Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Lizz

Istri, ibu, IRT yang gemar membaca dan menulis. Anti plagiat dan copas karya orang lain. selengkapnya

Di Balik Kunjungan Ke Supermarket

OPINI | 09 March 2013 | 10:59 Dibaca: 322   Komentar: 30   4

Acara kunjungan ke supermarket besar dan pasar tradisional jadi agenda tahunan sekolah Angelo. Saat TK A, kunjungannya ke supermarket. Saat TK B, kunjungannya ke pasar tradisional. Pada acara-acara itu, tiap anak diminta untuk membawa uang Rp10.000,-.

Setelah acara kunjungan, anak diminta untuk bercerita kepada ortu, dan tugas ortulah untuk menuliskan cerita itu. Hari Senin tugas dikumpulkan (kunjungan dilakukan hari Jumat).

Pada kunjungan pertama, Angelo pulang dengan membawa berbagai cemilan mungil kesukaannya, dan kembalian dua ribu sekian rupiah. Si Ayah hanya berani bisik-bisik, “Waduh, gimana ini sekolah ngajarin anak konsumtif??” Saya cuma diam saja, tapi agak setuju juga dengan pendapat si Ayah.

Ketika pulang dari kunjungan ke pasar tradisional, Angelo membawa pulang 3 ikat bayam segar, beberapa potong tahu, dan sebungkus tipis kulit pangsit. Kembaliannya cuma seribu rupiah.

“Kita masak ini ya Bu?” ucapnya bangga.

“Lho, kok kulit pangsitnya dikit amat?” tanya saya.

“Iya ini tadi dibagi 4, patungan sama temen-temenku, abis pada pengen beli tapi uangnya pada nggak cukup.”

Saya manggut-manggut. Pinter juga ternyata! Jadilah sorenya kami menikmati bening bayem, tahu goreng, dan keripik kulit pangsit hasil belanjaan Angelo.

Mungkin saya tetap (agak) berpendapat bahwa sekolah ‘mengajari’ anak didik untuk konsumtif. Tapi kejadian semalam membuat pikiran saya jadi terbuka.

Sekitar jam 9 malam, kami bertiga pergi ke minimarket terdekat untuk membeli obat nyamuk. Plus deodoran si Ayah, plus odol, dan plus-plus lainnya sampai penuh setengah keranjang. Seperti biasanya Angelo yang mengantri. Si Ayah keluar, dan saya menunggu di pojok dekat tumpukan keranjang.

Di depan Angelo ada 2 pengantri, dan di belakangnya ada 1. Ketika Angelo sudah menaikkan keranjang ke meja kasir, tiba-tiba dari arah samping kiri ada yang menyerobot antrian. Item barangnya sekitar 5 atau 6. Otomatis Angelo bete.

“Mbak, di sekolah gak diajarin antri ya? Aku aja dari TK udah diajarin antri,” ketus Angelo nyinyir.

Saya cuma diam saja, tidak menegur Angelo. Kenapa harus saya tegur kalau ucapannya tidak salah?

Akhirnya Mbak Kasir tetap mendahulukan Angelo. Sementara si cewek usia SMA yang hendak menyerobot Angelo tetap bergeming di dekat meja kasir.

Setelah Mbak Kasir selesai scanning belanjaan dan saya siap membayar, ibu yang sejak tadi antri di belakang Angelo langsung menaruh keranjangnya di meja kasir. Si cewek penyerobot masih berusaha untuk melanjutkan aksinya. Ibu itu langsung menyemprot dengan galak, “Eh, udah ditegur sama anak kecil masih gak malu juga? Antri Mbak! Jangan seenakmu sendiri! Memangnya ini minimarket nenekmu? Anak kecil aja ngerti antri!”

Si cewek langsung mengkeret. Angelo ketawa menang. “Rasain….,” gumamnya.

“Huss! Udah, sana bawa keluar belanjanya,” tegur saya.

Malamnya saya ceritakan kejadian itu pada si Ayah. Sama seperti saya, pada akhirnya dia juga mengerti ada apa di balik sekolah mengajak anak didiknya belajar mengunjungi supermarket dan pasar tradisional.

Ada budaya mengantri yang diajarkan. Ada juga pembelajaran etika untuk tidak berlarian di lorong supermarket atau pasar. Ada pembelajaran bahwa belanjaan harus sesuai dengan uang yang dibawa. Ada juga pengetahuan tentang perbedaan supermarket dan pasar tradisional.

Tentang mengantri, Angelo memang sudah saya biasakan sejak kecil. Juga bersikap menghargai orang lain, sopan, dan tertib di tempat umum, supaya orang lain tidak terganggu. Sekolah juga mengajarkannya. Tapi rupanya apa yang dia pelajari dari sekolah melekat lebih kuat dalam ingatannya. Buat saya sih sama sekali bukan masalah bagaimana Angelo mengingat asal pembelajaran itu. Yang lebih penting adalah penerapan dalam hidupnya sehari-hari.

Tidak terlalu sulit membiasakan hal-hal positif dilakukan oleh anak. Lebih dini usia ‘pembiasaan’ itu, hasilnya akan lebih baik. Sama dengan berbicara dan berjalan. Bukankah kita melatihnya sejak usia dini?

Selamat siang….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 5 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 7 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 9 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 11 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: