Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Lila Esty

Seorang karyawan yang senang membaca dan sedang belajar menulis

Pengalaman Nge-kost: Mulai yang Horor Sampai yang ‘Horor’

REP | 12 April 2013 | 16:21 Dibaca: 1378   Komentar: 36   4

Jadi anak kos itu seru. Benar-benar menyenangkan. Kita bisa lakukan apa pun sesuka hati kita selama masih dalam batas-batas kewajaran, tentunya tidak mengurangi tanggung jawab kita sebagai seorang anak yang sudah dipercaya orangtua untuk belajar hidup mandiri.

Dari 35 tahun waktu hidup saya, hampir 17 tahun saya berstatus sebagai anak kost. Pertama kali merasakan kos adalah ketika saya memutuskan kuliah di luar kota, tepatnya Semarang. Pertama kali saya sampaikan keinginan untuk melanjutkan studi di semarang tentu saja orangtua sedikit kaget. Mereka berharap saya tetap di Solo, tempat saya dibesarkan, mungkin maksudnya biar mudah mengawasinya, secara saya ini bukan termasuk anak yang mandiri dari kecil. Orang tua juga ragu apa saya bisa hidup sendiri di Semarang sementara tak ada saudara di sana, cuci baju plus setrika pun saya tak bisa (karena tak biasa kali yaaa…). Namun demikian, beruntung orang tua ‘merelakan’ saya pergi.

Tempat kost-an pertama saya ada di daerah Pleburan, yang memang kawasan kost mahasiswa. Di daerah itu model kost-an tidak seperti kebanyakan tempat kost jaman sekarang, dimana induk semang sengaja membangun tempat untuk kos dengan berbagai fasilitas pelengkap. Tempat kost-an saya waktu itu bener-benar rumah dengan banyak kamar yang dimanfaatkan untuk tempat kost. Saya suka suasananya, karena ada ruang keluarga buat kami anak-anak kost kumpul sambil nonton TV bareng, ada ruang tamu dan teras rumah yang juga bisa dipakai untuk menerima tamu, jadi tak perlu menerima tamu di dalam kamar.

Ada banyak kejadian lucu selama saya 4 tahun tinggal di rumah itu. Menurut penghuni kost sebelum-sebelumya, rumah itu katanya serem, berhantu. Pun kata tetangga sebelah dan depan rumah. Jadi siapa yang tidak merinding kalau malam-malam kebetulan sendirian di rumah. Saya bukannya tidak takut dengan desas-desus itu, sebenarnya takut juga, tapi saya tetap memberanikan diri karena terlanjur kerasan. Pernah suatu ketika, saya melihat sekelebat bayangan putuh yang naik ke atas trus tiba-tiba turun lagi, seperti plastik kresek warna putih yang tertiup angin, tp pas saya coba lihat lagi ternyata ga ada plastik kresek itu. Sampai sekarang masih belum tahu itu apaan.

Tak hanya cerita horor yang ada di rumah ini, cerita kriminal pun ada. Saya termasuk salah satu korbannya, kaos serta tas yang berisi buku statistik, kalkulator dan dompet pun lenyap dibawa pencuri. Tidak cuma saya, teman lain juga ada, kebanyakan yang hilang kaos dan pakaian dalam. Suatu hari kami menemukan bungkusan kecil di dapur, setelah tanya sana-sini tidak ada yng merasa memiliki, akhirnya bungkusan itu kami buka, dan isinya celana dalamnya teman saya, mungkin ketinggalan/lupa pas mau dibawa, waduuuhhh. Penasaran siapa yg melakukan pencurian ini, kamipun iseng mengganti isi bungkusan itu dengan isian lain, hari berikutnya bungkusan itu hilang, dan hari berikutnya lagi, bungkusan itu kembali lagi ke tempatnya ada tambahan bunga kantilnya (apa ini maksudnya).langsung kita semua pada ketakutan…..hahahahaha

Kisah jadi anak kost berlanjut ketika saya mulai bekerja di Bogor. Di kota ini lagi-lagi saya harus kost karena tidak ada fasilitas mess buat karyawan. Saya kost di daerah Mawar. Kost saya ini cukup menyenangkan, dengan induk semang yang tinggal dalam satu rumah sehingga rumah terlihat bersih dan rapi tidak seperti kost-an. Di tempat ini sekali lagi ada berbagai, cerita horor. Cerita pertama adalah ketika seorang teman kost beberapa kali mengalami kesurupan, hingga akhirnya yang punya rumah pun ketakutan dan memanggil tim pemburu hantu (dulu ada programnya di Lativi), tak hanya itu lain hari si pemilik rumah malam-malam ketakutan karena melihat ada bayangan orang dengan perawakan besar di jendela dekat kolam di dekat ruang makan. Hmmm, memang menurut tetangga-tetangga rumah itu termasuk horor.

Masih di tempat kost saya yang ‘berhantu’, suatu ketika pemilik rumah ngetuk pintu kamar dan cerita kalau dia curiga ada cowok masuk ke kamar salah satu teman kost. Pemilik kost berencana ‘menjebak’ anak ini, maka ditutuplah semua pintu keluar rumah, semua pintu di kunci dan kuncinya diambil. Dan ternyata benar, teman saya ini menyembunyikan teman laki-lakinya di kamar, maka hebohlah kost-an kami. Belum lagi kejadian kebakaran yang menghanguskan kamar pemilik rumah, yang hingga saat ini membuat saya deg-deg-an kalau mencium bau asap.

pengalaman-pengalaman seru di kost-an yang tidak ada kaitannya dengan sekolah selalu menarik untuk diceritakan kembali, sembali mengenang masa-masa ’susah’ jadi mahasiswa.

Jadi anak kost memang menyenangkan, tapi harus pintar-pintar jaga diri, karena  anak kost itu jauh dari pengawasan orang tua. Hargai kepercayaan mereka, jangan sampai melukai perasaan mereka.

#catt: pengennya ikutan FREEZ, tp sudah berulangkali mencoba memverifikasi akun gagal terus. Hiks..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 16 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 17 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 7 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 7 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: