Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Yan Bastian

A wool gatherer and put a stick that I don’t have a job. I’m a selengkapnya

Hijab Ini Jati Diriku

REP | 21 April 2013 | 10:33 Dibaca: 204   Komentar: 0   1

Kala petang menjelang, saya tiba-tiba dapet sebuah “tugas suci” dari mba Esti (redaktur Koran SINDO) untuk liputan tandem didampingi anak batch sebelumnya, Tia (19), bisa dibilang senior gitu walaupun dari segi umur justru saya yang lebih senior.

Sebenarnya, saya butuh satu minggu lamanya untuk sebuah liputan tandem ini ditambah Tia yang cuma bisa nemenin gue sehari aja. Tepatnya pada tanggal 4 dan 12 april 2013.

Di hari pertama (04/04/2013), saya janjian sama Tia di Mall Fx jam 13.00. Berhubung saya dulu yang sampe, saya menyempatkan diri untuk melihat sekeliling dan sekalian mempelajari sekitar siapa tau ada sesuatu yang menarik untuk tulisan saya nanti. Lumayan banyak juga wartawan. Saya-pun sempet minder melihat kerumunan wartawan yang lengkap dengan senjata pamungkas mereka (mike dan kamera). Sudah sangat jelas kenapa saya merasa minder disini.

Bermodalkan seperangkat Handphone yang tidak smart untuk merekam suara, saya mencoba percaya diri dan bertekad karena ini adalah liputan perdana saya dengan artis ibukota:

“Jangan minder bro, pede aja lagi!” Hati kecil saya bicara,

Beberapa saat kemudian, Tia ternyata sudah sampai dan menelpon saya:

“Halo, Yan gue udah di lantai f1 nih,”

“Oh, oke sip gue kesana!” Jawab saya.

Layaknya prajurit 45, saya bergegas jalan menemui Tia yang sudah menunggu di depan salah satu toko kecantikan. Penilaian pertama yang saya lihat darinya adalah Tia sungguh niat. Bagaimana nggak, Tia justru membawa kamera khas para wartawan yang saya nggak punya. Setelah berkenalan (karena emang kita belum kenal satu sama lain), kita langsung menaiki lift dan menuju lokasi di lantai 3.

Setelah mengisi biodata di bagian registration, alangkah terkejutnya saat saya tau yang ditunggu-tunggu tidak bisa hadir. Ya, dialah artis ibukotanya, mba Inneke Koesherawati. Awalnya beliaulah yang akan jadi bahan utama tandem saya, namun apa mau dikata semua gagal. Beberapa menit kemudian, si empunya acara, mba Diajeng Lestari (27) sempet bilang kalo hari jumat minggu depan akan ada pembicara mba Zaskia Adya Mecca, oke secara resmi saya mengganti narasumber saya ke istri salah satu sutradara kondang indonesia itu. Alhasil, saya pulang dengan tangan yang ga amat-amat hampa sih soalnya saya dapet goody bag dan sekaleng coklat susu bentuk hati. Begitulah kenapa saya butuh satu minggu untuk liputan ini.

Seminggu kemudian, sesuai perkiraan, Tia nggak bisa ikut karena ada urusan. Saya-pun memberanikan diri untuk liputan sendiri. Sebenernya, agak kewalahan juga untuk liputan ini karena bertemakan “hijab”.

“Tau apa gue sama hijab2an?” tanya hati saya.

Singkatnya, karena ini tantangan ya saya harus menerimanya.

Di lokasi, saya seperti biasa mendaftar di bagian registration dan mendapat bingkisan berupa tas make updan voucher makan siang di salah satu restoran setempat. Saya pun memilih tempat duduk yang agak kebelakang karena emang tujuan saya cuman si mba Zaskia, ga ada yang lain.

Sembari menunggu, saya lihat ada bule yang sedang melintas. Otak saya menumbuhkan ide untuk bertanya padanya.

“Hello, Would you mind to answer my questions? I’d be grateful if I may have of your time, seriously!” Tanya saya,

“Sure, what?” balik bertanya.

Ringkasnya, wanita muslim nggak harus memakai hijab. Baginya, mereka punya hak dalam memilih, mau berhijab atau nggak.

“I Think they should choose themselves!” tegas Kevin (42) turis asal Inggris yang sedang berlibur di Jakarta.

Awalnya saya agak bosen juga karena sejauh mata memandang yang ada hanyalah seperangkat alat hijab dan kawan-kawannya. Tapi, setelah acara dimulai dan dipandu oleh MC yang ternyata temen SMP saya, kini saya tahu pentingnya hijab bagi muslimah.

Dalam perhelatan yang mengusung Hijab Festival sebagai tema utamanya ini, mba Diajeng Lestari selaku Managing Director hijUp.com punya definisi tersendiri mengenai hijab.

“Sebenernya, hijab itu bentuk refleksi diri bagi tiap muslimah. Kalo yang berhijab itu lebih terlihatcheerful.” Ujar wanita yang mengusung Indonesia sebagai negeri produsen hijab seluruh dunia.

Sungguh jawaban yang bagus untuk seorang penggiat muslim fashion seperti mba Ajeng. Nampaknya, negeri ini butuh banyak Ajeng-Ajeng yang lain untuk membuat Indonesia menjadi kiblat dunia untuk urusan fashion, terutama trend hijab yang memang seakan sudah menjadi salah satu identitas bangsa ini.

Selang beberapa menit kemudian, yang ditunggu-tunggu pun akhirnya menampakkan diri di khalayak pengunjung Fx. Dengan balutan pakaian merah dan hijab hitam merah, Zaskia berjalan bak model lihai di atas panggung. Bahkan dengan hanya melambaikan tangan sukses bikin saya dag-dig-dug.

Selama talk show berlangsung, mata saya nggak henti-hentinya melihat betapa anggunnya mba Zaskia. Sungguh beruntung mas Hanung itu. Di sana saya juga bertemu dan berkenalan dengan mba Gita, reporter Okezone yang ternyata lumayan banyak membantu untuk liputan saya ini.

Sesi pertama-pun usai, mba Zaskia terlihat meninggalkan panggung. Pada saat itu, saya khawatir takutnya doi udah cabut dan itu artinya saya pulang dengan hanya membawa tas make up di tangan. Saya memutuskan beranjak dari tempat duduk dan mencarinya. Ternyata si artis sedang istirahat makan siang di belakang panggung.

Gamau menyia-nyiakan kesempatan, langsung aja saya mewawancarai mba Zaskia yang tetap terlihat cantik meski tidak ada sorotan lampu kamera.

Masih seputar hijab, mungkin memang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, ibu muda yang pernah membintangi film Ayat-ayat Cinta ini tampak mulus menjawab semua pertanyaan dari saya.

“Buatku hijab itu adalah tambahan lain selain di kepala, salahnya disini tuh orang banyak menganggap jilbab tuh seperti agama lagi. Hijab itu pilihan setiap orang untuk menunjukkan kedekatannya dengan tuhan, untuk lebih membentengi dirinya dan menjadi lebih baik lagi.” Ucap Zaskia sambil sesekali mengudap makan siangnya.

Terkait dengan perspektif hijab, aktris yang juga pebisnis dunia fashion muslimah ini nampak begitu antusias dengan hijab yang melekat dikepalanya. Menurutnya, hijab lah yang justru telah merubahnya seperti saat ini.

“Allah banyak ngasih yang luar biasa justru setelah aku berjilbab.” Tegasnya.

Dirinya bener-bener memegang teguh jiwa seorang muslimah dalam hatinya, tak ayal, banyak brand-brand lokal yang menjadikannya sebagai model ataupun partner, sebut saja hijUp.com ini.

“…”

Sesaat, saya lupa pertanyaan selanjutnya, sumpah pada saat itu bener-bener jadi momen paling canggung yang pernah saya alami. Untungnya ada mba Gita yang lanjut bertanya dengan pertanyaan yang saya sempet lupain itu.

“Ada hal yang luar biasa?” sela mba Gita.

“mm.. Karir, trus gimana orang liat aku di luar, orang juga jadi lebih menghargai aku lebih, materi ga bisa diboongin juga. Trus hal-hal yang belum aku bayangin allah udah kasih semua.” Pungkas wanita berzodiak virgo sambil mengarahkan pandangannya ke mba Gita.

Okesip ,langsung aja saya serang lagi dengan pertanyaan saya sesaat setelah beliau menjawab pertanyaan singkat mba Gita.

“Apa pendapat mba tentang para pria yang kebanyakan tidak suka dengan wanita berhijab?”

“Oke gini, aku juga sering denger yang seperti itu, tapi kan tergantung orangnya, mereka justru mempertebal keimanan, justru buatku tidak ada yang berlebihan. Kan, setiap orang pengen jadi lebih baik. Kalo aku pribadi sih, aku berjilbab karna aku ingin allah liat aku yang lebih baik lagi. Aku ga peduli apa kata orang, yang penting aku melakukannya untuk tuhan. Yang tau semua kesalahan juga allah, bukan manusia!”Cetusnya.

Dari sini saya udah sangat yakin bahwa para pria nggak seharusnya berpikiran demikian. Itu sah-sah aja buat mereka para hijabers, toh, tujuan mereka-kan baik, untuk tuhan juga. Lagipula nggak semua pria sepert itu, contohnya ya suami mba Zaskia, mas Hanung Bramantyo.

“Mas Hanung itu nggak pernah mencampuri bagaimana aku beribadah, dia Cuma mencampuri satu hal, jangan lupa Sholat!” ucapnya sambil membereskan tasnya karena acara selanjutnya akan segera dimulai.

Mengakhiri perbincangan singkat nan berharga ini, saya memutuskan untuk tidak mengikuti acara selanjutnya karena saya sudah mendapat apa yang saya cari pada hari itu. Nggak ingin rugi, saya mengambil jatah makan siang yang sebelumnya saya dapet beberapa jam yang lalu. Sambil mengudap penganan mahal yang gratis ini, saya merenung, sejujurnya masih nggak percaya aja gitu mengingat apa yang sudah sayalakuin tadi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 4 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 7 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 10 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 10 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengalaman Belajar Sosiologi Bersama Pak …

Rachel Firlia | 8 jam lalu

Rokok atau Calon Istri? …

Gusti Ayu Putu Resk... | 8 jam lalu

Dampak Moratorium PNS …

Kadir Ruslan | 8 jam lalu

Membudayakan Menilik Orang Bukan Dari …

Wisnu Aj | 8 jam lalu

Hilangnya Kodok Pak Lurah …

Muhammad Nasrul Dj | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: