Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Merita Pahlevi

complicated/red/march/bigdreamer/exauditor/economwannabe/futurewifenmom/

Cerita tentang Sebuah Mimpi (Part 2)

REP | 19 April 2013 | 15:10 Dibaca: 92   Komentar: 1   0

Masalah muncul lagi saat itu, perkiraanku meleset. Walaupun aku sudah mendaftar untuk perkuliahan di kelas malam, ternyata aku malah ditransfer ke kelas pagi. Pihak universitas beralasan kalau yang diterima di kelas malam kuotanya tidak mencukupi, jadi semua mahasiswa kelas malam akan ditransfer ke kelas pagi. Cerita tentang Sebuah Mimpi (Part 1)

Mendengar kabar itu aku merasa benar-benar kecewa. Seakan ingin pasrah, apakah mungkin aku tidak ditakdirkan untuk kuliah, kenapa semua jalan yang sudah aku usahakan tidak ada yang mempermudah jalanku kesana. Sempat  terpikirkan untuk berhenti berusaha, aku menyerah.  Aku tidak akan daftar ulang. Pada saat pengumuman kelulusan dijelaskan bahwa bagi yang tidak melakukan daftar ulang paling lambat satu bulan dari sekarang dianggap mengundurkan diri. Ya, aku mundur saat itu!

Beberapa hari mendekati penutupan pembayaran uang kuliah, tiba-tiba aku terpikirkan untuk menghubungi pihak universitas. Aku berencana untuk mengusulkan penundaan kuliah selama satu semester,  jika  memungkinkan. Saat itu semangat ku muncul lagi, aku belum mau menyerah. Seandainya usulan penundaan kuliah ku diterima, aku akan mencari cara lagi agar aku bisa kuliah di semester selanjutnya.

Akhirnya tepat pada hari terakhir pendaftaran ulang aku datang ke UI untuk mengajukan penundaan kuliah. Seperti mendapat angin segar hari itu, ternyata usulanku diterima. Aku diminta untuk memasukkan usulan secara resmi dengan membuat surat permohonan dan syarat-syarat lainnya. Alhamdulillah, aku membatin. Masih ada jalan.

Karena permohonan penundaan kuliah ku diterima, aku melaksanakan aksi berikutnya. Aku masih punya waktu satu semester untuk memikirkan cara bagaimana aku bisa kuliah semester depan. Dan satu-satunya cara yang aku pikirkan adalah berhenti bekerja di tempatku bekerja saat ini dan mencari pekerjaan baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sibuk, sehingga masih memungkinkan untukku melanjutkan kuliah.

Saat itulah aku mulai menjelajahi perusahaan targetku, mulai dari mengunjungi tiap-tiap website perusahaan, mengirimkan email lamaran dan mendaftarkan diri di website pencari kerja. Aku akan berusaha dengan maksimal. Menariknya lagi, aku tetap melamar untuk posisi auditor, dari eksternal auditor menjadi internal auditor. Mungkin waktunya bisa sedikit lebih senggang. Kenapa masih auditor? Coz I love accounting, aku suka menjadi auditor, aku menyukai profesi itu, aku merasa itu lah jiwaku. Makanya aku tidak mau jauh-jauh menyimpang dari auditor.

Di saat-saat masa pencarianku itulah aku mendapatkan informasi dari temanku yang mengabarkan bahwa penerimaan pegawai baru untuk Kementrian Keuangan telah di buka. Awalnya aku cuek. Namun aku ingat sekali, orang tuaku beberapa bulan yang lalu pernah bilang, “Nak, kata kakak Kementrian Keuangan tahun ini akan buka rekrutmen, nanti kalo emang buka ikut ya. Itu peluang yang bagus. Buat apa bertahan lama di swasta, terlalu capek untuk cewek” Saat itu aku masih bertahan dengan egoisme ku. Aku tekankan pada orang tuaku, aku cuma ingin jadi dosen, bukan kerja sebagai PNS yang lain. Namun dengan lembutnya orang tuaku masih terus berusaha membujukku. Akhirnya waktu itu aku mengiyakan. Aku akan mencoba, tidak ada salahnya mencoba. Toh, belum tentu lulus dengan mudah karena persaiangan untuk masuk kesana pun berat.

Mendengar informasi penerimaan itu  aku  lalu menghubungi papa. Dengan antusiasnya papa memintaku untuk segera mendaftar dan melengkapi syarat-syaratnya. Aku pun menurut, karena aku pernah mengiyakan untuk ikut. Akhirnya aku mendaftar dan berkas pendaftaran pun aku kirim. Document sent.

Berkas lamaranku ternyata diterima dan akupun memperoleh kesempatan untuk mengikuti test tahap selanjutnya. Test tahap I adalah Test Kemampuan Dasar. Aku mengikuti test pertama tersebut dengan sungguh-sungguh. Tiga minggu kemudian hasil test pun diumumkan, dan alhamdulillah aku lolos untuk test tahap pertama tersebut menyisihkan ribuan peserta lainnya. Papa begitu antusias mengetahui kalau aku lolos test tahap I tersebut. Papa memintaku untuk lebih serius mengikuti test tahap selanjutnya  yaitu psikotest. Dengan enggan aku menjawab “Iya pa”. Saking antusias dan senangnya papa bilang “Coba tanya kak Nanok (kakak sepupuku) tips nya untuk menghadapi psikotest, karena kakak kan udah punya pengalaman disana”.

Satu hal yang menjadi semangatku yang paling utama ingin lulus adalah Papa. Karena sangat berharap aku lulus, papa pernah bilang “Yuk, kalau ayuk lulus, Papa sembuh”. I will Pa…

Ayuk rindu nasihat n saran papa. Kini ayuk dak tau lagi ndak ngadu kek siapo pa. Dak tau lagi ndak cerito kek siapo kalo ayuk punyo masalah :’(

Sebenarnya saat mengetahui pengumuman itu aku sudah tidak terlalu antusias. Aku tidak terlalu berharap untuk lulus karena pada saat jeda waktu antara pelaksanaan test dan pengumuman hasil seleksi tersebut cukup lama. Di sela-sela waktu itu aku ternyata mendapat panggilan interview kerja di perusahaan lain. Perusahaan yang aku inginkan dengan posisi yang sesuai dengan yang aku inginkan, Internal Auditor. Setelah interview tersebut aku mendapat titik terang.  Perusahaan tersebut tertarik dengan kualifikasi yang aku miliki karena setelah interview pertama itu, satu minggu selanjutnya aku dipanggil lagi untuk mengikuti psikotest.  Setidaknya aku punya harapan. Aku tetap melanjutkan tahapan test di Kementrian Keuangan ini hanya karena papa.

Beberapa minggu berikutnya aku pun mengikuti psikotest dengan ogah-ogahan dan tanpa persiapan apa-apa. Malam sebelum psikotest tersebut, aku masih lembur di kantorku hingga jam 12 malam sementara aku harus berangkat pagi-pagi keesokan harinya untuk mengikuti test. Dan yap, kondisi sudah seperti yang aku bayangkan, selama mengikuti test aku benar-benar ngantuk parah. Test yang  kurang lebih berlangsung selama lima jam itupun berhasil aku lalui dengan pesimis.

Tapi sepertinya dewi fortuna masih berpihak pada ku kali ini. Dengan psikotest yang menurutku kacau balau itu mengantarkan ku untuk mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tahapan test terakhir.

Satu minggu setelah pengumuman, aku pun mengikuti test tahap akhir yaitu test kebugaran dan kesehatan dan interview.  Saat akan mengikuti test ini muncul lagi masalah. Seperti apa? Cek di breaking news di akhir tulisan ini ya…

Aku mengikuti test dengan maksimal sesuai kemampuanku. Sebelum test kebugaran aku sedikit melakukan latihan lari sebagai pesiapan agar tidak kaget saat test belangsung. Saat interview aku juga menunjukkan diriku apa adanya, tanpa melebihkan ataupun mengurangi. Aku hanya mencoba untuk tampil jujur apa adanya. Aku tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa diterima yang nantinya justru akan merugikan diri sendiri.

Tujuh hari setelah test tahap akhir, hasil test pun diumumkan. Malam tanggal 13 November 2012 aku menunggu pengumuman kelulusan. Detik-detik yang menegangkan. Dalam lubuk hati yang terdalam aku sangat berharap aku tidak diterima, tapi aku selalu menunjukkan kepada kedua orang tuaku kalau aku berusaha maksimal untuk lulus, kalau aku ingin lulus. Walaupun aku tahu dengan aku diterima sebagai PNS di Kementrian Keuangan artinya aku membunuh cita-citaku untuk menjadi dosen. Dilema.

Hasil yang ditunggu itupun datang juga, aku mulai mencari namaku di sekian banyak nama yang dinyatakan lulus. Dan yap, aku menemukan namaku. MERITA PAHLEVI, BADAN KEBIJAKAN FISKAL. Saat itu aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku, sedih dan senang campur aduk. Aku hanya bisa pasrah dengan nasib. Mengetahui pengumuman itu aku langsung menghubungi Papa dan Mama. Papa Mama senang luar biasa mengetahui hasil itu. Cita-cita orang tua ku tercapai. Mendengar Papa dan Mama sangat senang, aku pun ikut senang. Walau bagaimanapun, aku bahagia bisa membahagiakan orang tuaku, keluargaku. Mereka yang sangat aku sayangi.

Begitulah akhirnya aku bisa sampai di sini, di BKF.  Aku merasa semua ini, aku bisa di sini berkat doa orang tuaku. Terlebih doa papa. Sekarang aku baru sadar kenapa Papa begitu berharap aku bisa lulus, setidaknya kalau aku jadi PNS hidupku sudah tenang, mapan. Ternyata papa ingin menitipkan mama dan adik-adikku padaku. Dan papa memang sembuh dari sakitnya setelah aku lulus, sembuh dari sakitnya untuk selamanya. Aku baru sadari itu semua.

I’ll do the best pa…

Breaking News>>> Tiap kali aku ingin mengikuti tahapan test pasti selalu ada masalah dikantorku.

Pertama, pada saat aku akan mengikuti test kemampuan dasar (tahapan test yang pertama), satu minggu sebelum test aku tiba-tiba mendapat tugas ke luar kota. Waktu itu aku ditugaskan audit ke Balikpapan (Kalimantan) selama tiga minggu ke depan. Aku langsung panic, karena kalau aku keluar kota, apalagi lintas pulau, tidak akan mungkin aku bisa mengikuti test. Akhirnya dengan modal nekat dan mempertaruhkan kinerja ku, aku nekat menolak untuk ditugaskan dengan alas an aku ingin mengikuti test. Hal ternekat yang aku lakukan, karena dengan begitu kinerja ku disana pasti akan sangat buruk karena belum pernah ada yang berani menolak penugasan. Dan aku melakukannya, yang hanya seorang junior auditor yang belum punya kekuatan apa-apa. Aku lapor ke senior ku tentang aku ingin mengikuti test. Tapi memang keberuntungan masih berpihak padaku, ternyata aku mendapat senior yang baik, dia malah menyarankan untuk berbohong pada manager mengenai alasanku menolak ditugaskan agar aku tidak di noted. Kebohongan pun berhasil dengan konsekwensi aku harus mencari orang yang bisa menggantikan aku. Dengan sedikit bolak balik akhirnya aku dapat teman yang bisa menggantikanku. Done.

Kedua, saat akan mengikuti psikotest, aku sedang dalam engagement audit salah satu klienku. Saat itu deadline sedang benar-benar ketat. Deadline untuk interim period hanya tinggal dua hari lagi. Lucunya lagi, dalam tim ku tersebut ada dua orang yang akan mengikuti psikotest di Kemenkeu, aku dan temanku.  Aku bingung bagaimana harus meminta izin. Di tengah-tengah pekerjaan yang padat dan mendesak rasanya tidak mungkin aku izin sakit. Terlebih lagi izin sakit ku akan sangat mencurigakan karena aku terlihat baik-baik saja dan akan ada dua orang yang izin sakit bersamaan. Aneh… Akhirnya kami nekat untuk jujur pada senior ku, kalau aku izin besok untuk mengikuti test. Senior ku pun mengizinkan kami. Keesokan harinya aku masuk kantor sudah disambut dengan panggilan dari managerku untuk meeting d kantor pagi itu. Dengan tenang aku mengikuti meeting. Tapi sebelum manager ku memulai meeting dia malah bertanya “lo udah sembuh lev?”. Wew…emang aku sakit? Aku baru sadar kalau ternyata senior ku bilang ke manager kalau aku tidak masuk karena sakit.Alasannya ga enak kalo jujur bilang mau ikut test. Syukurlah.

Ketiga, saat akan mengikuti test tahap akhir kesehatan kebugaran dan interview, di hari yang bersamaan dengan test tersebut berlangsung aku mendapatkan panggilan interview dari perusahaan swasta tersebut. Hmm, aku pun galau. Aku merasa ingin meninggalkan test kesehatan demi interview di perusahaan itu. I think that my dream will come true, kenapa harus gagal karena pekerjaan yang tidak aku inginkan (PNS). Namun kakak ku menyarankan untuk meminta izin pada perusahaan tersebut untuk menunda pelaksanaan interview. Dan tebak apa hasilnya? Perusahaan tersebut menerima izinku dan mengatakan akan mencari waktu lain untuk interview.Beberapa hari setelah penundaan itu, aku dihubungi oleh pihak perusahaan tersebut untuk mengikuti interview pada tanggal 13 November 2012. Ingat tanggal 13 November hari apa? Hari itu adalah pengumuman terkakhir kelulusan di Kementrian Keuangan. Aku benar-benar tidak mengerti, rencana seperti apa ini yang sudah diatur tuhan untukku, begitu kebetulan seperti ini. Setelah berpikir panjang dan meminta saran dari papa mama serta kakakku, aku pun membuat sebuah keputusan yang besar. Jika hari itu aku diterima di Kementrian Keuangan, aku akan ambil kesempatan itu dan artinya aku akan mengorbankan mimpiku, membatalkan test interview di perusahaan impianku hari itu.Namun jika aku gagal, aku akan mengikuti interview di perusahaan itu, artinya aku mempunyai peluang sedikit melangkah menggapai mimpi.

Di saat inilah takdir berkata, manusia hanya bisa berencana, namun Tuhanlah yang menentukan. Sekarang aku berada di tempat yang seharusnya aku berada. Aku bersyukur.

Ditulisan selanjutnya aku akan mencoba berbagi pengalaman saat mengikuti test Kementrian Keuangan setiap tahapannya.

Cheers,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 12 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 15 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 15 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: