utama penyebab kecelakaan. Penyelidikan mulai dari memeriksa sisa reruntuhan pesawat di lereng Gunung Fuji, hingga uji metalurgi / teori kelelahan metal pun tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya hanya gara-gara kamera dari salah satu penumpang lah kuncinya. Kamera tersebut adalah sisa reruntuhan yang tidak terbakar. Kamera film tersebut merekam kejadian sebelum dan bahkan ketika kecelakaan terjadi. Kamera tersebut ketika detik kecelakaan terjadi, terlompat 2 frame dari seharusnya, lalu kemudian terlihat kursi-kursi penumpang lalu buram dan berhenti.

Penyebab kecelakaan tersebut setelah diteliti lebih jauh, dikarenakan adanya mountain wave di Gunung Fuji, angin yang berkecepatan tinggi bergerak menghantam pesawat. Saking kencangnya, angin tersebut mampu mematahkan bagian sayap belakang dan kemudian diikuti sayap samping dan kemudian jatuh karena ledakan.

Kembali ke Lion Air tadi, (diduga) pesawat tersebut mengalami angin jatuh (downdraft) secara tiba-tiba hingga menyebabkan pesawat kehilangan daya dorong lalu terhempas ke lautan. Bahkan pakar penerbangan dari luar negeri juga angkat bicara mengenai perubahan cuaca downdraft yang kebetulan pada saat yang tepat, cepat dan terbatas, terjadi di ujung runway Bandara Ngurah Rai Bali dan mengenai Lion Air. Kita semua tak pernah menduga, bahwa ada banyak faktor yang membuat pesawat celaka. Dan dari semua penyelidikan, hampir 70% melibatkan faktor manusia, meski manusia bukan faktor utama. Dan sebagian besar kecelakaan pesawat bukan karena faktor manusia semata, namun kombinasi dari banyak faktor seperti cuaca, kondisi pesawat, kondisi manusia, pilot, dan semua pihak yang terlibat. Cuaca cerah pun tak menjamin pesawat selamat, apalagi cuaca buruk.

Dikatakan bahwa di mata awam, kecelakaan pesawat terbang kerap ditanggapi dengan air mata, kekecewaan, kemarahan, dan tentunya upaya mencari kambing hitam. Sedang bagi insan penerbangan, kecelakaan udara memang dipandang sebagai sisi positif bahwa masih banyak celah-celah yang harus dibenahi dan disempurnakan. Kita tak pernah tahu bahwa teknologi yang ada di pesawat saat ini sebenarnya sudah sangat canggih untuk melakukan perjalanan tanpa pilot, tetapi kenapa pilot masih diperlukan? 2 orang pulak? Supaya pilot mampu mengambil kendali ketika komputer di pesawat tak mampu lagi “membaca” situasi yang tak mampu dikontrol komputer.

Terlepas dari itu semua, korban diharapkan juga mampu mengambil sisi positif dari kejadian ini, bahwa ada sistem yang perlu dibenahi, baik dari produsen pesawat, pilot, ground-crew, regulasi penerbangan, maupun maskapai penerbangan. Setiap kecelakaan adalah “makanan” bagi semua pihak, untuk menyempurnakan sistem dan regulasi yang sudah berjalan. Ini adalah kecelakaan, bukan sebuah peristiwa macam pencurian atau pembunuhan yang harus menuntut ganti rugi setimpal. Semua pihak tak ada yang diuntungkan, Lion Air rugi karena harus membayar santunan plus kehilangan pesawat barunya, sedangkan korban juga rugi baik secara psikis dan fisik. Tak satupun menginginkan kecelakaan ini, tetapi diharapkan semua pihak mau mengerti dan memahami di balik kecelakaan udara yang terjadi di Bali ini.

Dan yang terpenting, tetap bersyukur masih diberi nyawa sampai hari ini.

Referensi:
Majalah Angkasa Edisi Koleksi No. 52 Tahun 2008
http://en.wikipedia.org/wiki/BOAC_Flight_911
http://en.wikipedia.org/wiki/Boeing_707

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 6 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 8 jam lalu

Rekap Final Kawalpemilu.org Jokowi 53,15%, …

Rullysyah | 8 jam lalu

Lima Artis Terseksi Indonesia dengan Selera …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Jejak Itu Bernama Screenshot… …

Sunardi Al Banyumas... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: