Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Choirul Anam

Calon sarjana Hubungan Internasional UIN Jakarta

Ditipu oleh X-Factor

OPINI | 20 April 2013 | 02:34 Dibaca: 2654   Komentar: 7   0

X- Factor adalah salah satu acara audisi pencarian bakat yang saat ini tengah digandrungi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Menyuguhkan penyanyi- penyanyi baru yang diambil dari hasil audisi diberbagai tempat di Indonesia. Acara semacam ini sebenarnya sudah lama ada di Indonesia, dimulai dengan Akademi Fantasi Indonesia (AFI), kemudian ada Indonesian Idol dan lain- lainnya. Semuanya memiliki konsep yang hampir sama, yaitu penentuan pemenang ditentukan lewat poling sms penonton. Siapa yang mendapatkan sms terbanyak maka dialah yang akan selamat dan menjadi pemenang atau maju ke fase selanjutnya, dan yang mendapat sms paling rendah akan pulang dan tidak dapat maju ke fase selanjutnya. Tentu sms ini dimaksudkan adalah untuk menarik dana sebanyak- banyaknya dari para penonton acara tersebut, sms yang dimaksud tidaklah bertarif sms normal, akan tetapi jauh lebih mahal biasanya satu sms dukungan dihargai dengan sekitar Rp. 2000.

Acara semacam ini banyak diminati oleh para penonton karena dalam penyajiannya dibuat layaknya sebuah drama, dibuat semenarik mungkin agar masyarakat tertarik dan mengikuti acara tersebut, setiap orang dibuat penasaran nanti para penyanyinya akan menyanyikan lagu apa, penasaran dengan komentar juri dan tentu penasaran siapa yang nanti akan pulang dan tidak dapat melaju ke fase selanjutnya. Semua dikemas dengan sangat apik hingga seakan- akan terjadi sebuah drama live show yang sangat menarik untuk disimak,  dan kemudian akhirnya tak jarang  yang terhipnotis untuk rela mengetik sms dukungan kepada idolanya dalam acara tersebut. Saya bilang terhipnotis karena pada dasarnya ketika kita mengirimkan sms yang harganya 2000 rupiah tersebut kita tidak akan mendapatkan timbal balik apapun dari acara tersebut, jadi ya hanya orang- orang yang terhipnotis oleh acara tersebut saja yang mau mendonasikan pulsanya.

Akan tetapi seiring dengan berjalannya acara tersebut (X- Factor) saya menemukan beberapa kejanggalan, kejanggalan yang saya maksud adalah terkait dengan pertanyaan apa benar penentuan siapa yang berhak maju kefase selanjutnya dan siapa yang akan pulang itu ditentukan oleh sms tersebut?

Saya mengidentifikasi beberapa hal ganjil dalam kaitan dengan pertanyaan tersebut, saya menangkap ada hal yang mungkin berbau manipulatif dalam penyelenggaraan X- Factor Indonesia yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta ini. Saya mencurigai bahwasanya bukanlah sms yang menentukan siapa yang berhak maju dan siapa yang akan pulang. Yang membuat saya berfikiran bahwa semua itu hanyalah manipulatif adalah karena 2 hal berikut:

1. Kecemburuan Sosial mentor VS minat masyarakat. Waktu di awal- awal yang paling banyak dipulangkan adalah dari Grup Band anak asuhnya Ahmad Dhani, hingga menyisakan satu saja (Nu Dimention). Entah karena memang Nu dimention ini banyak fansnya atau karena daripada Dhani nganggur tidak mentorin siapapun akhirnya Nu dimention ini bertahan hingga sekarang. Padahal kalau difikir secara logika sebenarnya masyarakat Indonesia sekarang ini sudah mulai muak dan jijik dengan yang namanya Boys/Girls Band, akan tetapi kok Nu dimention tetap bertahan ya. Nah, disini kemudian ada sebuah ketimpangan yaitu ketika anak asuh Dhani tinggal satu, keadaan ini terbalik dengan anak asuh bebi Romeo, hingga beberapa pekan anak asuh Beby Romeo tetap bertahan empat- empatnya, menurut hemat saya memang anak asuh bebi ini sangat berkualitas semua mulai dari Alex dan Novita dengan suara tingginya, Agus dengan suara yang sangat awesome dan Isa raja sang Rocker sejati dan menurut saya mereka itu punya tempat tersendiri dalam hati para fans. Satu persatu anak buah bebi Romeo mulai dipulangkan, agaknya sih biar kerjaan dewan juri jadi sama rata alias jangan sampai terjadi kecemburuan sosial masalah kerjaan, jangan sampai Dhani Cuma mentorin satu tapi kok Bebi mentorin empat, tentu nanti Bebi akan merasa keberatan, maka dikurangilah satu persatu anak asuhnya Bebi. Kalau kita lihat minggu ini hampir semua mentor pegang satu anak asuh kecuali Rosa yang masih menghandle 2 anak asuh, itupun tadi Shena sudah masuk Bottom two.

2. Terkait dengan transparansi perolehan jumlah poling sms, kalau saya melihat acara- acara audisi sebelumnya seperti waktu saya melihat AFI, perolehan poling smsnya itu dipublikasikan ke masyarakat. Jadi masyarakat bisa tahu ini lho yang nantinya bakal aman dan ini lho yang tidak aman. Akan tetapi di X-Factor perolehan tersebut tidaklah dipublikasikan. disini saya asumsikan bahwa penyelenggara sengaja membuat penasaran para pemirsa dan tentunya orang- orang yang telah mendukung lewat sms (saya kira hanya keluarganya yang mengirim sms) , mereka membuat ketar- ketir para pendukung sehingga mau tak mau akan terus mengirim sms dukungan agar jangan sampai yang didukungnya itu pulang. Kalau tidak ada transparansi seperti ini tentu akan rawan sekali terjadi kecurangan, siapa tahu Isa Raja adalah seorang yang memiliki harta berlimpah sehingga tidaklah sulit bagi keluarganya untuk mengirim sms dengan jumlah puluhan juta rupiah akan tetapi berhubung ketenarannya kalah sama Fatin maka Isa Raja tetap saja dikorbankan, meskipun sms dukungan kepada Fatin tidak sebanyak sms dukungan Isa Raja. Harusnya tetap ada transparansi agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan tertipu, mereka yang mendukung bisa tahu kalau perolehan sms meningkat setelah di sms atau tidak ada perubahan sama sekali.

Jadi kesimpulan menurut diri pribadi saya adalah saya juga merasa tertipu dan terhipnotis oleh acara yang bertajuk X-Factor ini, saya berasumsi bahwasanya acara tersebut tidaklah murni berdasarkan pada jumlah poling sms yang masuk untuk menentukan siapa yang bisa maju ke fase selanjutnya dan siapa yang harus pulang. Menurut saya semua sudah di setting sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan berbagai pihak. Ya meskipun itu sah- sah saja bagi mereka, akan tetapi jangan sampai nantinya berbuntut pada hal penipuan dan lain sebagainya karena ini menyangkut banyak pihak terlebih pihak- pihak yang memberikan dukungan secara material.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 11 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 11 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 11 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: