Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hater To Lover

Kupikir, membenci jauh lebih sulit daripada mencintai. Dan itu jelas menyakitkan. Akuilah!

Mahasiswa Anarkis, Haruskah?

REP | 18 April 2013 | 09:50 Dibaca: 157   Komentar: 5   0

Kebetulan malam kemarin ane belum tidur kira-kira sampai pukul 02.30, dan kebetulan juga si mbak-mbak pembawa berita yang ada di TV ngasih tahu kalau di kampus tertentu (udah pada tahu kan kampusnya?), mahasiswanya lagi ngamuk karena merasa ditipu oleh para dosen dan rektor sendiri. Merasa ditipu dengan akreditiasi kampus, bayaran yang terkesan terlalu mahal sedangkan fasilitasnya sangat sederhana dan serba kekurangan. Akhirnya para mahasiswa ngobrak ngabrik kampus habis-habisan, kaca dipecahin, komputer diancurin, kursi, meja, jendela, apapun yang bisa mereka hancurkan, dihancurkanlah dengan buas dan beringas. Tidak sampai disitu, pecahan-pecahan barang eletronik atau barang apapun yang bisa dibakar, dibakar jua oleh para mahasiswa tersebut.

Tentu aksi anarkis mahasiswa yang penuh dengan kebringasan itu sebagai bentuk kekecewaan kepada pihak kampus. Dan aksinya itu juga sebagai tuntutan bahwa kampus harus secepatnya memenuhi keinginan mereka. Secepatnya, harus!

Ane juga merasa kesel kalau ada kampus yang seperti itu, ngaku akreditasi B, padahal C. Janjiin fasilitas yang memadai dan mungkin mewah, tapi ternyata tidak dipenuhi sedangkan bayarannya mahal, lumayan mahal sebetulnya untuk ukuran jaman sekarang. Intinya bayarannya tidak sesuai dengan fasilitasnya.

Cuma yang buat ane heran, aksi mahasiswanya itu terkesan lebay dan bar-bar banget. Kalau seperti itu adanya, sepertinya kekuatan mahasiswa itu tidak terletak pada intelektualitas mereka, tapi berada di ototnya. Kalau ujung-ujungnya menuntut suatu perubahan dengan otot, kekeresan, anarkisme, ngapain juga belain kuliah mahal-mahal. Kulaih kan tujuannya untuk membentuk inteletualitas yang lebih berarti dan berguna dalam mendobrak segala hal perubahan ke arah yang lebih baik, benerkan? Kalau intinya Cuma ngandelin kebringasan, apalagi memberi kesan jangan macam-macam dengan mahasiswa, karena dengan jumlah yang besar kami bisa ngancurin apapun, nonjok siapapun, buat apa juga jadi mahasiswa, mending jangan kulaih.

Kalau mahasiswa harus menggunakan cara yang sama dengan orang-orang yang tidak mampu menggunakan intelektualitasnya untuk menuntut perubahan karena rendahnya pendidikan, sehingga mereka hanya bisa mengandalkan otot. Lalu apa gunanya kuliah? Lalu apa gunanya usaha susah payah menjadi intelektual?

Ayolah Kawan, intelektualitas dan ilmu pasti menemukan jalannya untuk mewujudkan perubahan, dan hal itu pasti elegan, baik cara atau nanti hasilnya. Sabar adalah bagian dari perjuangan, bahkan itu bisa jadi bagian yang terpenting dari perjuangan dan pengorbanan, jangan menghilangkan itu dari jalan menuntut sebuah perubahan dan kebaikan, Kawan.

Ane juga mahasiswa, mendukung kalian yang ingin kampusnya lebih baik, tapi ane juga berharap Kawan-kawan melakukannya dengan elegan, dengan jalan intelektualitas tentunya. Ilmu pasti menemukan jalannya kawan, sabarlah dalam keterlambatan dan hambatannya. Karena tidak ada jalan mulus di dunia ini, apalagi jalan menuju perubahan yang lebih baik, tentu kawan sudah tahu jalannya. Adakalanya jalan menuju perubahan memang tidak hanya menuntut keringat yang bercucuran, tapi juga darah dan kepayahan yang menyakitkan. Tapi kita sedang berjuang bukan? Bukankah memang seperti itu perjuangan, penuh pengorbanan.

Semoga kawan semuanya sukses. Siapa yang tidak menginginkan perubahan. Kita telah terpilih alam menjadi mahasiswa, sepertinya kita mempunyai cara yang berbeda dengan mereka para preman dalam menuntut sebuah perubahan. Mari kita saling mengingatkan!

“Tuhan tahu, tapi menunggu”. Itu kata Om Andrea Hirata.

@HaterToLovers

Catatan Hater

Tatanan Dunia Baru Kaum Satanis

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Suasana Jalan Thamrin Jakarta Pagi Ini …

Teberatu | | 20 October 2014 | 08:00

Eks Petinggi GAM Soal Pemerintahan Jokowi …

Zulfikar Akbar | | 20 October 2014 | 07:46

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Harapan kepada SBY Lebih Besar Dibanding …

Eddy Mesakh | | 20 October 2014 | 09:48

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 4 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 11 jam lalu

Jokowi (Berusaha) Melepaskan Diri dari …

Thamrin Dahlan | 18 jam lalu

Lebih Awal Satu Menit Tak Boleh Masuk Ruang …

Gaganawati | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

[Cermin] Tentang Keimanan …

Meta Morfillah | 7 jam lalu

Mewujudkan Independensi Mahkamah Agung dalam …

Zulkifli Muhammad | 8 jam lalu

Nikmatnya Berwisata Sambil Berdinas …

Dizzman | 8 jam lalu

Menyoal “Kurtilas Terancam Gagal” …

Dede Taufik | 8 jam lalu

“Off the Record” …

Ronny Wijaya | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: