Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Cay Cay

Belajar tak dibatasi usia.

Eh, Ibu Kan yang Kemarin Jualan Nasi Murah?

REP | 10 April 2013 | 10:30 Dibaca: 1612   Komentar: 52   12

Ini adalah cerita pengalamanku kemarin sore sewaktu naik angkot. Ceritanya kemarin aku mau pergi rapat, berhubung temanku yang biasanya pergi bersamaku tak bisa nyamper, akhirnya aku naik angkot sendirian. kebetulan angkot 03 yang kunaiki agak penuh sehingga aku duduk di depan dekat sopir.

Sang sopir yang adalah seorang laki-laki setengah baya memandangku sekilas. Aku tak terlalu peduli. Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan yang disodorkan pak sopir padaku. “Eh, Ibu kan yang waktu hari Sabtu jualan nasi murah?” Deg! Aku agak kaget. Kok ada orang kenal wajahku. Aku agak ragu menjawabnya. Tapi tak berapa lama kemudian aku menyahut,”Ya, kenapa mang?” Aku menjawab sekaligus bertanya apa maksudnya dia bertanya begitu kepadaku. “Aaah…enggak apa-apa kok. Nasinya enak bu. Kapan ada jualan nasi murah lagi?” “Oooo…kirain ada apa. Ntar, hari Sabtu lagi Mang. Jualannya memang cuma tiap Sabtu,” jawabku setelah aku merasa agak lega.,

Begitulah perbincangan sekilas dengan sopir angkot yang tak pernah kuduga akan terjadi. Satu hal yang bikin aku heran adalah kok sopir angkot ini sempat mengenal wajahku. Padahal tentunya ia hanya sekilas melihatku. Iyaa, ini semua memang berawal dari beberapa kali aku mengikuti kegiatan penjualan nasi murah. Kegiatan ini merupakan kegiatan paroki sebagai wujud solidaritas kepada masyarakat kecil. Kami para ibu yang tergabung dalam seksi sosial paroki sejak bulan Februari lalu mengadakan aksi menjual nasi murah setiap hari Sabtu.

Nasi murah yang kami jual, kami masak secara bersama-sama. Nasi bungkus yang berupa nasi plus lauk tiga macam, serta segelas air mineral ini kami jual seharga Rp 2000,- (hanya dua ribu rupiah, hehehe…). Kami selalu mengganti menu setiap kali berjualan. Harga ini tentu sangat murah jika dibandingkan dengan harga nasi serupa yang dijual di warung. Kami tidak hanya mengutamakan kemurahan harga, namun juga mengusahakan menjual makanan sehat dan higienis. Sasaran penjualan kami adalah para tukang becak, sopir angkot, pengamen, tukang sapu jalanan, dan warga masyarakat lain yang kami anggap perlu mendapat perhatian.

Rupanya kegiatan ini mendapat respon positif. Saat awal kami berjualan, kami hanya menyediakan 100 bungkus nasi. Namun setelah melihat respon yang positif, kini kami menambah menjadi 150 bungkus. Sejak jam 6.30 setelah misa pagi, kami para ibu yang menjadi relawan sudah siap berbelanja dan memasak. Sekitar pukul 11 nasi sudah siap dan kami pun mulai menjualnya. Biasanya dalam waktu hanya 20 menit nasi sudah habis. Kebetulan Sabtu lalu hingga pukul 11.30 nasi masih tersisa 15 bungkus, sehingga kami lalu mencoba mengasongkan pada sopir angkot yang sering ngetem di perempatan jalan. Kira-kira sepuluh menit nasi pun habis. Kami semua lega.

Barangkali dari salah satu sopir angkot yang membeli nasi bungkus itu adalah pak sopir yang kebetulan angkotnya kemarin sore kunaiki. Pantas, dia ingat wajahku. Tapi, syukurlah kalau ingat aku karena nasi yang kami jual menurutnya enak, dan yang pasti murah. Kebayang deh, kalau dia ingat wajahku terus malah komplain karena nasinya gak enak atau malah bikin sakin perut. Terima kasih ya pak sopir atas apresiasinya.

Kami memang tidak melakukan perbuatan besar dan luar biasa. Kami hanya melakukan hal-hal kecil untuk membantu kaum kecil. Ini sebagai wujud solidaritas kami kepada mereka. Kami berharap ini bisa dirasakan manfaatnya oleh mereka. Satu hal yang membuat kami makin bersemangat adalah respon mereka yang positif. Kini mereka sudah hapal kalau tiap Sabtu kami jualan nasi murah sehingga mereka pun selalu menantinya. ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Basuri Tjahaja Purnama: 20 tahun Mendatang …

Olive Bendon | | 01 October 2014 | 06:58

Penumpang KA Minim Empati …

Agung Han | | 01 October 2014 | 04:25

Cerita Dibalik Sekeping Emas Cabang Wushu …

Choirul Huda | | 01 October 2014 | 02:11

Menulis Cerpen Itu Gampang, Mencari Peminat …

Sugiyanto Hadi | | 01 October 2014 | 03:16

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 3 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 5 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Indonesia Tanpa Pancasila …

Fadjar Hadi | 7 jam lalu

16 Milyar Rupiah Hanya untuk Sumpah Janji …

Muhammad Nur,se | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | 7 jam lalu

Anggota DPR RI dan Gadget …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: