Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ryanda Adiguna

Paskibraka Nasional 2006. Duta Belia Indonesia (China-Hongkong) 2006. Finalis Cowoknya Gadis (Majalah Gadis) 2006. Kapal Pemuda Nusantara 2009. Penerima selengkapnya

Sukses Tidak Selalu Linier Dengan Tingginya IPK; Rhenald Kasali, Guru Besar UI

REP | 12 March 2013 | 04:55 Dibaca: 1219   Komentar: 6   0

Mungkin banyak yang familiar dengan nama Rhenald Kasali. Kalau ada bahasan tentang ekonomi di tv, koran, dan media lain, beliau sering diminta pendapat/pandangannya. Atau mungkin pembaca pernah ikut seminar dari beliau.

Beliau adalah dosen sekaligus Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Beliau juga Ketua Program Pasca Sarjana Imu Manajemen UI. Pernah dapat penghargaan Dosen terbaik FEUI tahun 2003. Sudah menulis total 18 buku (sampai 2010) dan hampir semua bukunya jadi best seller. Beliau adalah akademisi dan praktisi di bidang ekonomi. 

Singkat cerita kita bisa simpulkan kalau beliau adalah orang sukses hari ini, tapi siapa sangka kalau Profesor ini dulunya pernah tinggal kelas saat kelas 5 SD. Kemudian lulus kuliah dari FE UI, IPK beliau cuma 2,49.

Saya pernah ikut seminar di tahun 2009 dan beliau jadi salah satu pembicaranya. Di seminar itu beliau menyampaikan seminar tentang motivasi dan perubahan, tema yang sering beliau angkat dalam tulisan maupun buku-bukunya. Kalau gak salah waktu itu tentang Recode Your Change DNA.

Di akhir seminar itu beliau memutar video tentang Nick Vujicic. Karena menarik, saya coba cari videonya di youtube. Lebih kurang ini dia video yang diputar Pak Rhenald waktu itu.

Di akhir seminar beliau tutup dengan kalimat yang lebih kurang kayak gini:
“Bagaimana mungkin seorang yang pernah tinggal kelas, lulus kuliah dengan IPK 2,49, kemudian dapat beasiswa S2 dan S3 di Amerika, sekarang jadi Guru Besar justru di fakultas tempat ia kuliah S1 dulu”.

Pesan moral:
Kalau pernah pernah gagal (saya juga), ya mau gimana lagi, sia-sia kalau disesali. Pertanyaannya seberapa cepat dan mau untuk bangkit dari kegagalan. Kalau IPK nya rendah (kayak saya ) ya mau gimana lagi. Anggap aja itu kegagalan dan jadikan motivasi untuk berubah dan jangan berhenti untuk terus belajar. Setuju??

Video nya di Kick Andy episode Tiada yang tak mungkin

Sumber judul

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Nikmat Merantau …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: