Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gilang Rahmawati

"Bi Ijaaaaahhhhhh...." teriak Nyonyah. (GeeR)

Si Kembar Pengantin

REP | 07 March 2013 | 07:50 Dibaca: 2046   Komentar: 37   6

Beruntungnya orang tua saya, karena mendapatkan anak kembar. Karena, kalau diurut dan dilihat, keluarga ibu atau bapak saya tidak ada yang memiliki keturunan kembar. Dugaan memiliki anak kembar ini sudah dilihat saat usia kandungan ibu lima bulan. Ibu saya pernah bercerita, katanya ia mengetahui kalau isi di dalam perutnya adalah anak kembar bukan dari USG tetapi dari sebutir telur.

Jadi ceritanya, waktu itu ibu saya pergi untuk pijat rutin di salah satu tukang pijat langganan. Beberapa hari sebelum waktunya pijat, bapak saya sudah diminta membawa sebutir telur. Usut punya usut, ternyata tukang pijat ini adalah salah satu ‘orang pintar’. Telur yang sudah dibawa oleh bapak tadi, entah diapakan oleh si tukang pijat yang kemudian dipecahkan di piring kecil. Ia pun mulai menerawang kalau isi didalam perut ibu saya ini adalah anak kembar.

Saat itu bapak sama ibu masih tidak percaya, ya namanya ramalan kadang benar dan kadang juga bisa salah. Tetapi, siapa yang mengira ternyata ramalan itu bisa menjadi nyata. Di akhir Juni tahun 1990, lahir lah dua bayi mungil berbeda jenis kelamin di sebuah rumah sakit. Anak kembar ini bukan anak kembar identik, sebab mereka berbeda jenis kelamin. Kalau kata orang Jawa bilangnya: ‘Kembar pengantin’ karena perempuan dan laki-laki. Tapi sayangnya dua bayi ini harus di inkubator, terlebih bayi perempuan karena beratnya terlalu ‘ringan’.

Uniknya adalah saat kedua bayi kembar ini meminta ASI (Air Susu Ibu) adalah waktu yang paling merepotkan buat seorang ibu. Bayangkan saja, kedua bayi ini meminta susu diwaktu yang bersamaan. Satu bayi saja saat diberi ASI repotnya minta ampun apalagi kalau dua. Alhasil, dengan sabar ibu menggendong keduanya lalu memberi asi. Yang bayi perempuan digendong sebelah kanan, yang laki-laki digendong sebelah kiri.

Menjadi anak kembar selalu memiliki barang yang sama. Tidak mau kalah dengan kembar identik, saya dan kembaran saya juga punya barang yang sama. Jika kembar identik punya barang dengan bentuk yang sama, maka kalau kami hanya memiliki barang yang warnanya sama. Terlebih untuk pakaian, karena saya perempuan tentu saja saya dibelikan baju perempuan. Perbedaan jenis kelamin ini meninggalkan kisah lucu bagi ibu.

Saat itu saya dan kembaran saya tengah dimandikan, kalau tidak salah kami sudah masuk bangku TK. Waktu mandi dengan polosnya saya bertanya:

“Bu, kenapa aku pipisnya duduk ya? Kalau mas galang malah berdiri”

Ibu yang mendengar pertanyaan saya terdiam, diam karena bingung dan tertawa geli. Perbedaan ini pun membuat kembaran saya heran dan ikut bertanya pada ibu:

“Ibu..kenapa de gilang pakai anting di telinga? Kok aku engga?”

Ah, saya ingat betul. Waktu saya kecil dulu, saya dan kembaran saya menjadi cucu kesayangan. Sebab kami beda dari cucu-cucu nenek yang lain. Perbedaan ini terasa saat saya berlibur ke Yogyakarta waktu kecil dulu. Kami menjadi pusat perhatian buat nenek, kakek, serta om dan tante. Kembar membawa berkah, karena setiap pergi kerumah sanak saudara kami mendapatkan barang baru.Yang spesial saat nenek saya memberikan kami berdua sebuah kalung. Mata kalung ini bukan emas atau berlian tetapi sebuah boneka kecil. Kalung saya bermatakan boneka perempuan, dan kembaran saya boneka laki-laki.

Lahir di Indonesia tentu tidak lepas dari yang namanya mitos. Nah, anak kembar pengantin ini juga ada mitosnya. Katanya, kalau ari-ari bayi anak kembar pengantin ditanam bersebelahan maka saat dewasa nanti mereka akan menjadi sepasang suami istri. Mitos ini membuat saya panik, saya pun bertanya pada ibu tentang meletakkan ari-ari bayi kami dulu. Dan saya mendapat jawaban: “ya sebelahan to, masa jauh-jauhan”. Berhubung saat itu saya masih SMP, jadi saat mendapati jawaban itu muka saya menjadi pucat.

Mitos ari-ari bayi tersebut didukung oleh mitos lainnya, yang katanya kalau sejak kecil tidak dipisahkan (yang satu di kota asal, yang satu dipindahkan ke kota lain) maka kelak akan menjadi pasangan suami istri. Semakin pucat pasilah muka saya mendapati mitos ini, saya pun langsung membayangkan jika saya berumah tangga dengan kembaran saya. Oh tidak! Semakin beranjak besar, saya pun bisa dengan tegas mengatakan mitos itu tidak benar.

Saat ini usia kami pun juga kembar yaitu 22 tahun. Umur ini sudah bisa menggambarkan banyaknya peristiwa menarik menjadi anak kembar. Beberapa teman yang baru saya kenal saat saya bercerita tentang kembaran saya pasti banyak yang tidak percaya. Tapi, ada juga yang merasa senang punya teman yang ternyata kembar pengantin.

“Wah kakak kembar ya? Ih aku iri, aku juga mauuu nanti punya anak kembar, apalagi kembar pengantin” celetuk teman saya.

Hal yang paling menyebalkan menjadi anak kembar menurut pengalaman saya adalah waktu sekolah. Kalau waktu menyusui kami berbagi ASI, dan ternyata waktu sekolah kami pun masih berbagi. Karena ibu tidak sanggup membelikan keduanya buku pelajaran, maka ibu pun menyuruh salah satu dari kami untuk mengalah. Dan saya menjadi korbannya karena saya adik, saya lebih banyak menyimpan buku hasil fotocopi.

“Bu..ada buku pelajaran baru yang harus dibeli” ucapku.

“Oh ya? Ya udah nanti kita beli” jawab ibu.

Saat itu muka saya sumringah mendengar kata membeli, tapi mendadak berubah menjadi kecut.

“Ini galang bukunya, kamu gilang nanti fotocopi aja ya!” pinta ibu.

Berhubung kembaran saya ini laki-laki, maka selama perjalanan beranjak ke usia 22 tahun saya lebih banyak bertingkah seperti laki-laki. Karena sifat inilah, saya sedikit irit soal kaos. Terlebih saat masa sekolah, saya lebih sering pinjem kaos kembaran saya untuk dipakai keluar rumah. Tidak beda jauh dengan kembar identik, saya juga bisa tukaran baju. Haha..

Ada salah seorang teman baru saya yang belum bertemu dengan saya mengatakan:

“Wah, kalau ketemu nanti aku bisa ketukar dong dengan kembaranmu”

Nah, kalau kembar identik sih resikonya ya bakal ketukar. Kalau kembar pengantin sampai bisa ketukar itu sih tidak mungkin. Jangan salah! Si kembar pengantin ini juga pernah berandai-andai. Terlebih saat keduanya berantem hebat, saya langsung berandai-andai kalau kembaran saya ini adalah perempuan. Pasti berantemnya gak pakai fisik, dan saat ada masalah di luar rumah bisa saling curhat.

Perjuangan dan kesabaran orang tua yang menyekolahkan anak kembarnya dengan waktu yang bersamaan akhirnya terbayarkan karena keduanya telah menjadi sarjana. Dari semasa TK hingga SMP, saya dan kembaran saya selalu disekolahkan di satu sekolah yang sama dengan alasan ibu tidak mau repot saat mengambil rapot. Astaga!

Oia, lagi-lagi katanya, banyak yang bilang anak kembar itu bisa saling merasa alias telepati. Saya punya pengalaman soal ini. Saat itu saya tengah terbaring sakit di rumah, sedangkan kembaran saya sehat walafiat di sekolah. Tapi, saat pulang sekolah mendadak kembaran saya ikut sakit juga. Ini bukan karena penyakit yang menular, sebab kejadian ini sering terjadi saat salah satu dari kami sakit pasti besoknya ada yang nyusul sakit. Pengalaman terakhir saat saya kuliah, karena kondisi badan yang tidak fit dan dipaksakan berangkat ke kampus akhirnya saya dilarikan ke rumah sakit. Selang dua minggu saya keluar rumah sakit, kembaran saya juga masuk rumah sakit dengan sakit yang berbeda. Alhasil, dalam satu tahun orang tua mengeluarkan dua kali biaya tak terduga karena rumah sakit.

Berhubung saya adalah anak kembar, banyak yang bilang kalau nanti diantara kami pasti punya keturunan anak kembar juga. Wow! Kalau omongan-omongan ini benar, saya berharap kalau sayalah yang punya keturunan bukan kembaran saya. Haha.. Tapi, saya harus punya banyak uang dulu karena punya anak kembar resikonya keluarin dana yang double.

****

Perkenalkan:

Galang Rahmadani dan Gilang Rahmawati

1362576508178426818

Si Kembar Pengantin Waktu Kecil (Foto: Dok. Pribadi GeeR)

1362577040632056710

(Dua Puluh Dua (Foto: Dok. Pribadi GeeR)

**

Yogyakarta,  Maret 2013.

GeeR.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 14 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 17 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Jokowi …

Jamaluddin Mohammad | 10 jam lalu

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 15 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 15 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 15 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: