Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Maman A Rahman

Lahir di Subang. Belajar Filsafat dan Mistisisme di IAIN Jakarta dan Mengkaji Islam dan Psikologi selengkapnya

Menjadi Muslim, Pilihan atau Turunan?

REP | 27 March 2013 | 14:05 Dibaca: 1117   Komentar: 11   1

Sejak kapan kita menjadi muslim? Sebagian besar dari umat Islam di Indonesia mungkin akan menjawab sejak masih di dalam kandungan atau sejak lahir.

Sejak masih di dalam kandungan, orang tua biasanya mengadakan acara-acara ‘keagamaan’ untuk menyambut sang bayi. Dan ketika lahir, orang tua sudah membacakan syahadat melalui adzan dan iqomat di telinga kanan dan kiri.

Jika melihat dari proses tersebut, sesungguhnya kita tidak diberikan pilihan untuk berislam atau memilih yang lain. “Menu” keagamaan yang diberikan sejak sebelum lahir sampai dewasa kepada kita hanya satu agama yaitu Islam. Sehingga kita, umat Islam, mau tidak mau berislam tanpa tahu mengapa harus Islam. Sehingga kita mengenal istilah “Islam turunan” atau “Islam KTP” yaitu berislam tanpa mengerti dan menjalankan agama yang dianutnya.

Berislam hanya menjadi identitas kultural bukan kesadaran spiritualitasnya. Oleh karena itu, kita tidak perlu aneh jika melihat bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam tetapi prilakunya tidak mencerminkan sama sekali keislaman. Banyak kasus kekerasan, korupsi, ketidakpedulian terhadap orang lain dan banyak lagi perbuatan yang tidak mencerminkan keislaman yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dilakukan oleh orang yang mengaku beragama Islam.

Pertumbuhan manusia yang dibarengi dengan pertumbuhan pemikirannya sesungguhnya mempunyai potensi untuk memikirkan kembali keberislamannya yang merupakan “warisan” dari orang tuanya. Menggali kembali kesaksian kepada adanya Allah dan Nabi Muhammad utusan-Nya yang dibisikan dengan kalimat syahadat ketika lahir. Berusaha menemukan kesadaran keberagamaan dengan hati dan pikirannya.

Peran tokoh-tokoh agama sesungguhnya sangat penting dalam proses penemuan makna keberislaman yang penuh dengan kesadaran imani. Sayang sekali, kajian-kajian keagamaan Islam sangat sedikit yang mengupas makna ketauhidan. Sehingga keberislaman keturunan atau KTP tidak beranjak dari prilaku-prilaku yang tidak mencerminkan keislaman terus terjadi di sekitar kita.

Warisan keislaman yang telah diberikan oleh orang tua kita sesungguhnya adalah sebuah anugrah yang indah. Menjadikan anugrah itu lebih bermanfaat bagi diri dan orang lain menjadi tugas diri kita masing-masing dengan menumbuhkan kesadaran diri tentang keberislaman itu. Menjalankan dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu bentuk nyata keberislaman kita. ()

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ABG Tanpa Malu Mengakses Video Porno di Area …

Opa Jappy | | 24 January 2015 | 21:59

Kota Malang: Dulu Ijo Royo-royo, Sekarang …

Sri Krisna | | 25 January 2015 | 13:48

Saksi Bohong di Sidang MK …

Hendra Budiman | | 25 January 2015 | 21:00

Inilah Olahraga yang Indah: Kisah Duo …

Aditya Prahara | | 25 January 2015 | 14:10

Kebiasaan Buruk Tempat Wisata …

Widianto.h Didiet | | 24 January 2015 | 15:46


TRENDING ARTICLES

Surat Cinta Untuk Pak Tedjo …

Masykur A. Baddal | 12 jam lalu

Marwah, Wibawa dan Harga Diri Jokowi …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Siapa yang Buang Bayi di Bengawan Solo? …

Gaganawati | 15 jam lalu

Surat Terbuka kepada Megawati Sukarnoputri …

Ilyani Sudardjat | 19 jam lalu

Dewasanya Polri, Liciknya Oknum KPK …

Ar Kus | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: