Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Siti Marfuah

Seorang yang mencoba menulis lagi dengan nuasa PENDIDIKAN dan SEJARAH

Diskusi tentang Sebab-sebab Kemiskinan

OPINI | 17 April 2013 | 00:06    Dibaca: 305   Komentar: 0   0

Hari Selasa (16/4) pada kuliah Perspektif Global di ruangan 4, diskusi dibuka dengan judul Kemiskinan dan ****** (saya lupa lengkapnya). Ditemani seorang moderator, dua orang penyaji diskusi pun menjelaskan hasil review mereka terhadap bab yang telah ditentukan. Tidak begitu banyak teman-temanku yang memperhatikan, contohnya tema-teman perempuan aku yang berada dipojokkan yang asyik makan di ruangan. Mentang-mentang nggak ada dosen seenaknya. Hedeh……

Seorang temanku asyik menjelaskan slide yang telah dibuatnya, aku jelas sontak kaget saat membaca sub judul slide “Sebab-sebab Kemiskinan“. Jelas kaget yang tertulis ialah Korupsi dan Perubahan Iklim. Benar-benar kaget ga ketulungan. Tentu saja hasrat untuk berdebat pun muncul.

Namun, disaat hasrat itu mulai memunculkan sebuah bibit baru. Seorang temanku bertanya duluan untuk itu, tepatnya dua orang. Temanku yang pertama bertanya tentang perubahan iklim dan yang kedua bertanya tentang “Bagaimana cara mengatasi korupsi?”.

Jawaban yang dilontarkan seorang penyaji pun sebenarnya sampai sekarang tidak saya setujui. Dia mengatakan bahwa, “Perubahan iklim diakibatkan pemanasan global dan efek rumah kaya. Pada negara maju hal ini tidak terlalu berakibat.”. Pernyataan yang penuh kotraversi sebenarnya. Teman saya malah menimpali, “Masa tidak ada dampaknya? Kan kontek Pemanasan Global secara mengglobal berarti keseluruhan mendapat dampaknya.”

Diskusi pun berlanjut dengan pernyataan yang kotraversi seperti di atas oleh sang penyaji. Saya juga tidak setuju jika perubahan iklim seperti bencana dan banjir dapat menyebabkan gagal panen yang berujung pada kemiskinan. Karena bagi saya hari ini bencana, besok nggak langsung miskin, kan? Semua butuh proses, meskipun mereka adalah petani. mungkin saja perubahan iklim hanya menjadi dinamika dalam masalah ekonomi keluarga mereka bukan menyebab utama kemiskinan. Hal ini dirasakan oleh petani jika dijadikan contohnya.

Terus saya tambahkan ┬ádengan cerita yang terkenal yaitu “Bawang Merah dan Bawang Putih” yang melejit dipasaran. Sekalipun gagal panen, yang ┬átetap saja besok mereka tidak langsung miskin….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mencari “Menara” di Tanah …

Imam Rahmanto | | 29 May 2015 | 20:36

Mengurai Wajah Surabaya bersama Risma …

Wildan Hakim | | 28 May 2015 | 18:01

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Makin Solid karena Pasien Sakit …

Rinta Wulandari | | 29 May 2015 | 19:56

Rahim Melorot, Siapa yang Paling Bertanggung …

Nanang Diyanto | | 28 May 2015 | 20:58


TRENDING ARTICLES

Gagal Jadi Mualaf …

Yo | 9 jam lalu

Managerial Meeting Berlangsung Alot, Timnas …

Af Yanda | 11 jam lalu

Nasib Pelapor Beras Plastik …

Pical Gadi | 11 jam lalu

Petral Ternyata Tidak Berdosa, Bukan Sarang …

Asaaro Lahagu | 11 jam lalu

Gambar Cibiran terhadap FIFA Meramaikan …

Ardiansyah | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: