Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Teguh Suprayogi

Therapist di Saudi Arabia

Tak Ada Gelar “Haji” di Saudi

OPINI | 23 April 2013 | 19:05 Dibaca: 2639   Komentar: 90   20

13667137221766192557

Kabah/koleksi pribadi

Ramai-ramai soal sinetron TV di Indonesia yang membawa-bawa gelar Haji dengan
kelakuan manusianya yang kurang baik, saya jadi pengin urun cerita masalah gelar
Haji di negeri dimana ibadah haji dilaksanakan, yaitu Saudi Arabia. Sepengetahuan
saya yang tinggal satu setengah tahun di Saudi, tidak ada orang sini yang memakai
gelar atau titel Haji.

Lain halnya dengan para TKI yang masih terbawa budaya Indonesia untuk selalu
mengenakan gelar Haji jika sudah menunaikan rukun kelima ini, bahkan saking
terbiasanya pakai gelar ini, kalau ketemu antar TKI yang sudah kenal atau belum
agar terlihat akrab memanggilnya pakai kata “Ji” maksudnya mas haji atau pak haji,
padahal yang dipanggil belum tentu sudah berhaji.

Kalau merujuk pada Fatwa Syaikh Shalih As Suhaimi, ketika menjawab pertanyaan:
Para Haji ditempat kami, apabila seorang dari mereka telah kembali (ke daerahnya)
tidak rela dipanggil “Wahai Fulan”, namun harus ditambah “Haji Fulan”? Beliau men-
jawab: “Ini perkara yang berbahaya sekali, sebagiannya menggantungkan
tanda di rumahnya, biar dipanggil “Haji Fulan”, dan meletakkan bingkai yang besar,
kemudian digantungkan di rumahnya, atau disetiap sisi di ruang tamu.
Tidak diragukan, perbuatan seperti ini tidak boleh, dan dikhawatirkan akan
menyeretnya pada perbuatan riya”

Dalam sejarah tidak satupun sahabat Nabi yang memakai gelar Haji, seperti Haji
Abu Bakar, Haji Umar, HajiUstman, Haji Ali, termasuk juga para Imam Madzab,
seperti Haji Hambali, Haji Imam Syafi atau Haji Imam Ahmad, serta pada diri Nabi
shollallahualaihi wassallam pun tidak memakai gelar Haji Muhammad. Jika gelar ini
baik tentu Nabi menggelari diri beliau dengan Haji Muhammad atau menggelari
sahabat-sahabat dengan “Haji”. Namun tak ada satupun yang diberi gelar,
ini menunjukkan gelar ini tidak dibutuhkan dan tidak sepantasnya disematkan
pada seseorang.

Kembali ke masalah gelar haji yang diributkan dalam tayangan sinetron televisi,
mungkin lebih tepat jika yang perlu diperbaiki isi tayangan agar lebih mendidik,
tidak terlalu lebay menggambarkan tokoh dalam cerita tersebut. Intinya tontonan
yang penuh tuntunan, edukatif bukan berisi amarah dan cemooh yang sarkastik.

Dammam, 23/04/2013

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 17 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 17 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 18 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 18 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: