Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Mardi Yanto

Seorang pembelajar dan penjelajah. Bagi saya mimpi sangat dekat dengan kenyataan. Mimpi juga sebenarnya tidak selengkapnya

Bukan Empat Mata, Kamis, 4 April “Menyedihkan” Sekali!

OPINI | 05 April 2013 | 21:43 Dibaca: 2672   Komentar: 0   0

Heboh Eyang Subur sebenarnya tidak penting-penting amat karena itu menyangkut masalah pribadi orang per orang. Tetapi sayangnya berkat kecanggihan media hal itu menjadi menyebar begitu liar dan sudah masuk ke ranah publik. Jika hal itu tidak mempengaruhi publik itu biarkan saja, tetapi saya melihat kecenderungannya menjadi sangat mengganggu masyarakat. Apalagi kita dipertontonkan perdebatan, amarah, sinisme, dan sarkasme yang “memuakkan”.

Seperti tayangan Bukan Empat Mata Tukul Arwana, 4 April pukul 22.00. Meski dikemas komedi situasi gaya Tukul tetap saja ketidakelokan komentar bintang tamu merusak acara ini.

Seperti diketahui acara bertema “Eyang Subur” tersebut mengundang lima bintang tamu yakni, Novi Oktora, mbah Lindun, Komedian Tarzan, Eyang Sigit (murid Eyang Subur) dan Maman (pimred Citra/kriminolog).

Segmen pertama acara ini diawali dengan kehadiran Novi Oktora, yang membeberkan (sambil) menangis pengalaman dia bergaul dengan Eyang Subur sampai dilamar dua kali untuk menjadi istri Eyang Subur, konon yang ketujuh.

Segmen berikutnya, Tukul menanyakan sosok Eyang Subur kepada Mbah Lindun, Mbah Lindun ini kira-kira usianya di atas 75 tahun, suaranya lantang dan keras, tetapi Mbah Lindun, memiliki gangguan penglihatan. Mbah Indun menuturkan bahwa Eyang Subur pernah datang ke rumahnya minta “penglaris” usaha menjahitnya, “ kira-kira kejadian ini tahun 80-an,” tutur Mbah Indun.

Selanjutnya datang dua bintang tamu, yakni Tarzan dan Eyang Sigit, dua orang yang memiliki kedekatan dengan Eyang Subur.

Dasar komedian, Tarzan dengan bernas dan cerdas menceritakan pengalamannya dengan Eyang Subur dengan “apik” dibumbui dengan gimik dan gaya komedi.

Tetapi lain dengan Eyang Sigit yang tampil dengan gimik agak kurang “elok” dengan duduk menyilangkan kaki, ada kesan sebuah arogansi. Bahkan, saya sempat terkejut dengan ulah Eyang Sigit yang memotong pembicaraan Mbah  Lindun dengan nada emosi. Bahkan, seolah menggurui Mbah Lindun, Eyang Sigit dengan emosional berucap “orangtua ngomong yang beneer…”

Gila nih orang! Batin saya, mana sopyan santyun ya…sama orangtua. Mana rasa hormatmu …Eyang Sigit…?

Saya sampe geleng-geleng, menghela napas dalam-dalam. Sekali lagi kita disuguhi perilaku orang dewasa dengan kualitas yang buruk. Wajarlah jika kekerasan, amarah, dan caci maki menjadi menu santapan kita tiap hari.

Dan yang membuat saya “berpikir” adalah selalu membawa-bawa nama “Allah” dalam setiap pembicaraannya.

Pun demikian, saya jadi teringat dengan murid saya yang sekarang menimba ilmu di Pondok Pesantren Salafy. Suatu kesempatan bertemu dengan saya, tergopoh-gopoh ia menyalami saya, masih dengan rasa takzimnya, yang kadang membuat saya risih.

Bagi orang-orang Salafy, hidup, mati, rezeki ada di tangan Allah. Mereka tidak akan berpenampilan mewah dan wah di dunia. Akhlak berada di atas ilmu, jadi mereka memang ketika di pondok sekadar menimbu ilmu agama sampai lulus. Bagaimana dengan rezeki, tak banyak mereka pikirkan. “Rezeki pasti adalah pak”, katanya enteng.

Ketika Tukul bertanya darimana kekayaan Eyang Subur, maka Eyang Sigit mengatakan bahwa kekayaan itu bersumber dari pemberiaan orang-orang yang telah “berhasil”. Uniknya, pemberian-pemberian itu kemudian diberikan kepada orang-orang yang datang kepadanya.

Ya agak aneh memang, kenapa tidak diberikan kepada fakir miskin? Itulah yang selalu saya pikirkan sampe sekarang!

Walhasil, Bukan Empat Mata Episode Eyang Subur  sangat “menyedihkan” karena telah gagal memberikan tontonan yang menghibur, menarik, edukatif. Itu Saja!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: