Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rahmat Hidayat

Lulusan Akademi Gizi Mataram 1999 Sekarang sedang bekerja dalam Tim Percepatan Klaim JKN di RSUD Praya selengkapnya

Premi BPJS dan Pelayanan Kesehatan di PPK

OPINI | 10 April 2013 | 09:34 Dibaca: 679   Komentar: 0   1

1365560738287501070

Dilema antara Premi BPJS, Penyelenggara dan Masyarakat sebagai Peserta

Besaran Premi Penerima Bantuan Iuran (PBI) di dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang diusulkan Kementerian Keuangan sebesar Rp 15.483 dan setahu saya akan dilakukan penyesuaian besaran PBI setelah BPJS berjalan. Sebagian kalangan berpendapat Iuran Rp 15.000 sudah tinggi, namun sebagian yang lain malah sebaliknya…

Seperti diketahui, mendekati pelaksanaan BPKS Kesehatan awal 2014, besaran premi PBI masih diperdebatkan. Mari Kita lihat :

a. Usul Kementerian Keuangan adalah sebesar Rp.15.483/bulan/peserta.

b. Usulan Kementerian Kesehatan RI sebesar Rp.22.201/bulan/peserta.

c. Usulan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Rp 27.000 per bulan.

Dari tiga usulan itu kira-kira :

a. Mana yang berpihak kepada masyarakat sebagai peserta ?

b. Mana pula yang berpihak kepada pengusaha sebagai pembayar premi karyawannya ?

c. Dan mana pula yang tidak merugikan penyelenggara ?

Penyelenggara  BPJS Kesehatan harus mempertimbangkan pula tentang premi ini, karena untuk kelancaran jalannya BPJS Kesehatan, ya operasionalnya, ya gaji karyawannya sehingga tidak pincang sana-sini dan bisa berguna untuk kemaslahatan rakyat yang sangat-sangat membutuhkan jaminan dan pelayanan  kesehatan yang semestinya, meskipun disamaratakan bahwa pelayanan perawatan setara  kelas III. Ini juga patut dipertimbangkan. Terlebih masyarakat yang akan dilayani bukan 86,4 juta lagi, melainkan melebihi 121 juta orang ! Jadi penyelenggara BPJS kesehatan harus mempersiapkan segala lini luar dalam dalam agar penyelenggaraan/pelaksanaan BPJS Kesehatan lancar dan tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Disisi lain, pelayanan pada BPJS Kesehatan diharapkan oleh masyarakat dapat “lebih baik” dibandingkan dengan pelayanan jaminan kesehatan lain yang sudah berlangsung selama ini. Mengapa ? Di lini paling bawah, terutama masyarakat sebagai peserta, terlebih lagi sebanyak 86,4 juta masyarakat miskin yang sudah terdata secara nasional (meskipun pendataannya itu banyak menimbulkan pro dan kontra), bahwa sebagiam masyarakat tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya di PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan, terutama tingkat lanjutan). Tidak bisa kita pungkiri bahwa sikap dan pelayanan dari PPK Tingkat lanjutan banyak yang kurang baik. Ini bisa terlihat dari sikap, pelayanan yang terkesan sinis, acuh, bahkan kurang cepat dalam hal penanganan, karena diketahui bahwa pasien yang bersangkutan adalah masyarakat miskin. Padahal, jika kita mau jujur, semua jenis program Jaminan Kesehatan yang sudah ada selama ini banyak yang berkontribusi positif untuk kemajuan dan perkembangan (menguntung) PPK itu sendiri, karena selain dibayar langsung oleh pemerintah, terlebih sekarang, pada Program Jamkesmas, PPK sangat terbantu dalam peningkatan pengembangan dan peningkatan taraf kesejahteraan karyawannya, bidan, perawat, dokter, bahkan cleaning service pun dapat menikmati jasa pelayanan yang lumayan, terlebih dokter spesialis. Namun mengapa sikap dan empati para petugas kesehatan di ruangan seringkali tidak berpikir positif untuk “lebih” menghargai masyarakat miskin (yang notabene merupakan salah satu sumber pendongkrak kesejahteraan mereka) yang datang ke rumah sakit ? Bagaimana pendapat Anda ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 4 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-Gara Konflik, Warga NU di PPP Akan Lari …

Diskusi Gemasaba | 8 jam lalu

Jangan Tagih Janji Jokowi …

Slamet Dunia Akhira... | 8 jam lalu

Terima Kasih Pak Begawan @Boediono …

Arif L Hakim | 8 jam lalu

Satpam Internaional Asli Bule Ramaikan Pesta …

Teberatu | 8 jam lalu

Citilink Kok Nggak Ngaret Lagi Sih…? …

Sony Hartono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: