Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Balada Ujian Nasional (UN)

OPINI | 07 April 2013 | 07:12 Dibaca: 200   Komentar: 0   1

Pelaksanaan ujian nasional (UN) tinggal menghitung hari, persiapan pun dilakukan oleh para guru dan siswa, dari mulai bimbingan belajar, les, menggelar salat sunnah hajat berjamaah di sekolah, bahkan ada juga yang datang ke dukun minta pensilnya dijampi-jampi.

Ada apa dibalik ujian nasional (UN) sehingga guru dan siswa rela berbuat apa saja, dari mulai melakukan sesuatu yang masuk akal sampai melakukan berbagai macam tindakan yang diluar dari kebiasaan demi kelulusan siswanya. Kenapa ujian nasional menjadi momok yang begitu mengerikan bagi para guru dan siswa.

Ujian nasional (UN) tidak ubahnya sebuah pertarungan antara hidup dan mati sekolah, nama baik dan kehormatan sekolah dipertaruhkan, sekolah akan diberi stempel sebagai sekolah yang buruk manakala para siswanya tidak berhasil dalam ujian nasional (UN), tidak hanya itu sekolah akan menyandang predikat gagal dalam membina dan mendidik para peserta didik. Disisi lain meskipun nilai standar kelulusan siswa tidak terlalu tinggi yaitu 5,5 dengan nilai per mata pelajaran tidak boleh di bawah 4,0 masih dianggap mencekik, lebih-lebih lagi bagi sekolah-sekolah di pedalaman dan daerah terpencil yang fasilitasnya sangat minim.

Hal ini mengakibatkan guru merasa malu bila siswanya tidak lulus dalam ujian nasional sehingga guru dan siswa menghalalkan segala cara demi kelulusan seratus persen para siswanya.

Kondisi di atas ternyata menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dikalangan para guru dan siswa karena adanya tuntutan sekolah dan pemerintah yang dianggap menekan, sehingga muncullah ketegangan pisik dan psikologis. Beban mental itulah yang akhirnya melahirkan kebohongan-kebohongan dan kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional.

Memang dari sisi lain ujian nasional (UN) menguntungkan berbagai pihak, tetapi dipihak guru dan murid ujian nasional (UN) seperti zombie yang menakutkan, alhasil timbullah stres yang berdampak pada menurunnya mental siswa sehingga menyebabkan siswa depresi dan tidak sedikit ada yang berakhir dengan bunuh diri.

Apa yang didapat setelah lulus ujian nasional (UN), siswa mencoret-coret seragam, arak-arakan kendaraan bermotor sambil membunyikan klakson sepanjang jalan, pesta sex, dan banyak lagi peristiwa-peristiwa memilukan dalam merayakan kelulusan. Apakah ini akhir dari ujian nasional (UN) ? Betapa mengerikan ternyata ujian nasional (UN) telah melahirkan budaya-budaya baru yang cenderung negatif dikalangan pelajar.

Sejatinya, ujian nasional lebih baik ditiadakan saja, kalaupun dipertahankan setidaknya jangan dijadikan sebagai alat untuk menentukan kelulusan bagi siswa, karena itulah yang dinilai sebagai pemicu munculnya stres para siswa dan guru.

Selama ini guru mengajar tidak lagi fokus pada pembelajaran, namun guru lebih konsentrasi dalam memberikan pelajaran yang akan diujikan saja, Saya teringat apa yang dikatakan oleh Bapak Asep Sapa’at dalam bukunya “Stop Menjadi Guru !” (2012; 224) Jika kita sebagai guru menguji pengetahuan atau keterampilan siswa dari materi yang telah diajarkan, itu artinya kita telah bersikap adil pada siswa. Tetapi, kalau kita hanya mengajar untuk kebutuhan ujian saja, apakah siswa dapat dipastikan telah mengalami proses belajar ?

Secara tidak langsung ujian nasional telah membelenggu guru sehingga guru enggan memberikan pelajaran diluar dari soal-soal yang akan diujikan, karena dikhawatirkan soal-soal ujian tidak sesuai dengan apa yang dipelajari di kelas, yang berdampak pada kesulitannya para siswa menjawab soal-soal ujian tersebut. Akibatnya dalam proses pembelajaran guru masih teksbook, gaya mengajar pun tidak berkembang. Mau tak mau guru selalu disalahkan manakala terjadi kegagalan dalam pendidikan, hujatan pun berdatangan mulai dari metode yang dipakai guru selama ini dianggap salah, strategi pembelajaran pun dianggap monolog, pendekatan-pendekatan juga dikatakan usang, gaya mengajarpun dibilang monoton, dan lain sebagainya, dalam hal ini lagi-lagi guru yang harus dijadikan sebagai objek penderita.

Walaupun kebijakan pemerintah tetap bertujuan demi kebaikan dan kemajuan pendikan di Indonesia. Namun, semoga saja pemerintah lebih bijaksana dalam menyikapi dampak dari ujian nasional sekarang ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 12 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 15 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 15 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: