Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Aliyazahra

Seorang pembelajar di universitas kehidupan ^_^

Surat Cintaku untuk Pak SBY

OPINI | 16 April 2013 | 22:57 Dibaca: 249   Komentar: 1   2

Kepada : Ayah Negeri

Bismillah

Wahai penguasa negeri pertiwi, izinkan ananda memanggilmu Ayah sebagai wujud penghormatanku padamu.

Ayah…
Bagaimana kabarmu kini? Semoga kesehatan dan rahmat Allah senantiasa tercurah untukmu dan seluruh penghuni negeri ini. Ma’af sebelumnya Ayah jika ananda lancang menuliskan surat ini kepadamu, mungkin dirimu tak sempat membaca surat ini tapi setidaknya tulisan ini bisa menjadi sedikit penghibur lara sang pertiwi.

Tahukah dirimu ayah??? 4 tahun yang lalu saat pilpres berlangsung, aku dan jutaan rakyat Indonesia mengantungkan harap kepadamu. Kami percaya ayah mampu memimpin negeri ini lebih baik lagi, agar hilang lesu di wajah pertiwiku, sudah lama ku lihat ia bermuram durja, dan dengan bismillahlah ku mantapkan hati untuk mendukungmu.

Waktu itu ayah begitu semangat menyampaikan solusi dan rencana konkret untuk membenahi Indonesia tercinta, mencicil sedikit demi sedikit utang negara ini, agar tak semakin mencekik leher kami. Mewujudkan kesejahteraan di tanah pertiwi hingga berkurang pengemis dunia yang seolah hilang masa depan. Memberi kami pekerjaan yang layak agar tak menjadi budak di rumah sendiri. Saat itu, bagi kami dirimulah mata air penghilang dahaga itu,  menghidupkan cahaya harapan di hati-hati kami yang awalnya telah redup karena konflik kehidupan. Ah ayah betapa tinggi kepercayaan kami padamu.

Sudah lama pertiwiku merindu ayah, hingga tak bermaya lagi wajahnya karena rindu. Begitu juga kami merindu sosok pemimpin yang bekerja dengan segenap cinta. Mungkin terlampau muluk jika ku mengharapkan dirimu mampu menggantikan sosok Umar yang rela lapar sebelum rakyatnya kenyang, bahkan ialah yang memikul sendiri gandum untuk seorang ibu yang kesulitan mendiamkan tangis lapar anaknya. Terlampau muluk! tapi setidaknya bolehkah ananda berharap ayah? agar sedikit cinta yang dimiliki umar melekat pada dirimu.

Ayah jika dahulu kepak Garudaku begitu gagah menggudara ke seluruh pelosok negeri, tapi kini kulihat sebelahnya telah cidera hingga tak mampu terbang seimbang. Jika duhulu Indonesia di juluki Macan Asia tapi kini Macan itupun telah lelap tertidur, dan aku mulai bertanya kapankah gerangan iakan bangun kembali???. Entahlah ayah akupun mulai bingung karenanya.

Ayah kini keadilan di negeri ku ibarat mata pisau yang tajam dibawah, tapi malah tumpul di atasnya. Astaghfirullah, keadilan seperti apa itu??? Jika Muhammad dengan sabar menyuapi makan seorang yahudi buta dengan cinta. Tegakah dirimu menyuapi jutaan mulut bayi yang lapar, dengan hutang lebih dari 10 juta/kepala??? Aduhai ngeri >.<

Coba sesekali keluar dari zona nyamanmu ayah, agar bashirahmu kian luas akan nasib negeriku kini. Aku percaya kau telah bekerja untuk pertiwi. Karena seperti apa yang kau katakana dulu Presiden adalah pelayan bagi rakyatnya. Bukan begitu ayah??? Ku perhatikan juga wajahmu tampak letih di tambah lagi garis usia yang semakin tegas dengan kantung mata yang kian membesar. Apakah engkau lelah ayah? Lelahkah dengan polemik sang pertiwi, atau dengan aksi tikus nakal yang kian gencar menggerogoti kekayaan Nusantara. Lelahkah dirimu ayah??? hingga tiada lagi waktumu untuk memperhatikan kami??? Ananda tak bermaksud menggugatmu atau menyesal karena telah memilihmu. Tidak ayah!!! bagiku seperti apa dirimu kini, engkau tetap ayah bagi tiap anak bangsa, dan ananda sungguh mencintaimu.

Duhai Ayah…

Perhatikanlah diantara kami yang yatim, yang janda, yang papah dan terjerat hutang karena kemiskinan. Perhatikanlah kami yang patah citanya, yang bodoh karena nasib, dan yang dungu tanpa masa depan.Perhatikanlah kami yang berpeluh menahan kerasnya hidup, dan berusaha berdamai dengan dinginnya malam yang menggigit, sementara perut kosong tak tau dengan apa harus di isi. Perhatikanlah kami yang mati dalam kesia-siaan, atau yang meminta di perempat jalan, yang terjebak dalam maksiat, yang terpasung oleh moral yang kian blangsak. Perhatikanlah kami yang nakal dan doyan mencuri, yang suka bermain mata dengan ketidak adilan. Perhatikanlah ayah, karena kelak semuakan ada perhitungannya di hadapan sang pencipta. Sebagaimana janjimu dulu ^_^

Ayah besar nian harapan kami padamu, agar berkenan bekerja dalam balutan cinta. Karena cinta yang takkan membuatmu sendiri, tetapi kami membersamaimu hingga tercurah berkah di negeri ini. Mari bekerja ^_^

***

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan. ” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

***

Surat Cintaku Untuk Ayah Negeri ^_^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 9 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 17 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 17 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: