Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Jingga Christia

Menikmati proses menjadi muda, mandiri, dan bahagia. Cinta Jogja dan seisinya.

Dilarang Makan Sayap Ayam

REP | 15 March 2013 | 10:14 Dibaca: 1284   Komentar: 9   0

Aku lupa kapan pastinya tetapi kira-kira sejak aku masuk kuliah aku tidak boleh makan sayap ayam. Aturan itu masih berlaku bahkan sampai hari ini. Tidak peduli apakah ayamnya digoreng, disemur, diopor, atau diolah macam apapun, pokoknya tidak boleh makan sayap ayam. Kadang kutanyakan pada ibu mengapa aku tidak boleh memakan sayap ayam tetapi selalu dijawab ‘pokoknya tidak boleh karena tidak bagus’. Saat luang pernah kutelusuri dalam aturan agama apakah seorang wanita, atau lebih spesifik lagi seorang anak gadis, tidak boleh memakan bagian tubuh tertentu dari unggas, namun tidak ada jawabannya. Agama melarang memakan darah binatang. Agama melarang menyantap semua bagian tubuh dari babi dan anjing karena itu diharamkan namun tidak kutemukan larangan memakan sayap unggas apalagi ayam. Meskipun begitu aku tetap menuruti perintah menjauhi sayap ayam, namun bukan karena sangat patuh pada nasehat orang tua tetapi karena uangku cukup untuk membeli bagian tubuh lain yang lebih berdaging. Kepala, ceker, dan sayap adalah bagian tubuh yang minim daging jadi selagi aku punya uang untuk membeli paha atau dada aku lebih memilih di antara kedua bagian itu.

Pada suatu kesempatan makan siang, aku dan seorang teman mampir ke rumah makan untuk mengisi perut. Kami memesan sepiring nasi putih, sambal terasi, dan ayam goreng. Di tengah asyiknya menikmati makan siang aku berujar bahwa aku tidak pernah makan sayap ayam. Kebetulan saat itu temanku makan sayap sementara aku memesan paha. Ia bertanya mengapa lalu kujawab aku tidak tahu. Hanya semacam sugesti tidak mau makan sayap yang ditanamkan oleh orang tua, jawabku. Sejenak ia diam sambil terus menguyah. Tiga detik kemudian ia tertawa lebar nyaris terpingkal. “Aku tahu”, kata temanku. “Agar kamu tidak pernah pergi jauh dari rumah,” sambungnya. Aku hanya melongo namun kemudian tertawa terbahak-bahak juga. Logika yang sungguh lucu tetapi sangat bisa dimengerti. Jika suatu makluk memiliki sayap maka ia dapat terbang. Jika ia dapat terbang maka ia akan terbang tinggi dan jauh. Kini aku mengerti mengapa aku dilarang makan sayap ayam. Semata-mata agar aku ‘tidak bersayap’ sehingga kelak jodoh dan rejekiku tidak membawaku pergi jauh dari rumah, lebih tepatnya jauh dari orang tua. Begitu ingin orang tua agar anak-anak tidak meninggalkannya sampai menganut logika sayap ayam. Toh begitu aku memahami bahwa larangan atau hal-hal pamali yang masih banyak dianut oleh orang-orang tua kita sesungguhnya hanya ingin menunjukkan rasa cinta terhadap anak-anaknya. Tidak ada penjelasan secara ilmiah atau spiritual. Hanya karena mereka menyayangi anak-anaknya, titik.

Kota yang tidak jauh dari rumahku ini mungkin adalah salah satu jawaban atas puasa makan sayap tapi mungkin juga tidak karena masa depan orang-orang muda sepertiku masih panjang. Masih sambil tertawa aku menjelaskan bahwa aku ingin banyak berjalan-jalan dan melihat dunia luar. Jadi kupikir mungkin mulai sekarang aku akan banyak-banyak makan sayap ayam agar segera tumbuh sayap di punggungku. Teman makan siangku hanya tertawa sambil mengelap keringat di dahi karena kepedasan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 17 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 18 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 21 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: