Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Jangan Menyerah!

REP | 20 April 2013 | 13:43 Dibaca: 615   Komentar: 46   15

13639510901989352970

JANGAN MENYERAH!!

SELEMBAR SERTIFIKAT ,LEBIH BERHARGA DARI KEPALA

Judul artikel ini bukan hanya sekedar untuk memancing ,agar orang tertarik untuk membacanya,tetapi sungguh sungguh merupakan pengalaman hidup saya sendiri. Hal ini masih terus berlangsung hingga kini,dimana selembar kertas yang bernama :”sertifikat” lebih dihargai dari pada kepala pemiliknya.

Hidup bersifat dinamika,bergerak dari waktu ke waktu dan dari suatu sudut ke sudut yang lain. Senang dan susah, sedih dan gembira ,sukses dan gagal.sudah merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.Yang hari ini kuli.mungkin kelak jadi boss. Sedangkan yang hari ini boss, kelak bisa jadi kuli . Yang sekarang pejabat tinggi,kelak bisa saja meninggal dalam tahanan.

Ada yang bilang ini nasib,ada juga yang bilang sudah takdir. Adalah sah sah saja setiap orang memiliki persepsi tentang hidup,karena ia yang akan menjalaninya.Ada yang percaya bahwa nasib sudah ditentukan oleh Tuhan, ada juga yang meyakini bahwa nasib ada ditangan kita masing masing.

Saya pribadi termasuk kelompok kedua, yaitu kelompok yang meyakini bahwa nasib setiap orang ada ditangannya. Tidak ada yang bisa mengubah nasib kita, kecuali kita sendiri. Bahkan Tuhan, juga tidak akan mengubah nasib kita,bila kita sendiri tidak percaya bahwa nasib bisa diubah.

Saya tahu persis apa yang dimaksudkan hidup melarat, apa yang dinamakan menderita dan bagaimana pula rasanya tidur dengan perut kosong. Bukan dari hasil baca baca buku, tapi pengalaman hidup kami selama bertahun tahun.

Sebelum berangkat mengajar di salah satu sma swasta di kota kediaman kami, istri saya jam 3 subuh sudah bangun dan pergi ke stasiun kereta api.,untuk membeli kelapa yang masih dibungkus sabut, karena harganya relatif jauh lebih murah. Kelapa ini dibawa pulang dengan beca ke gubug kami yang merangkap kedai.

Tugas saya adalah mengupas sabutnya dan kemudian memarutnya dengan alat parutan sederhana. Yang kemudian dijual kepada para pelanggan kami. Sementara anak pertama kami,yang waktu itu masih berumur 4 tahun,sudah terbiasa untuk membantu mengumpulkan sabut sabut kelapa yang sudah dikupas dan dimasukkan kedalam keranjang.

Begitulah hidup yang kami lalui selama bertahun tahun.

Bila hujan tiba, sudah dipastikan air akan mengenangi seluruh ruangan “rumah” kami ,karena persis terletak diatas selokan besar. Maka berhamburanlah segala macam binatang, menyelamatkan diri dan berkeliaran di lantai, meja makan dan tempat tidur kami. Ada cacing, belut,kecoa dan tikus. Kami hanya bisa mengangkat kasur dan duduk diatas lemari,,menunggu air surut.

Tetapi penderitaan, tidak membuat kami putus asa, kami tetap bekerja keras dan berdoa. Kami yakin suatu waktu nasib kami akan berubah.

Namun keyakinan kami ,benar benar diuji dengan ujian yang sangat berat kami rasakan, ketika anak kami sakit,karena kondisi lingkungan yang kotor dan kekurangan makanan. Kami mencoba meminjam uang disana sini, namun tidak seorangpun yang terketuk hatinya. Akhirnya cincin kawin, saya jual ,agar dapat membeli obat untuk anak kami.

Suatu waktu ,saya ketemu teman saya yang sukses sebagai pengusaha. Ia berbaik hati mengajak saya berbicara dan menanyakan tentang kehidupan kami. Jujur saya sampaikan ,bahwa gaji kami sebagai guru, jauh dari mencukupi untuk hidup. Saya disarankan untuk menganti profesi,yaitu untuk mulai belajar berdagang. Spontan saya jawab :”Saya mau, tetapi tidak punya modal”

Kata teman saya Syamsuar, modal utama adalah kejujuran dan kerja keras. Saya akan bantu ,katanya.

Maka sejak hari itu ,setiap ada kesempatan saya selalu mendatangi kantornya dan belajar.Seminggu kemudian,setiap Sabtu,saya naik bus kekampung kampung ,untuk mencari informasi tentang kopi dan kulit manis. Minggu selanjutnya,saya sudah berhasil mendapatkan seorang pedagang pengumpul kopi,yang saya ajak menemui teman saya Syamsuar. Ternyata dalam waktu singkat transaksi jual beli terjadi.. Pedagang yang saya ajak tadi sangat gembira,karena mendapatkan harga jual yang melebihi dari yang diharapkan. Ia berjanji akan datang lagi minggu depan dan membawa teman temannya.

Saya diberikan semacam komisi,yang jumlahnya lebih besar dari gaji saya satu bulan sebagai guru.

Minggu minggu selanjutnya,merupakan hari hari yang amat membahagiakan bagi saya,karena pedagang pengumpul tadi datang dengan teman temannya ,membawa biji kopi dan kulit manis dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Dan saya menerima komisi yang tidak pernah saya duga.Saya bagaikan bermimpi,dalam satu kali transaksi,saya dapat bagian yang jumlahnya bisa dua tiga kali lipat gaji saya sebagai tenaga pengajar.

Saya ceritakan pada istri saya,sambil menyerahkan hasil jerih payah saya,yang disambut dengan penuh rasa syukur.

Sebulan kemudian,saya sampaikan pada istri ,bahwa saya akan berhenti mengajar dan mulai berdagang. Istri says serta merta menyetujuinya. Inilah agaknya titik terang kehidupan kami.

Tentunya uluran tangan ini amat saya syukuri . Keuntungan yang saya peroleh dari hasil usaha jual beli kopi,kulit manis dan cengkeh ini,sangat fantastis. Hal ini tidak terlepas dari bantuan sahabat baik saya.

Suatu waktu terpikir oleh saya untuk meminjam uang di bank,karena saya dapat info ada peluang untuk modal usaha pedagang kecil. Maka saya memberanikan diri untuk datang ke salah satu bank . Setelah mendaftarkan diri, saya diantarkan oleh petugas sekuriti untuk menghadap Kepala Bagian Kredit. Setelah dipersilakan masuk, saya mengucapkan selamat pagi sesopan mungkin.  Kepala Bagian Kredit, Bapak Suroto (bukan nama sebenarnya) memandang saya dari ujung rambut hingga ke kaki saya. Kemudian mempersilakan saya duduk.  ”Apa yang bisa saya bantu?” katanya penuh wibawa. “Maaf pak, saya baru mulai berdagang kecil kecilan, saya datang untuk menanyakan,apakah ada kemungkinan saya mendapatkan kredit untuk menambah modal kerja saya?”

“Hmm anda bawa sertifikat”

“Maaf,saya tidak punya pak “

“Mungkin BPKB?”

“Juga tidak ada pak”

” Lhoo…terus bagaimana anda mau pinjam uang?” Kepala tidak laku digadaikan disini…Nanti kalau anda sudah memegang sertifikat,baru datang lagi ,paham….!?” katanya sambil berdiri.

Saya merasa diusir ..wajah saya memanas dan hati bergemuruh…saya tatap dalam dalam wajahnya dan berjanji dalam hati saya:” suatu waktu saya akan lebih sukses dari anda…!”

Saya pamit untuk pulang,namun ia hanya mengangkat bahunya sedikit…Saya merasa amat terpukul..

Saya pulang kerumah dengan perasaan campur aduk… Ketika istri saya pulang mengajar, langsung menanyai ,mengapa saya begitu murung?” Saya menceritakan pengalaman pahit yang baru saja saya alami . Namun setelah saya selesai bercerita,istri saya tenang tenang saja ,datang memeluk saya dan  mengatakan  :”Sayang, bagaimana kita bisa mengubah nasib,kalau hanya karena kata kata orang saja,sudah melumpuhkan kita? Jangan pernah menyerah,percayalah setelah gelap,pasti akan terbit terang…”

Malam hari saya memandang istri dan anak kami yang tertidur pulas, keduanya kurus dan pucat.. tak kuasa saya menahan basahnya mata saya….

Saya terdiam…dan merenung…benar kata istri saya, bagaimana mungkin saya bisa maju ,kalau saya menjadi manusia yang begitu cengeng? Sejak saat itu,setiap ada kesempatan,saya selalu memotivasi diri : “Effendi,jangan pernah menyerah!!!”

DELAPAN TAHUN SUDAH BERLALU

Sungguh Mahabesarlah Tuhan… yang selalu memberikan jalan kepada umatnya yang mau dan berusaha untuk mengubah nasib…  Saya sekarang seorang pengusaha. Eksportir Hasil Pertanian. Kami sudah membeli rumah permanen ,lengkap dengan taman,paviliun dan kolam renang pribadi. Sesuatu yang menurut logika manusia mustahil,tetapi ternyata menjadi kenyataan..

Suatu pagi saya ke bank ,dimana saya dulu pernah diusir. Saya datang dengan jas dan mengendarai sedan terbaru. Didepan pintu saya disambut petugas dengan ramah dan mempersilakan masuk. Saya sampaikan bahwa saya ingin ketemu Pak Suroto Kepala Bagian Kredit.  ” Oh beliau sejak dua tahun lalu sudah jadi pimpinan bank pak” ,kata petugas antusias.. ” Ooya …baguslah ,”jawab saya.

Langsung saya diantarkan keruang Pak Suroto . Begitu pintu dibuka, Pak Suroto menyambut saya dengan ceria. Tentu saja ia sama sekali tidak ingat pada saya. Tetapi saya mana mungkin melupakan wajah ini. Herannya,sama sekali tidak ada perasaan dendam,malah dalam hati saya berterima kasih,karena kalau tidak dihina ,mungkin hingga saat ini saya masih jualan dipasar…”

Saya menyalami ,sambil menyodorkan kartu nama . Sambil mempersilakan duduk,pak Suroto membaca keras keras kartu nama saya:” Tjiptadinata Effendi-Eksportir”

“Wah,kebetulan sekali nih pak Effendi,bank kita lagi membuka peluang sebesar besarnya untuk plafond kredit dalam jumlah besar,untuk menunjang program pemerintah menggalakkan ekspor hasil pertanian”

“Tapi maaf pak,saya datang bukan untuk kredit ,tapi justru untuk mendepositokan sebagian keuntungan perusahaan”

” OO ya ya boleh…Mbak mbak…tolong disiapkan formulir yang akan ditanda tangani

Sekretaris Pak Suroto datang menemui saya dan dengan senyum yang manis menyapa:”Selamat pagi Bapak,maaf, sementara menunggu,bapak berkenan kami buatkan teh hangat,kopi atau cappucino?”

“Hmm boleh Mbak,capucinno saja yaa”,jawab saya.

“Sekalian dengan camilan ya pak?”

“Iya boleh Mbak”

Hmm sambutan yang luar biasa….

Sementara petugas bank mempersiapkan segala sesuatunya, saya duduk menikmati secangkir capuccino hangat…  Tanpa sadar pikiran saya melayang ke delapan tahun lalu…hmmm betapa jauh beda penerimaannya…..  Rasa syukur yang tidak berkesudahan kepada Tuhan Yang Mahapengasih..yang selalu membukakan jalan,bagi umatnya yang mau berusaha untuk mengubah nasibnya…..”

Tiba tiba lamunan saya terputus. Si Mbak datang lagi dengan menyodorkan sebuah baki,:’ Maaf, Bapak,ini kartu Platinum dan sekaligus Kartu Prioritas atas nama bapak,sudah selesai kami siapkan. Kartu ini berlaku diseluruh Bandara yang memiliki exsecutive lounge,free of charge. Bapak akan dilayani dan semua ditanggung oleh bank,sebagai apresiasi kami kepada bapak….”

“Oya? hmm terima kasih kalau begitu Mbak..”

Saya menerima kartu Prioritas tersebut dan langsung berdiri untuk pamit…..

Pak Suroto buru buru berdiri dari meja kerjanya dan mengantarkan saya sampai kepintu ,dengan ucapan,terima kasih pak Effendi,kalau ada waktu mampir lagi kesini yaa”

“Ya ,baik pak “,jawab saya…

Dalam perjalanan balik ke kantor ,saya kembali merenung…..hidup itu bagaikan mimpi…… believe it or not,ternyata potongan potongan kertas bergambar yang bernama uang,benar benar lebih berharga dari kepala pemiliknya…..

Catatan kecil:

Artikel sederhana ini saya postingkan,jauh dari maksud penonjolan diri, melainkan semata mata untuk berbagi pengalaman hidup. Semoga teman teman ,yang mungkin hidupnya masih dalam perjuangan berat,:”JANGAN PERNAH MENYERAH!”

Dare to dream,believe it,do it and you’ll get it..

Beranilah untuk bermimpi,yakinilah mimpi anda,kerja keras dan anda akan memilikinya.

Nasib ada ditangan kita dan kunci sukses juga ada ditangan kita,terserah kita mau menyerah atau memenangkannya…

Semoga bermanfaat,

Salam hangat dan doa saya,

Tjiptadinata Effendi

Mount Saint Thomas,awal musim dingin,2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 18 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 20 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 21 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 21 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: