Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Dewi Sumardi

IRT dan tinggal di Baku, Azerbaijan. Menulis untuk berbagi manfaat. #Buku Let's Learn English Alphabethical selengkapnya

Antara Zakia, Trinil dan Brama Kumbara , episod : Radio, hiburan di masa lalu

OPINI | 08 March 2013 | 04:00 Dibaca: 616   Komentar: 25   5

1362688577415505558

radio antik

Sumber gambar :http://download-gambar.com/gambar-radio-antik-tempo-dulu.html

“Di Radio aku dengar lagu kesayanganku, kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku….”, cukilan lagu milik penyanyi Gombloh itu memang selalu mengundang senyum.


Membaca artikel mbak Find Leilla, jadi tergelitik juga menulis tentang Radio. Radio, semua lapisan masyarakat pasti mengenalnya. Benda yang pertama kali ditemukan oleh seorang berkebangsaan Italia bernama Guglielmo Marconi. Dulu sebelum orang mampu membeli televisi, radio menjadi pilihan yang mewah untuk sarana hiburan di rumah-rumah. Hampir dipastikan semua rumah mempunyai radio transistor. Selepas bekerja, sebagian bapak akan berehat, duduk mendengarkan radio sembari merokok, menyeruput kopi pahit dan makan singkong atau pisang goreng. Masih ingat gak jingle musik untuk pengantar berita di RRI? Atau jingle lagu Pemilu dan Keluarga Berencana?

Era 70 dan 80 -an meski Televisi sudah mulai banyak dimiliki, rasanya radio masih tetap digandrungi. Stasiun Televisi memang baru ada satu, yaitu TVRI jadi ketika orang mendapati acara televisi kurang menarik, akhirnya Radio tetap jadi pilihan. Karena aku menghabiskan Masa kecil dan Remajaku di Semarang, stasiun Radio yang waktu itu menjadi favoritku adalah radio Gajahmada dan radio Imelda. Belajar sembari mendengarkan sapaan penyiar radio yang suaranya empuk dan renyah banget (duhhh makanan kalee), mendengarkan orang kasmaran saling berkirim lagu (siapa yang pernah mengalami hayo tunjuk gigi.. eh jari?) Kenangan lagu-lagu era Vina Panduwinata, Krakatau, sampai romantisme Dewa 19 dan KLA Project selalu hadir di telinga sebelum merajut mimpi dan merenda asa di malam yang sepi.

Dulu waktu di Sekolah Dasar, aku ingat kalau datang waktu Ramadhan, ibuku membuat peraturan untuk putrinya yang berjumlah 8 orang bergantian bangun untuk menemani ibu membuat makanan sahur. Nah ada satu lagu yang khasssss banget, sampai sekarang masih nyantol kalau aku dengarkan. Seolah-olah aku sedang masuk ke lorong waktu menembus masa 30 tahun yang lalu. Aku ingat sekali, beradu merdu dengan kentongan yang dipukul anak-anak kampungku sebagai pertanda waktu sahur, lagu Zakia dari si kribo Achmad Albar menjadi musik penghantar pada acara Sahur di kala itu.

—- Zakia, Zakia penari gurun pasir ternama

—- Zakia, Zakia terpesona aku melihatnya

—- Zakia, Zakia begitulah panggilan. namanya

—- Semua yang melihat, tak kan dapat melupakannya

Wuihhhh jadi merasa kembali di jaman rambut masih berkucir dua dan berpita warna-warni

Kalau sekarang mungkin mencari hiburan di rumah bisa berebut remote TV, jaman dulu Radiopun bisa jadi benda yang diperebutkan ketika selera telinga tak selaras satu dengan lainnya. Kamipun adik beradik dulu begitu, kecuali satu acara yang tak satupun dari kami melewatkannya. Kalau memang masing-masing masih dengan aktivitasnya, Volume radiopun dibesarkan agar semua bisa mendengarkan. Acara apa itu? Sandiwara Radio. Ya Sandiwara radio merupakan cara menikmati hiburan yang menimbulkan keasyikan dan sensasi tersendiri. Pendengar diajak untuk berimajinasi tentang tokoh yang tampan, cantik, baik atau jahat. Pendengar juga larut dalam situasi romantisme, peperangan sampai situasi kuburan yang menyeramkan. Suara ombak dilaut, atau suara dentingan dua pedang yang beradu kala sang jagoan bertarung terasa begitu nyata di depan mata. Suara-suara merdu para tokoh cerita yang biasanya dibawakan oleh sanggar prathivi sangat akrab di telinga kita. Sebut saja Ferry Fadli, Elly Ermawati, Ivonne Rose, dll.

Banyak Sandiwara Radio di masa lalu yang meninggalkan kesan yang mendalam sampai sekarang. Seperti “Butir-Butir Pasir di Laut”, drama ini bekerja sama dengan BKKBN dan mengangkat kisah yang berhubungan dengan keluarga berencana. Cerita lain adalah ” Dokter Darman” dan yang tak kalah menariknya adalah cerita Baskoro dan Pak Sasongko dalam “Ibuku malang ibuku tersayang”.

Kalau tentang sandiwara yang bertema kerajaan, semua pasti terpesona dengan sosok si Brama Kumbara, ksatria dalam “Saur Sepuh”, karya Niki Kosasih. Suara Ferry Fadli sebagai Sang Brama Kumbara yang kharismatik benar-benar membius dan menghipnotis pendengar wanita di kala itu. Sosok Brama kumbara yang ada di bayangan setiap pendengarnya adalah seorang ksatria yang gagah dan tampan, yang tentu saja menarik perhatian wanita, termasuk Lasmini (akhirnya menjadi musuh Brama), Dewi Harnum dan Paramita. Sandiwara bertema kerajaan yang lainnya adalah cerita kakak beradik Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga dalam “Tutur Tinular” dan “Satria Madangkara”. Nah kalau mau cerita yang sedikit misteri, pasti ingat juga dengan ketawanya Mak Lampir dalam Misteri Gunung Merapi. Saking antagonisnya itu tokoh, sekarang kalau ada wanita yang dianggap jahat tidak jarang di beri julukan Mak Lampir.. He he he.

Tapi bagiku, Mak Lampir masih kalah serem dengan Sandiwara Radio berbahasa Jawa. Mungkin yang tinggal di sekitar Jawa Tengah atau Jawa Timur masih ingat cerita Trinil. Cerita tentang kehidupan seorang janda dan anak gadisnya, Trinil. Berlatar belakang persaingan asmara, cinta seorang pemuda Bagus Sujiwo, akhirnya Trinil membunuh ibunya. Dia memisahkan kepala dan badan ibunya. Kepalanya dibuang di sungai dan badannya di tanam. Kata-kata “Trinilllllll, balekno gembungku ( Trinil pulangkan badanku) ” adalah kata-kata yang ditunggu-tunggu, tapi selalu membuat bulu kuduk merinding puoolll. Kuping ditutup, tapi tetap pengen tahu ceritanya… He he he…

Radio.. Oh Radio, masih banyak lagi kenangan yang kulalui bersamamu. Kenangan yang indah, sedih, lucu, serem.. Pokoknya Nano nano deh.. Lain kali disambung lagi ceritanya…

Salam Kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 11 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 18 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 19 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: