Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Keluar dari Zona Nyaman?

OPINI | 19 April 2013 | 11:45 Dibaca: 933   Komentar: 9   2

Mantan boss saya, berkewarganegaraan Taiwan, pernah berbagi, bahwa cara menilai “harga” kita adalah keluar dari zona nyaman kita saat ini. Merasakan kenyamanan di suatu tempat, contoh bekerja di perusahaan mapan, menurut si mantan boss bukan berarti kamu sudah “berharga”. Mungkin saja di luar sana, kamu tidak “seberharga” di tempat kamu bekerja sekarang, mungkin kamu bisa lebih “mahal” atau mungkin saja bisa lebih “murah”.

Maksudnya si mantan boss apa nich? Menyuruh saya keluar dari perusahaan atau sekedar berbagi saja? Hmmmm….

Apa yang dikatakan si mantan boss sempat hilang begitu saja, dan beberapa tahun kemudian beliau kembali ke negerinya, dan saya baru menyadari ada kebenaran dari sharing-nya beliau. Saya-pun keluar dari perusahaan di mana saya bekerja waktu itu. Ketika bekerja di perusahaan lain, saya memaknai apa yang beliau katakan, saya “dihargai” lebih dari perusahaan tempat saya bekerja yang terdahulu, walau dibanding dengan rekan-rekan di tempat kerja yang baru, saya merasakan di-”hargai” lebih kecil… Hiksss….

Tapi…. apakah benar orang-orang yang keluar dari pekerjaannya, keluar dari zona nyaman atau justru dari zona tidak nyaman? Justru hampir kebanyakan dari yang saya lihat, orang ingin sekali keluar dari zona yang tidak nyaman, karena memang tidak mendukung mereka dalam bekerja. Bayangkan saja kalau setiap hari bertemu dengan orang yang tidak menghargai kita, atau bahkan mungkin ingin menjatuhkan kita… sangat tidak nyaman! Nah, biasanya disitulah keputusan akan dibuat, untuk keluar dari zona tidak nyaman itu.  Walau ada beberapa orang justru tercambuk melalui keadaan yang tidak nyaman, ada yang bilang, memancing kreatifitas atau termotivasi untuk lebih baik lagi, tapi semua pasti ada batasnya.

Sekiranya kita dalam keadaan yang bisa dibilang nyaman, lingkungan kerja ok, gak ada masalah yang berarti, dunia seperti berputar dengan normal-normal saja… lalu kenapa perlu keluar dari keadaan yang nyaman seperti ini? Kita harus berhati-hati untuk mengambil keputusan keluar dari keadaan yang seperti ini… Karena membangun sesuatu yang baru, atau menempati suasana yang baru, pasti butuh perjuangan juga.

Selain karena karunia Tuhan, tekad dan usaha juga diperlukan dalam membangun keadaan yang nyaman. Manusia harus melakukan yang terbaik dari yang dipunyainya. Keluar dari zona nyaman-pun bisa dibilang proses melakukan yang terbaik, tambahkan modal keberanian dan kemantapan hati untuk bisa melakukan yang terbaik. Bagi saya, walau merupakan hal yang penting, tapi hasil dari usaha itu adalah nomor dua.

Nyaman, kurang nyaman atau tidak nyaman, usaha jalan terus dooong! :)

@IyesWithLOVE

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Djunijanti Peggie, Buku Kupu-kupu dan Cinta …

Isson Khairul | | 26 April 2015 | 11:57

Banjir, Hati-Hati Melintas Underpass …

Suci Handayani | | 26 April 2015 | 13:38

[Blog Competition] Perlindungan Tanpa Beban …

Kompasiana | | 18 April 2015 | 12:01

7 Tanda Cinta Kompasianer Kepada Film …

Kompasiana | | 26 April 2015 | 14:09

Kompasiana Ngulik bareng Rapper JFlow dan …

Kompasiana | | 23 April 2015 | 19:58


TRENDING ARTICLES

Gagasan Tommy Soeharto Ditolak, Ini …

Mbah Mupeang | 3 jam lalu

Ketika Bung Karno Bilang:” …. …

Hendi Setiawan | 6 jam lalu

Selasa Malam 10 Gembong Narkoba Dieksekusi …

Bambang Setyawan | 16 jam lalu

Biar Miskin Tapi Terhormat …

Ifani | 21 jam lalu

Kenapa Harus Marah? …

Daniel H.t. | 25 April 2015 17:49


Subscribe and Follow Kompasiana: