Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Penulis.karbitan

Menulis suka-suka, apa pun, kapan pun, dimana pun tidak masalah. Namanya juga karbitan.. :D

Membuat SIM Tidak ‘Semudah’ Dulu

OPINI | 05 April 2013 | 17:34 Dibaca: 9362   Komentar: 9   0

1365134846490177052

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Halo Kompasianer, tulisan ini adalah pengalaman saya saat membuat Surat Izin Mengemudi (SIM) beberapa waktu yang lalu. Bila terdapat kesalahan redaksi dan ada perbedaan mengenai kejadian di lapangan, harap maklum.

Singkat cerita, saya adalah orang yang tidak bisa lepas dari penggunaan motor dalam beraktivitas. Setelah sekitar dua tahun ‘bermotor ria’ tanpa pernah sekalipun terkena tilang, atas suatu keterpaksaan, saya akhirnya memutuskan untuk membuat SIM C.

Sebelum membuat SIM, sebagai orang awam tentu saya mencari informasi apa saja persyaratan yang dibutuhkan. Sampai suatu ketika datang kerabat yang menganjurkan saya untuk menggunakan jasa calo. Ia ‘menghasut’ dengan rayuan-rayuannya bahwa banyak peserta yang gagal dan kesulitan bila harus mengikuti prosedur yang sesuai dalam pembuatan SIM.

Mendengar ‘bujuk rayu’ itu, akhirnya saya luluh. Saya memutuskan untuk memakai jasa calo. Selain karena saya yang tidak ingin ‘ribet’,  saya pun malas bila harus mengikuti prosedur yang bertele-tele.

Hingga pada hari Senin (1/4) lalu, saya memantapkan diri untuk melaju ke Samsat Jakarta Barat. Berbekal informasi dari kerabat, bahwa ketika saya akan memarkir sepeda motor, saat itu pula saya akan dihampiri calo yang akan menawarkan jasanya. Namun sesampainya di tempat parkir, tidak ada satupun orang yang mendekat.

Pada saat itu saya berpikir bahwa saya datang terlalu pagi sehingga calo belum pada datang. Saya pun memutuskan untuk duduk di bangku yang tersedia di pinggiran area parkir. Sekitar 30 menit saya menunggu, matahari pun mulai meninggi. Tempat parkir yang tadinya sepi sudah mulai dijejali motor-motor warga Jakarta yang ingin membuat atau memperpanjang SIM. Saya sendiri terus memperhatikan keadaan sekitar parkiran, namun aktivitas calo belum juga nampak.

Lelah menunggu, saya berinisiatif untuk bertanya ke orang-orang yang dari tadi ada di tempat parkir sambil berharap mereka dapat membantu saya dalam mengurus SIM. Tukang asongan, pengendara ojek, penjaga parkir, semuanya saya tanya apakah disini ada yang bisa membantu dalam pembuatan SIM baru?

Namun, dari sekian narasumber yang saya tanya, jawaban yang keluar dari mulut mereka nyaris sama. “Kalau sekarang sudah tidak bisa, lagi banyak KPK di sini, masih ‘merah’ mas di dalam,” begitu ujar mereka.

Mendengar jawaban itu, tidak serta merta menciutkan nyali saya untuk mencari jalan pintas. Kali ini saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam gedung Samsat. Toh kata kerabat saya, di dalam gedung juga terdapat banyak petugas yang secara terang-terangan menawarkan jasa tersebut.

Sesampainya di dalam gedung, saya langsung menghampiri petugas untuk menanyakan hal yang sama. Namun, lagi-lagi penolakan yang saya dapatkan. Tidak pantang menyerah, saya menghampiri petugas lain dan jawabannya pun sama.

Ternyata itu adalah akhir dari pencarian ‘jalan pintas’ dalam pembuatan SIM. Saya berpikir, mungkin hal demikian (tidak adanya calo) terjadi akibat terbongkarnya korupsi dana Simulator SIM Korlantas Polri yang meilbatkan Irjen Djoko Susilo. Dengan terkuaknya kasus ini, diakui oleh salah satu petugas yang sempat saya tanya, menimbulkan ketakutan dari para calo atau oknum-oknum untuk menjalankan modusnya secara terang-terangan.

Merasa sudah tidak ada celah untuk berbuat curang, saya pun ‘terpaksa’ mengikuti ujian murni sesuai dengan prosedur yang ada. Segala tahapan saya ikuti. Dimulai dengan tes kesehatan di luar gedung dekat area parkir sebesar Rp 25.000. Lalu membayar biaya pembuatan SIM di BRI dan membayar asuransi masing masing sebesar Rp 120.000 dan Rp 30.000. Setelah itu, menuju ke tempat pengambilan form pendaftaran. Bila sudah terisi kemudian menuju ke loket nomor empat untuk menukarkan form pendaftaran itu dengan semacam ‘kartu ujian’.

Sambil mendapatkan ‘kartu ujian’, petugas loket itu mengarahkan saya untuk langsung ke ruang lima tempat ujian teori. Saya pun langsung menuju tempat itu. Setelah menunggu hampir 20 menit, ujian teori pun dimulai. Menariknya, waktu yang diberikan untuk menjawab soal-soal tersebut lebih sebentar daripada saat saya beserta peserta ujian lainnya menunggu sebelum ujian. 15 menit untuk 30 soal, jadi satu soal diberi waktu setengah menit.

Tidak terasa waktu 15 menit itu habis. Semua peserta mau tidak mau mengumpulkan hasil ujiannya walaupun terdapat yang dijawab asal. Kemudian, kami menunggu hasil ujian yang sedang diperiksa petugas. Sekitar 15 menit, pengeras suara berbunyi mengumumkan hasil ujian kepada peserta. Untuk diketahui, bila ingin lulus ujian teori maka peserta wajib menjawab minimal 17 soal yang benar.

Satu per satu nama dipanggil petugas sambil memberikan ‘kartu ujian’ yang di dalamnya terdapat hasil tes teori tersebut. Dari sekian nama yang dipanggil, banyak dari mereka beraut muka kecewa ketika melihat hasilnya. Benar saja, kekhawatiran yang saya takutkan karena banyak peserta yang gagal akhirnya terjadi. Saya juga gagal dalam tes teori ini.

Bagi peserta yang gagal di tes teori, mereka dapat mengulang mengikuti tes kembali dua minggu setelah hari itu, begitu kata petugas.

Walaupun tidak dikenai biaya saat mengulang nanti, tapi kekecewaan yang muncul masih besar atas segala tahapan yang telah saya lalui. Dengan segala keluh yang tersisa, saya memutuskan untuk meredakan emosi dan kepenatan yang membayang di ubun-ubun. Sebelum pulang, saya kembali duduk-duduk di pinggir tempat parkir. Tak lama, terdapat seorang laki-laki berumur kisaran 50 tahunan yang minta izin untuk duduk di kursi samping saya. Setelah beberapa saat hening tanpa suara, saya mencoba membuka perbincangan dengan bapak itu. Saya pun menjelaskan bahwa saya baru saja gagal ikut tes SIM.

Tak dinyana, bapak itu merespons kegagalan saya dalam tes tersebut sebagai suatu yang wajar. Ia mengatakan bahwa dahulu pernah ada sanak keluarganya yang pernah gagal tes SIM berkali-kali sampai akhirnya ia menyerah dan meminta jasa calo.  Bapak yang ke Samsat untuk mengantarkan tetangganya yang sedang memperpanjang SIM itu juga menawarkan saya kepada seseorang yang biasanya mengurusi pembuatan SIM.

Namun, diakui bapak itu bahwa calo tersebut dan calo-calo lainnya sekarang sudah tidak berani secara terang-terangan menjajakan jasanya seperti dahulu.

Sekarang calo-calo tidak melakukan transaksi pada area parkir atau Samsat melainkan di tempat lain. Baru setelah sepakat mengenai tarif yang dikenakan, kita akan dimintai fotokopi KTP dua lembar dan bersama dia kita akan diarahkan untuk masuk ke sebuah ruangan di gedung Samsat untuk langsung mengikuti proses tanda tangan, sidik jari, dan foto. Tak lama, SIM itu selesai dan siap dibagikan kepada peserta.

Pada akhirnya saya pun meminta kontak calo tersebut untuk menghubunginya. Setelah negoisasi mengenai besaran tarif disepakati, kami pun menentukan kapan hari eksekusi.

Sampai di hari eksekusi, saya pun langsung diarahkan ke TKP seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Kurang dari setengah jam, SIM tersebut telah selesai. Berakhir sudah perjuangan saya dalam mendapatkan kartu pengaman pengendara motor tersebut. Walaupun mengeluarkan biaya yang hampir 400 persen dari harga normal, tapi keberadaan calo selalu diperlukan bagi orang-orang yang menginginkan jalan pintas seperti saya. Hehee

Terlepas dari masih adanya keberadaan calo, pihak kepolisian patut diapresiasi karena usaha mereka dalam menekan praktik korupsi di Samsat. Terkuaknya kasus Djoko Susilo oleh KPK semakin mempersulit ruang gerak para calo melancarkan aksinya. Tak ayal, hal tersebut berhasil membuat orang awam seperti saya kepayahan dalam mencari penjaja jasa SIM.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 13 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 16 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 16 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 18 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Senyum Misteri Mba Mahasiswi …

Yanto Soedharmono | 7 jam lalu

Malaysia Juga Naikan Harga BBM …

Sowi Muhammad | 8 jam lalu

Salam Kompasianival Saudara …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Menulis bagi Guru, Itu Keniscayaan …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gerdema, Mentari Indonesia Dari Ufuk Desa …

Emanuel Dapa Loka | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: