Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Bolehkah Mengirim Surat Lamaran Kerja Lewat Email?

OPINI | 07 March 2013 | 23:06 Dibaca: 1078   Komentar: 0   4

Bagaimana pengalaman Kompasianer melamar pekerjaan? Mulai dari mencari informasi, menulis surat lamaran dan melengkapi dengan berkas yang dibutuhkan (CV dan kopian dari sertifikat dan ijazah), mengirim hingga tes dan wawancara.

Di Indonesia, saya masih menggunakan kertas tapi sejak di Jerman ini, saya jadi mengerti bahwa melamar lewat email diperbolehkan dan diperhatikan. Ada buktinya, mujarab pula.

Berikut pengalaman saya ….

***

Pertama kali pindah ke Jerman, saya heran, seorang kenalan baru saja menceritakan bahwa dia baru saja diterima kerja di salah satu badan PBB di Köln. Waaaa … hebat.

Saya tanya resepnya. Biasa saja, bahkan ia mengatakan mengirim surat lamaran hanya lewat email. Sudah begitu bahasa Inggris dan gaya bahasanya agak celelekan (red: bercanda).

Wow. Diterima kerja setelah melamar lewat email? Bisa dan boleh, tho?

Akhir Desember 2011, saya mencoba jadi inventur di sebuah swalayan. Coba-coba, pengangguran tersamar, bekerja tapi tidak pada talentanya. Satu jam 7 euro, seharian.

Februari Tahun 2012. Ketika anak ragil sudah bisa melepas tangannya dari ujung rok saya, saya mulai mencari pekerjaan yang saya inginkan. Sebuah lamaran lewat email saya kirim kepada pemilik bimbel di kota TREN. Memang bimbel itu memasang iklan di sebuah koran. Mereka tidak menganjurkan mengirim lamaran lewat email tetapi alamat email itu terbaca oleh saya dan melahirkan ide … kirim lewat internet saja, ah, daripada datang sendiri.

Tak disangka, malamnya saya langsung ditelpon, sayang kami sedang bepergian. Begitu melihat display telepon, ada mailbox. Tercatat sebuah nomor asing disana. Sebuah email balasan ditulis bapak itu dan mengatakan ingin bertemu untuk wawancara dan berharap mendapat kopian dari attachment files yang saya kirim bersama email.

Satu hari setelah wawancara (yang lebih saya katakan sebagai obrolan santai ngalor-ngidul) dan menandatangani perjanjian, saya langsung mengajar tiga orang murid kelas 10 Realschule. Haduhh, belajar lagi … buka-buka buku.

***

Pengalaman kedua adalah minggu ini. Hari Senin, saya mampir ke arisan ibu-ibu Indonesia (mbak Cici, mbak Kristin dan mbak Anik). Saya sebut begitu karena mereka berkumpul, duduk-duduk dan minum-makan kecil, layaknya arisan di tanah air. Hahaha … jangan dilempar tas ya, mbak? Saya tidak punya duit.

Disana, saya bercerita kepada mereka bahwa saya baru saja mengirim surat lamaran ke sebuah bimbel di kota TUN. Sudah dijawab oleh kantor pusat dan tertulis, akan ada petugas yang menghubungi. Mereka senang bahwa saya mencari pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman, pendidikan, bakat dan minat.

Tak disangka, hari Selasa, saya ditelpon dari bimbel kota S, yang ternyata cabang dari bimbel kota TUN. Katanya, jarak rumah dengan kota S lebih dekat ketimbang kota TUN meski sebenarnya bagi saya sama saja, 15 menit. Wanita itu mengabarkan bahwa ia ingin bertemu dengan saya untuk wawancara. Berkas-berkas harap dibawa.

Ya. Bimbel SH yang memiliki cabang di seluruh Jerman itu memang memiliki sebuah website. Disana, bimbel yang terakreditasi bagus itu, mengumumkan lowongan bagi siapa saja yang berminat menjadi guru bimbel SH. Kolom itu saya isi, lengkap dengan data saya. Itulah mengapa mereka mengirim email kepada saya sebagai balasan atas lamaran saya via on line itu. Iya … ya … jaman modern. Kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit ?

Begitu wawancara, kami langsung berunding soal honor. Walahhh … hanya 16,50 euro untuk 90 menit. Sedangkan 1 jam dihargai 11 euro. Sedikit sekali. Padahal di bimbel pertama, saya mendapat 16 euro untuk 60 menit dan 45 menitnya saja sudah 12 euro. Mana kelasnya lebih kecil, lebih fokus.

Kalau dipikir-pikir … tarif normal bekerja di Jerman biasanya 7-10 euro/jam memang. Ini sudah bagus??? Ya, sudahlah.

Kata si wanita, itu sudah top karena yang lain hanya dapat 8-9 euro lantaran mereka tidak memiliki akta mengajar dan pendidikan khusus guru hingga S2. Untung sudah saya terjemahkan dan ditandangani kedutaan besar Jerman di Jakarta.

Saya pulang. Setengah jam kemudian, si ibu dari bimbel SH menelpon saya. Ia panik. Guru bimbel bahasa Inggris yang seharusnya mengajar, perutnya sakit. Padahal 3 murid kelas 7 sudah ada disana. Menunggu.

Perempuan berambut blonde cepak itu memohon agar saya datang untuk mengajar. Walah, cepat sekali prosesnya, ya ? Baru saja pulang dari wawancara, belum juga menaruh pantat, langsung disuruh kerja. Mana melamarnya juga dari internet/email. Wihhh. Blitz, blitz, blitz.

Tipsnya: saya menulis lamaran singkat, jelas dengan bahasa baku/formal layaknya lamaran lewat pos hanya beda mengirimnya lewat email/internet, menggunakan domain gratisan yang banyak dikenal orang (gmail, yahoo, hotmail), alamat email dengan nama yang bagus atau lebih enak dengan nama sendiri misalnya Gaganawati@gmail.com bukan Ganamanissekali@gmail.com. Lalu berkasnya (ijazah dan nilai telah diterjemahkan dan ditandatangani kedutaan besar Jerman di Jakarta oleh penterjemah tersumpah), sertifikat ini itu yang mendukung pekerjaan, surat pengalaman kerja dari kantor terdahulu-dalam bahasa Inggris … saya scan dan simpan dengan jpeg ukuran kecil, masing-masing file saya beri judul sesuai isinya (misalnya university_sertificate, letter of confirmation_PTXY, letter of resignment_XYUniversity dan seterusnya). Saya sengaja tidak melampirkan foto diri saya, karena di Jerman, ada anjuran untuk tidak mengirimkannya demi memberikan kesempatan yang sama untuk dipanggil tanpa melihat wajahnya cakep atau tidak. Tidak boleh diskriminasi sebelum waktunya.

***

Yak. Siapa bilang mengirim lamaran tidak bisa atau tidak boleh lewat dunia maya ? Memang masih banyak orang lebih percaya dan nyaman melamar lewat pos. Jaman semakin canggih. Melamar lewat email? Tak hanya janji, ada bukti.

Selamat mencoba melamar pekerjaan lewat internet (on line/email). Sukses. (G76).

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 12 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: